WAENA, ODIYAIWUU.com — Peace Literacy Institute Indonesia (PLII), Sabtu (29/8) pukul 15.00 WIT menyelenggarakan diskusi bertajuk Bukan Siapa Kamu Hari Ini, Tapi Siapa Kamu Setelah Berproses di Aula Asrama Balim Yalimo, Yoka Waena, Jayapura, Papua.
Diskusi ini mengangkat tema yang menyentuh hakikat kehidupan manusia dan dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan seperti pemuda, mahasiswa, pegiat literasi serta anggota komunitas dari berbagai daerah di tanah Papua.
Tampil sebagai pembicara Edy Way, S.Sos, M.Sos, praktisi dan pengamat sosial yang lama berkecimpung dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pemberdayaan masyarakat di Papua. Diskusi dipandu moderator Kiki Calvin Kogoya.
Edy Way memulai menyajikan materi diskusi dengan sebuah pertanyaan reflektif di hadapan peserta. “Ketika Anda melihat seseorang yang berhasil, berilmu, dan dihormati apakah Anda hanya melihat hasilnya hari ini? Atau Anda juga melihat perjalanan di belakangnya?”
Menurutnya, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menilai diri sendiri maupun orang lain berdasarkan kondisi saat ini. Saat melihat seseorang hari ini mungkin ia masih muda, belum berpengetahuan luas, memiliki jabatan atau belum memiliki kekayaan bahkan masih banyak kekurangan.
“Lalu kita mengatakan, “ah, ia belum apa-apa.’ Atau kita berkata pada diri sendiri, ‘saya tidak akan bisa, saya masih terlalu lemah, saya belum apa-apa.’ Itulah kesalahan terbesar,” ujar Edy.
Menurut Edy, nilai seseorang bukan terletak pada siapa dia hari ini, melainkan pada arah perjalanannya, pada kemauannya untuk terus tumbuh, dan pada proses yang sedang ia jalani. Hari ini hanyalah satu titik dalam garis panjang kehidupan. Yang menentukan masa depan bukan titik itu namun langkah-langkah yang diambil setelahnya.
Edy menekankan bahwa proses tidak pernah mudah, dan itulah tujuannya. Proses yang sulit, penuh rintangan, kegagalan, dan penuh air mata justru itulah yang membentuk kualitas seseorang.
“Sama halnya seperti besi yang harus dibakar dan dipukul berulang kali agar menjadi pedang yang tajam, demikian pula manusia harus melalui proses pemanasan dan pemukulan kehidupan agar menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan berharga,” ujar Edy.
Edy secara khusus menitip pesan mendalam bagi para peserta yang sebagian besar adalah pemuda Papua. Ia mengingatkan, jangan pernah malu dengan keadaan hari ini. Jangan malu dengan latar belakangmu, jangan malu dengan apa yang belum kamu miliki.
“Nah, yang harus kamu takuti adalah berhenti berproses, berhenti belajar atau berhenti berusaha menjadi lebih baik. Bangsa yang besar dan bangsa yang dihormati adalah bangsa yang tidak pernah puas dengan hari ini dan selalu percaya bahwa melalui proses yang benar masa depan yang mulia pasti akan tercapai,” kata Edy.
Edy juga mengingatkan ihwal hal-hal yang kerap menggagalkan proses seseorang. Misalnya, ingin sukses tanpa belajar, ingin dihormati tanpa berbuat baik, dan ingin memimpin tanpa belajar melayani. Hal ini mustahil terjadi. Banyak orang berhenti sebelum mulai karena takut salah.
“Padahal kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Orang yang tidak pernah salah, tidak pernah belajar hal yang baru. Merasa sudah cukup atau merasa sudah tahu segalanya. Inilah tanda berakhirnya proses pertumbuhan. Bergaul dengan orang-orang yang malas, berpikir sempit, dan yang selalu meremehkan orang lain,” ujar Edy.
Setelah diskusi yang berlangsung hangat dan mendalam, moderator merangkum kesimpulan sementara seluruh rangkaian kegiatan. Bahwa kondisi saat ini bukanlah akhir. Siapa kita hari ini hanyalah titik awal, bukan titik akhir.
“Nilai seseorang ditentukan oleh arah perjalanannya, bukan posisinya saat ini. Proses adalah guru terbaik. Semua hal yang berharga membutuhkan waktu, perjuangan, dan pengorbanan,” kata Kogoya.
Kogoya menambahkan, tidak ada jalan pintas untuk menjadi pribadi yang mulia dan berilmu. Kegagalan bukanlah akhir. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Literasi adalah bagian dari proses. Membaca, menulis, dan berpikir kritis adalah cara tercepat dan terkuat untuk membentuk diri sendiri.
Sementara itu Edy meminta peserta meneruskan pesan penting kepada orang lain. Bahwa jangan pernah menghakimi diri sendiri saat ini. Jangan pula menghakimi orang lain berdasarkan situasi saat ini tetapi tataplah ke depan dan lihat prosesnya.
“Jika hari ini kamu masih kurang maka besok harus lebih baik. Jika hari ini kamu masih lemah maka teruslah berlatih. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya ‘siapa kamu di awal, melainkan siapa kamu setelah berproses’. Ini yang paling penting,” ujar Edy.
Tema diskusi yang diangkat bukanlah hal yang kebetulan. Di tengah perjalanan panjang bangsa Papua yang terus berjuang menuju kemajuan dan keadilan, seringkali terjebak pada kondisi saat ini, pada keterbatasan, keadaan yang belum ideal bahkan pada siapa kita saat ini.
Padahal, setiap manusia, setiap bangsa dibentuk bukan oleh titik keberadaannya saat ini, melainkan oleh proses yang dijalani, perjuangan yang dilalui, dan kemauan untuk terus tumbuh dan berubah. Inilah poin pemting lainnya yang mencuat dalam diskusi yang digagas tokoh muda pegiat literasi Papua Maiton Gurik dari Peace Literacy Institute Indonesia. (*)










