JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Gubernur Provinsi Papua Selatan Dr Ir Apolo Safanpo, ST, MT menyebut, sebanyak 300 titik hutan dan lahan telah mengalami kebakaran di wilayah Papua Selatan per September 2026
“Untuk itu kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian pemerintah daerah karena terjadi setiap musim kemarau,” ujar Apolo Safanpo di Jayapura, Papua, Senin (7/9).
Menurut Apolo, kebakaran yang terjadi di Papua Selatan disebabkan oleh sejumlah faktor. Sebagian terjadi secara alami dan sebagian lainnya dipicu aktivitas masyarakat dalam membuka lahan untuk perkebunan.
“Meski begitu saya minta instansi terkait dapat terus memberikan sosialisasi dan edukasi yang baik bagi masyarakat,” kata Apolo, mantan Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura.
Apolo juga menjelaskan, selama ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan dan pemerintah kabupaten telah melakukan berbagai langkah pencegahan dan pengawasan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Namun, upaya tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan melalui koordinasi dan kerja sama antarpemangku kepentingan, termasuk dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan dan Lingkungan (BPHL) Jayapura,” kata Apolo lebih lanjut.
Apolo menambahkan, pihaknya berharap agar masyarakat tidak membuka hutan maupun lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
“Tetapi dapat dilakukan dengan cara-cara mekanik maupun cara-cara yang lebih ramah lingkungan,” ujar Apolo, doktor Teknik Sipil lulusan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2016.
Apolo pembukaan lahan menggunakan metode mekanis atau cara yang lebih ramah lingkungan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran.
“Kami juga terus memperkuat kerja sama dengan BPHL Jayapura untuk mengoptimalkan potensi kehutanan di Papua Selatan,” ujar Apolo. (*)










