Apa Ada Angin di Jakarta
Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari
Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya
Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati
Sumber: Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya, oleh Emha Ainun Nadjib, 1983
Di Sebuah Gereja Gunung
lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya
di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah
mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala
dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah
bukit dan padang-padang sepi
hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan, telah terpanggil
dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia
dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa
panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
— berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan
— bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketentraman
— di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini
— pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka
keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu
juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi
jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto
tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi
tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang sama
mentari dan bulan yang bersinar di mana pun —
dan tuhan mendengar seru doa mereka
Sumber: Suara Pancaran Sastra: Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Jakarta, 1984
Doa
sunyi
bekerjalah
kau
bagi
nyawaku
risau
sunyi bekerjalah
kau bagi
nyawaku risau
sunyi bekerjalah kau
bagi nyawaku risau
sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau
risau nyawaku bagi kau bekerjalah
sunyi
risau nyawaku bagi
kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku
bagi kau
bekerjalah sunyi
risau
nyawaku
bagi
kau
bekerjalah
sunyi
Kauku
Sumber: Dunia Puisi Umbu Landu Paranggi dalam Semangat, 1978
Ibunda Tercinta
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya
1965
Sumber: Tonggak 3, Gramedia, Jakarta, 1987
Sabana
memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang
sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda
sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu
lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala
Sumber: Suara Pancaran Sastra, Yayasan Arus, 1984
Umbu Landu Paranggi lahir 10 Agustus 1943 di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Masuk Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sumba lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta. Umum lalu kuliah di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta hingga tahun 1965.
Umbu mulai menulis saat duduk di bangku SMP di Sumba. Tahun 1960 karya perdananya dimuat dalam Rubrik ‘Fajar Menyingsing’ Majalah Mimbar Indonesia. Ia setia meningkatkan diri sehingga puisinya akhirnya diterbitkan dalam “Ruang Budaya” tahun 1962.
Sajak-sajaknya dimuat dalam Mimbar Indonesia, Gajah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Gelanggang, dan Pelopor, Yogya. Kumpulan sajaknya yang pertama adalah Melodia kurun waktu tahun 1962-1967 namun belum terbit.
Tahun 1968 bersama Darmanto Jt dan Abdul Hadi WM, puisi Umbu terbut Paranggi hadir dalam antologi Manifes yang diterbitkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia.
Setelah dari Fisip UGM tahun 1965, Umbu menganggur total. Tak lama ia menjadi redaktur mingguan Pelopor Yogya. Tiras media membengkak karena Umbu menampilkan pawai puisi satu halaman setiap kali terbit.
Umbu dijuluki “Presiden Malioboro” karena aktivitasnya dalam berkesenian, khususnya sastra. Di Malioboro ia bersama penyair dan penulis sering bertemu, berkumpul, dan berbincang-bincang soal kebudayaan.
Selain julukan “Presiden Malioboro” Umbu juga mengasuh “Persada Studi Klub (PSK)” yang didirikan pada 5 Maret 1969. Tujuan PSK menyalurkan bakat dan minat kalangan muda yang tertarik pada kesenian, khususnya sastra.
Melalui PSK ia berperan membesarkan beberapa sastrawan yang juga “murid”-nya seperti Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Suwarna Pragolapati, Joko S. Passandaran, dan Arwan Tuti Artha.
Tahun 1975 Umbu tinggalkan Yogyakarta lalu bermukim di Denpasar, Bali. Di Denpasar ia menjadi redaktur Bali Post dengan mengasuh ruang remaja “Pos Remaja” dan ruang kebudayaan “Pos Budaya”. Ia juga membimbing generasi muda penulis seperti Wayan Jengki Sunarta, Warih Wiratsana, Putu Fajar Arcana, Cokorda Sawitri, Oka Rusmini, dan lain-lain.
Umbu meninggal 6 April 2021 di Sanur, Bali akibat Covid-19. Sebelum dimakamkan secara permanen di tanah kelahirannya, Sumba, jenazahnya dimakamkan sementara di Taman Pemakaman Kristen Mumbul, Kabupaten Badung pada Senin, 12 April 2021, setelah diantarkan ke ruang sunyi melalui liturgi peribadatan Kristiani dan upacara kurukudu, sebuah ritual adat khas Sumba.










