Grime Nawa: Hanya Untaian Kata-kata

Helga Maria Udam, penulis buku Grime Nawa: Menjaga Warisan, Menghadapi Perubahan, Merancang Masa Depan. Foto: Istimewa

Oleh Helga Maria Udam
Penulis buku Grime Nawa: Menjaga Warisan, Menghadapi Perubahan, Merancang Masa Depan

SAYA telah menerbitkan buku Grime Nawa: Menjaga Warisan, Menghadapi Perubahan, Merancang Masa Depan. Ia ditulis oleh seorang anak kampung yang tidak pernah bercita-cita menjadi penulis, dan isinya lahir bukan dari membaca, melainkan dari menjalani. Lewat catatan pendek ini, izinkan saya menuturkan dari mana buku itu datang.

Ada satu baris di halaman persembahan yang lahir paling awal, jauh sebelum bab pertama saya kerjakan: hanya untaian kata-kata inilah yang saya persembahkan.

Baris itu saya tulis dengan tangan yang ragu. Saya tidak punya tanah untuk dibagikan, tidak punya uang, dan tentu saja tidak punya kursi kekuasaan. Yang ada pada saya hanya kemampuan menyusun kalimat. Yang sedikit itulah yang saya letakkan di kaki para tua-tua kampung, seperti orang kampung meletakkan seikat sayur di depan pintu rumah besar.

Persembahan itu kecil. Tetapi saya tidak sanggup datang dengan tangan kosong.

Saya dilahirkan di Kampung Suwen dan dibesarkan di Kampung Sawoy, Distrik Kemtuk Gresi. Pada 2014 saya meninggalkan lembah itu sebagai prajurit. Sesudah itu saya bertugas di Surabaya, lalu di Jakarta, dan satu penugasan membawa saya keluar dari Indonesia. Pada September 2024 saya pulang bertugas ke Papua. Buku ini selesai pada hari Natal tahun itu, di tanah yang melahirkan saya.

Saya sadar kedudukan saya tidak biasa. Saya mengabdi kepada negara dengan seragam, dan saya anak adat dari Lembah Grime. Saya pergi cukup jauh untuk melihat kampung ini dari luar, dan tetap cukup dekat untuk tahu bahwa yang saya lihat adalah rumah sendiri. Sebagian orang mengira dua hal itu saling menarik ke arah berlawanan. Bagi saya keduanya bertemu di satu titik: keinginan supaya hidup orang di kampung saya tidak lagi ditentukan orang lain.

Sekembalinya ke kampung, saya menemukan dua kenyataan berdampingan. Yang pertama membuat saya bangga. Masyarakat kita sudah tertata rapi oleh hukumnya sendiri, jauh sebelum ada kantor, meja, dan stempel. Yang kedua membuat saya sukar memejamkan mata. Tatanan itu luntur lebih cepat daripada yang kita sadari. Anak-anak kita mulai kehilangan nama tempat dalam bahasa sendiri. Padahal bangsa yang lupa menyebut namanya akan gampang dipanggil dengan nama pemberian orang lain.

Kehilangan tidak pernah menunggu kita siap.

Dari kegelisahan itu datang dua pertanyaan yang tidak pernah tuntas saya jawab. Apakah orang Grime Nawa sedang hidup bahagia, dan apakah mereka akan hidup bahagia? Kalau belum, apa yang harus kita kerjakan supaya sampai ke sana?

Di sanalah lahir gagasan pokok buku ini, yang saya namai Grime Nawa Bahagia. Bahagia di sini tidak berarti hidup tanpa susah. Orang kampung terlalu akrab dengan susah untuk percaya pada janji semacam itu. Yang saya maksud lebih sederhana: orang Grime Nawa merasa cukup, damai, dan sejahtera di atas negeri warisan leluhurnya sendiri. Ukurannya bukan berapa banyak yang kita terima dari luar. Ukurannya adalah seberapa besar kita masih memegang kemudi atas hidup kita sendiri.

Semua itu bertolak dari keyakinan tua yang kita warisi. Tuhan, leluhur, manusia, dan alam terikat dalam satu tarikan napas yang sama. Orang tua-tua kita tidak pernah memakai istilah muluk untuk itu. Mereka cukup menunjukkannya lewat cara memperlakukan tanah. Tanah tidak pernah kami ukur dengan meter. Tidak pernah pula kami takar dengan rupiah. Kami menyebutnya ibu. Dialah yang menyusui kami, dan dialah yang kelak menerima kembali tubuh kami.

Kepada seorang ibu, orang tidak pernah menawar harga. Di situlah letak salah paham yang paling mahal: ganti rugi sebesar apa pun tidak pernah terasa adil, karena yang dihitung uang dan yang hilang ibu.

Delapan bab buku ini saya susun dengan sadar. Saya mulai dari yang paling dalam: hubungan kita dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Lalu kepemimpinan adat, dengan Ondoafi sebagai pusatnya. Lalu nilai-nilai luhur yang membentuk watak kita. Sesudah itu barulah ruang yang lebih keras: pendidikan, ekonomi, politik, pemekaran Kabupaten Grime Nawa, dan strategi menghadapi masa depan.

Urutan itu bukan kebetulan. Kalau kita bicara uang sebelum bicara siapa kita, yang bertambah hanya angka, sementara manusianya diam-diam menyusut. Pendidikan saya tempatkan sebagai pintu pertama. Ia satu-satunya warisan yang tidak bisa dirampas siapa pun dari seorang anak. Ekonomi menyusul, bukan supaya kita kaya, tetapi supaya kita berhenti meminta. Politik datang belakangan. Kursi hanya berguna di tangan orang yang tahu untuk siapa ia duduk di sana.

Saya tidak berpura-pura buku ini lengkap. Ia tidak mengulas segala hal, dan pada beberapa bagian ia jelas subjektif. Saya menuliskannya bukan supaya orang setuju, tetapi supaya ada yang bisa dibantah, ditambah, dan diperbaiki.

Di dalam bab-bab itu saya berusaha tidak sekadar menunjuk ke luar. Tekanan dari luar memang nyata. Perusahaan berdatangan. Hutan menyusut. Tanah ulayat berpindah tangan lewat kertas yang dibubuhi cap jempol oleh orang yang tidak sanggup membacanya. Tetapi ada juga luka yang tumbuh dari dalam. Bantuan yang terus mengalir, yang niat awalnya menolong, pelan-pelan membuat kita malas dan tetap miskin.

Kita jadi terbiasa menunggu. Dan orang yang terbiasa menunggu akan selalu tiba paling belakang.

Satu bagian buku ini saya tulis dengan dada sesak, dan saya menulisnya sebagai perempuan. Garis keturunan kita patrilineal. Akibatnya perempuan sering berdiri di tepi ketika keputusan penting diambil. Padahal mama-mama kitalah yang paling dahulu tahu ketika kebun gagal, ketika anak berhenti sekolah, ketika tungku kehilangan api. Ketika menulis bagian itu, yang terbayang adalah mereka pulang dari kebun menjelang gelap, dengan noken penuh di kepala.

Mereka menanggung paling banyak, tetapi paling jarang ditanya. Buku ini adalah cara saya bertanya kepada mereka.

Karena itu buku ini mendesakkan sekolah bagi anak perempuan, ruang usaha bagi mama-mama, dan kaderisasi politik bagi perempuan Grime Nawa, dari DPRD kabupaten sampai MRP. Bukan supaya ada nama perempuan di daftar peserta, tetapi supaya ada suara perempuan pada saat palu diketuk.

Pemekaran Kabupaten Grime Nawa saya uraikan apa adanya. Studi kelayakannya diseminarkan sejak Januari 2007. Hampir dua dasawarsa berlalu, dan kabupaten itu belum juga lahir. Sebagian sebabnya memang ada di Jakarta. Tetapi barisan kita sendiri juga berjalan terpisah-pisah, dan tenaga kita habis untuk saling mendahului.

Semangat tanpa kelengkapan berkas tidak akan pernah sampai ke Jakarta. Berkas tanpa persatuan tidak akan bertahan di tengah jalan.

Lalu haruskah kita menjaga warisan atau menerima perubahan? Menurut saya keduanya tidak pernah berhadapan. Warisan tidak dirawat dengan menguncinya di dalam peti. Ia dirawat dengan dipakai, seperti parang yang diasah lalu dibawa ke kebun. Kita boleh menyekolahkan anak setinggi langit tanpa menjadikannya asing di kampung sendiri. Itulah manusia Grime Nawa sejati: orang yang berakar sekaligus berjalan, yang tahu dari mana ia datang sehingga tidak mudah tersesat ke mana pun ia pergi.

Bagi saya, Orya, Namblong, Klesi, Kemtuk, dan Elseng bukan deretan nama di catatan kaki. Mereka keluarga saya, orang-orang yang berpijak pada tanah yang sama dan menyebut leluhur yang sama. Nama-nama itu tidak saya kutip. Saya menyandangnya. Kepentingan mereka tidak cukup dijaga dengan tinta. Perlindungan harus terasa sampai ke tungku dapur.

Ke mana Grime Nawa melangkah bukanlah keputusan saya. Itu juga bukan keputusan seorang Ondoafi, seorang pejabat, atau seorang penulis. Keputusan itu ada pada orang Grime Nawa sendiri. Yang bisa saya kerjakan hanya satu: memastikan bahwa ketika keputusan itu diambil, kita mengambilnya dengan mata terbuka.

Kepada anak-anak muda Grime Nawa, satu hal saya titipkan, dan hal itu terpahat juga di halaman depan buku ini. Langkah pertama adalah awal keberanian, langkah terakhir adalah bukti keteguhan. Saya sendiri pernah gagal pada percobaan pertama. Yang mengubah hidup saya bukan kegagalan itu, tetapi langkah yang tetap saya ambil sesudahnya.

Karena itu, jangan berhenti di tengah jalan. Perjuangan kita jarang mati karena dikalahkan. Ia mati karena ditinggalkan. Dan jangan terima siapa pun, termasuk saya, sebagai penafsir tunggal masa depan kalian.

Buku ini tidak membawa anggaran, kabupaten baru, atau jalan beraspal sampai ke kampung. Yang ditawarkannya hanya: kesadaran tentang siapa kita dahulu, di mana kita berdiri hari ini, dan ke mana kaki kita melangkah. Dari kesadaran itu persatuan akan tumbuh. Dan dari persatuan itu, yang selama ini terasa mustahil menjadi mungkin.

Buku ini berakhir di halaman terakhirnya. Perjalanan kita masih jauh dari selesai.

Untuk perjalanan yang panjang itu saya hanya membawa seikat kata-kata. Saya tahu itu kecil. Tetapi kepada tanah yang membesarkan saya, saya tidak sanggup datang dengan tangan kosong.