Pantai Holtekamb Jadi Sabahat
Pagi hari, pukul 08-20 WIT, 31/8/2006
Saat diriku di Skyland menuju kantor
Mama Papua menyapa:
“Nak, kemari, minum air kelapa!”
Tanpa pikir panjang, aku hentikan mobilku
Nikmat-nikmat-nikmat!
Mama Papua, air kelapanya, sangat nikmat
Waaa, panggilan mama Papua menjadi lonceng informasi.
Handphone-ku, berdering. Lihat informasi, “Adindaku, mesin mobilku macet di Pantai Holtekamb.”
Waa, suara penuh desah,
datang dari, bung-ku yang tua, Bapak Serfulus Fanga. “Ya, dindamu siap ikuti suara panggilan. Cepat habiskan minumnya, segera ke Holtecamb.”
Itulah kata hatiku.
Segera bergegas mengendarai mobil, tak terasa lama waktunya.
Tibalah Pantai Holtecamb. Kupandang mobil tua, warnanya yang sudah pudar, walau mesin masih kuat.
“Syukur,” sahut kakandaku dengan senyum pengharapan. Raut mukanya seolah lenyap dari ketakukatan dan kesedihan. Padahal itu hanya tanda buat pudarnya kesepian.
Segera hubungi tukang bengkel mobil. Pak Chico, bergegas datang lantas tiba langsung memeriksa mobil tua, dengan mesin yang dianggap kuat. Mobil tua setua bung-ku. “Apakah itu semangat tua yang sepadan?” Tanya spontan di benakku.
“Tidak.. Tidak.. Tentu ini keterpaksaan bahwa hanya karena semangat pelayanan di ladang Tuhan”. Memang tak salah ungkapan sukma di saat lara.
Zaman sudah berubah, tetapi tidak berubah semangat kesetiaan dan pelayanan bagi bung-ku yang sudah berkarya di kebun Anggur Tuhan.
Pak Chico mencoba memeriksa mesin. Ada jawaban tetapi tak ada harapan untuk bergegas ke kantor. “Tunggu, saya harus menunggu karibku yang lagi punya alat perbaiki mesin,” ungkapnya.
Dari jam 11.00-17.00 menanti Pak Chico pembawa harapan. Tak ada harapan, bertahan demi selamatkan mobil kijang tua yang sekarat sedih. Di tengah penat menanti, ombak Pantai Holtecamb adalah sahabat yang menghibur kami.
“Holtecamb!” Kau memang sahabat. Kau sudah lama menanti kami. Biarlah berdua menemani engkau. Juga, engkau memanggil berdua, tuk bersahabat di bibir pantai ini.
Ya, memang ini bukan kebetulan. Ini ungkapan kerinduanmu, sahabat Holtecamb. Rindu berjumpa lama. Inilah kami, masih menemanimu. Biarlah katakan apa kata hatimu.
Biarlah bersama terbenamnya matahari, terbenam pula gangguan mesin. Biarlah Chico, sang pembawa harapan segera tiba. Sahabat Holtecam, kami sudah tahu apa kerinduanmu. Bahwa engkau dan kami adalah satu dalam sahabat dan keluarga.
Dari, jam 09.00-17.30 ini hanya hari untukmu dan untuk kami. Engkau pun bergembira dengan keteduhan laut di pantaimu. Kami pun tenang dalam keteduhan menjemput senja. Kita bersama bersatu dalam keteduhan hidup.
Kini, kudengar beritamu! Hai sahabat Holtekamb. “Tenang-tenang dan tenang, waktuku segera tiba tuk memanggil dan menjemputmu. Kolegamu Richo telah kupanggil. Ia akan menjemputmu pulang; ia adalah sahabat harapan. Ia sudah kupanggil dan bergegas menuju ke tempat Holtecamb”.
Hai, mobil kijang tua. Kutahu harapanmu, bahwa “kini bukan masaku jalan jauh. Aku sudah tua. Aku hanya bisa jalan di dekat halaman rumah.” Kami sudah dengar. Semoga, menuruti sang waktu, ada mobil mudah akan segera tiba.
Tetapi ini sebuah harapan, di tengah kegelisahan menanti walau itu hanya menjawab kerinduan kolega Holtecamb.
Selamat datang, Bung Chico. Selamat datang mobil baru, bersama harapan baru para kolega pekerja di ladang Tuhan.
Pantai Holtecam, 31 Agustus 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










