BANDUNG, ODIYAIWUU.com — Kisah inspiratif di bidang pendidikan khususnya kedokteran ditorehkan Stefani Yolin Israel Kambu dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat.
Stefani Kambu, gadis manis berusia 19 tahun ini, asal Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, mencatatkan prestasi membanggakan sebagai wisudawan termuda program Sarjana pada Upacara Wisuda Lulusan Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Unpad.
Prosesi wisuda diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jalan Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jumat (6/2) lalu. Steffani meraih gelar Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) Unpad dalam usia yang baru menyentuh 19 tahun 2 bulan.
“Saya mungkin bukan mahasiswa yang paling menonjol di Fakultas Kedokteran Unpad, karena dikelilingi oleh banyak teman yang sangat berprestasi,” ujar Stefani Kambu mengutip laman resmi Unpad, unpad.ac.id di Jakarta, Selasa (19/5).
Meski demikian, kata Stefani Kambu, hal tersebut justru memotivasi dirinya untuk terus berkembang dan membuktikan bahwa sebagai anak Papua pasti ia bisa,” kata Stefani di Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/2).
Sejak kelas 3 SMA, Stefani telah menargetkan Unpad, khususnya Fakultas Kedokteran sebagai kampus impian. Kesempatan kemudian datang melalui program beasiswa kedokteran kerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asmat dengan Fakultas Kedokteran Unpad.
Meski demikian, ia tetap harus mengikuti dan lolos Seleksi Mandiri Universitas Padjadjaran (SMUP) sebelum resmi diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa.
“Puji Tuhan, saya akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Unpad melalui jalur SMUP. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Asmat atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan,” kata Stefani.
Stefani mengatakan, bahwa selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Unpad, ia belajar banyak dari teman-teman dan para dosen, terutama mengenai pentingnya manajemen waktu sebagai kunci keberhasilan dalam menyelesaikan studi.
“Saya menyadari bahwa disiplin dalam mengatur waktu menjadi hal yang krusial di tengah padatnya jadwal dan tuntutan akademik,” ujar Stefani lebih lanjut.
Stefani mengisahkan, Unpad memberikan dukungan besar dalam proses pembelajaran, baik dari segi fasilitas maupun kualitas dosen. Selain itu, keterlibatan dalam organisasi dan kepanitiaan turut membentuk kemampuan kepemimpinan dan soft skills yang penting bagi calon dokter.
Stefani juga menitip pesan, untuk semua anak Papua, jangan pernah takut bermimpi besar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan bersama Tuhan segala tantangan pasti bisa dilewati, meski kadang harus melalui air mata.
“Ingat, orang tua, keluarga, dan orang-orang tersayang kita sudah berjuang begitu keras untuk kita, maka mari kita berjuang juga demi melihat senyum di wajah mereka,” ujar Stefani menitip pesan dari tatar Sunda, tanah Pasundan, Jawa Barat.
Sebagai sebuah perguruan tinggi yang berkualitas di Indonesia, Unpad memiliki visi membangun kampus yang unggul, infklusif dan berdampak. Inklusif bertujuan menciptakan lingkungan terbuka yang menghargai perbedaan dan memastikan hak setara dalam sosial, pendidikan, serta ekonomi.
Inklusi sendiri adalah pendekatan untuk membangun lingkungan yang terbuka untuk siapa saja dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda, meliputi karakteristik, kondisi fisik, kepribadian, status, suku, budaya, dan lain sebagainya. (*)










