Prosa Lirik: Sekawanan Gembala-Domba Karya Yance Dou

Para gembala pelayan umat demi keagungan nama-Nya. Foto ilustrasi: dok pribadi

Gembala yang Berani Mati

“Melangkahi mayatku sebelum menyentuh dombaku.” Ini bukan sekadar orasi, melainkan sumpah. Gembala sejati tak bersolek di atas mimbar; ia menembus belantara, mendoakan yang diburu dan melayani yang terlupakan. Bagi Tuhan, keadilan tak memakai kacamata politik. Di mata-Nya, tak ada yang ‘nakal’ atau ‘terpuji’—hanya ada hamba yang menindas dan yang tertindas. Gembala sejati adalah suara moral, bukan pegawai penguasa.

Kemanusiaan Tanpa Batas Warna

Gema perlawanan melintasi samudra rasa. Ia mengetuk nurani manusia dari Manado hingga Jawa. Perjuangan ini bukan soal warna kulit atau tekstur rambut; ini adalah tentang kemanusiaan. Ketika kebenaran disuarakan, sekutumu lahir di mana-mana, meruntuhkan sekat rasial yang selama ini mengurung jiwa.

Keadilan di Atas Tanah Sendiri

Kaya yang dirampas, dimasak di pusat, menyisakan remah bagi empunya tanah. Bahkan remah itu pun dikorek oleh elite lokal yang lupa darahnya. Papua tak butuh belas kasihan pembagunan; Papua menuntut keadilan. Bebas berarti menjadi tuan di tanah sendiri, bukan sekadar berganti tuan.

Menolak Penjajahan Baru

Belajarlah dari sejarah agar tak terjebak dalam perang suku. Merdeka yang sejati adalah milik 250 suku, bukan panggung bagi satu suku untuk menguasai yang lain. Persatuan adalah perisai—seperti keberagaman yang melebur menjadi satu nama, satu jiwa. Lakukan bagianmu: melalui tulisan, doa, maupun aksi.

Rakyat adalah Barisan Suara

Di lingkaran sunyi itu, rakyat berdiri. Mereka bukan tentara, melainkan petani, guru, dan pemuda. Namun, di tangan merekalah orasi berubah menjadi gerakan. Kebenaran ibarat air; makin ditutup, makin ia mencari celah. Membungkam satu suara hanya akan melahirkan seribu kebenaran baru.

Bangkit Bersama

Bangkitlah tanpa dendam, melainkan dengan ilmu, doa, dan nurani. Gembala telah membuka jalan, kini giliran bangsa yang melangkah. Merdeka bukanlah hadiah, melainkan buah manis dari keringat, air mata, dan iman yang teguh. Gembala tak akan lari ketika serigala datang.

Bebaskanlah Jiwa yang Terbelenggu

Di balik kaku dan dinginnya aturan yang kerap membelenggu jiwa, ada satu panggilan agung yang tak boleh padam: panggilan untuk mencintai dan menyelamatkan sesama. Hukum Ilahi yang sejati tidak pernah diciptakan untuk memenjarakan kebaikan, melainkan untuk memberi kehidupan dan mengangkat mereka yang terpinggirkan.

Misi Kemanusiaan

Mengusung misi kemanusiaan adalah panggilan setiap kita yang mengaku sebagai keluarga Allah, ciptaan-Nya.  Namun, kita sering kali tergoda untuk memilih kenyamanan yang semu —berdiam diri saat kebenaran dibungkam dan berpaling ketika sesama membutuhkan uluran tangan. Padahal, kebenaran bukan sekadar keyakinan di dalam hati, melainkan tindakan nyata yang berani menembus rasa takut dan menanggung risiko. Dalam kemurnian dan keberanian itulah, martabat hidup kita yang sejati terpancar.

Sikap Tak Kompromi

Langkah ini mungkin tidak pernah mudah. Ketidakpedulian dunia sering kali mencoba memadamkan api kasih yang ada di dalam diri kita. Namun, Daya Ilahi tidak pernah berhenti menuntun dan menguatkan jemari kita untuk terus melakukan hal yang benar. Sang Pencipta kita merindukan hati yang murni, yang berani bangkit melawan ketidakadilan dan menolak untuk berkompromi dengan kejahatan.

Api Semangat terus Menyala

Jangan pernah biarkan semangat kasih itu melenyap. Tetaplah teguh melangkah di jalan yang telah dirintis oleh Sang Guru Agung. Sebab setiap kali kita mengulurkan tangan dengan penuh kasih, memperjuangkan mereka yang lemah, dan berani berdiri bagi kebenaran, kita sedang menebarkan wewangian surga di dunia—menghidupkan kebaikan yang tidak hanya berkenan di hadapan Allah, tetapi juga menyalakan harapan bagi sesama.

Jayapura, 8 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.