TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Ketua Pengurus Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai Pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia Leonardus Tumuka, Ph.D mengatakan, yayasan yang dipimpinnya mulai mengutamakan prestasi dalam memberikan beasiswa atau bantuan pendidikan.
Menurut Leo, beasiswa tersebut diperuntukkan bagi putra-putri suku Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan seperti Suku Dani, Damal, Moni, Mee, dan Nduga yang menempuh pendidikan pada perguruan tinggi.
Jalur prestasi diakuinya menjadi penting agar dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Keberpihakan tetap ada untuk anak-anak Amungme dan Kamoro, juga lima suku kerabat dan Papua lain, tetapi sistemnya kita sudah mulai dengan kualitas dan prestasi,” ujar Leo mengutip papuatengah.antaranews.com di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa (26/5).
Para penerima beasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta ditekankan agar memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00.
YPMAK saat ini menjadi lembaga yang diharapkan untuk menyiapkan beasiswa dan bantuan pendidikan ketika putra-putri suku Amungme dan Kamoro serta lima suku kerabat yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa dan bantuan pendidikan di YPMAK yang terus meningkat.
“Kuota beasiswa saat ini sudah melebihi yang sudah diputuskan Dewan Pembina YPMAK yang hanya untuk 3.000 tetapi sekarang ini sudah lebih 4.000 penerima,” ujar Leo, doktor (Ph.D) jebolan University of The Philippine, Los Baños, Laguna Filipina tahun 2015.
Leo menegaskan, dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia yang dikelola oleh YPMAK tidak hanya digunakan untuk menangani pendidikan, namun juga untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelayanan kesehatan, serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Saat ini, kata Leo, PT Freeport Indonesia sebagai donatur tunggal YPMAK juga sedang mengalami gangguan operasional pascainsiden longsor di area tambang bawah tanah pada tanggal 8 September 2025. Situasi ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap pelaksanaan program YPMAK pada tahun 2026.
“YPMAK tidak seperti dulu lagi, di mana situasi normal semuanya berjalan bagus. Kami berharap mudah-mudahan situasi di tambang itu normal kembali dan kita mulai hitung-hitungan lagi,” ujar Leo, peraih penghargaan Best Thesis Award Universitas Katolik Soegijapranata Semarang 2011. (*)










