MEMBACA kumpulan artikel yang dibedah dari kisah tentang “Si Doel Anak Sekolahan” dengan judul Filosofi Orang Kampung oleh Harry Tjahjono, kita seakan dibawa pada kehidupan marginal yang tampak nyata di hadapan.
Buku kumpulan artikel ini dulu pernah menjadi sinetron dengan rating yang tinggi dan ditunggu oleh para pemirsa di televisi. Kisahnya merefleksikan tentang kehidupan masyarakat kelas bawah secara lugas, apa adanya tanpa memasukkan unsur manipulatif fakta.
Cerita tentang “Si Doel Anak Sekolahan” merupakan perpaduan antara intelektualitas dan keresahan sang tokoh utama di dalam sinetron tersebut. Ia juga menggambarkan sebuah keluarga Betawi yang sederhana penuh dengan beragam permasalaan namun tetap dijalani dengan kesatuan rasa yang tanpa beban dari masing-masing peran yang dibawakan para pemainnya.
Kisah kehidupan masyarakat Betawi yang menempati Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, menjadi perwakilan dari kegelisahan hidup yang terus menghantui kehidupan dari masyarakat kelas bawah. Khususnya tentang kehidupan keluarga itu ke depannya.
Dalam hal ini masyarakat dan budaya Betawi bersama keberadaan mereka yang perlahan mulai tergusur oleh era modernisasi kemajuan zaman serta magnet kota Jakarta yang memikat dengan sebutan metropolitan serta terkenal hingga ke seluruh dunia.
Setting tentang budaya Betawi beserta dialek dan latar belakang kehidupan keseharian masyarakat tersebut sesungguhnya mewakili keberadaan masyarakat yang kerap disebut sebagai kaum terpinggirkan dengan perbedaan strata kehidupan perekonomian yang kian signifikan.
Pencapaian sebuah sinetron dengan rating yang tinggi dan ditunggu oleh para pemirsanya, merupakan hiburan yang menggiring penonton pada image kebersahajaan masyarakat Betawi secara khusus dan kehidupan kemanusiaan kelas bawah secara umum.
Sinetron yang kemudian dijadikan buku dengan membedah episode per episodenya ini bisa dikatakan disusun dan ditulis dengan gaya feature yang memadukan unsur jurnalitik kedalamnya. Hal ini erat juga kaitannya karena sang penulis sendiri seorang jurnalis dan pernah menjadi pemimpin redaksi dari sebuah tabloid bernama Fantasi (Grup Ciputra), pernah berjaya sebagai bacaan anak-anak dan remaja di masanya.
Kehidupan marginal dari sebuah komunitas dengan keterbatasan sandang maupun pangan dan ragam penderitaan sosial perekonomian lainnya, saat ini makin menghimpin rakyat yang berada di dalamnya. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, biaya pendidikan yang tinggi, harga-harga kebutuhan pokok yang melonjak naik, penghasilan yang tak seberapa ditambah dengan biaya perumahan atau menyewa bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, tetap dan harus menghidupi beberapa anak, semua bersatu menjadi sebuah kompilasi yang tidak terpecahkan bagi mereka yang mengalaminya.
Era teknologi di mana digitalasi kian memasuki kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai lini dan peradaban tentang modernisasi memiliki pengaruh kuat terhadap perekonomian kehidupan kemasyarakatan khususnya di kalangan masyarakat kelas bawah.
Kehidupan tentang strata kelas bawah dan segala kompleksitasnya digambarkan dengan jelas pada sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang dituangkan ke dalam satu pola pemikiran yang jujur ke dalam tulisan yang sarat makna dan dipenuhi oleh nuansa absurditas kehidupan kemanusiaan yang berada di kelas menengah ke bawah di muka bumi tersebut.
Absurditas kehidupan itu sendiri menjadi rangkaian peristiwa dan perjalanan waktu sebelum manusia pergi bumi untuk selama-lamanya. Sang penemu istilah absurditas, filsuf Prancis Albert Camus, mengumpamakan manusia mencari makna dalam ketidakbermaknaan di dalam kehidupannya.
Absurditas muncul sebagai respon terhadap pertanyaan paling penting tentang eksistensi manusia. Eksistensi manusia sebagai rakyat jelata yang berada dalam satu konteks dengan buku berjudul Filosofi Orang Kampung mencerminkan tentang bagaimana upaya manusia untuk menemukan makna intrinsik atau sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri menjadi sebuah pendalaman dan pengertian bahwa kehidupan manusia selalu akan berakhir dengan beragam kegagalan dan ketidakmustahilan.
Hal ini disebabkan karena alam semesta pada dasarnya tidak memiliki tujuan atau makna bawaan. Albert Camus, sang tokoh absurdisme juga menggambarkan kondisi manusia sangat absurd, terbaca di dalam esainya yang terkenal berjudul ‘Mitos Sisifus’, sebuah kisah tentang mitos Yunani bertutur tentang Sisifus yang dihukum para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung dan batu itu kembali ke bawah, dan Sisifus kembali harus mendorong batu itu selamanya.
Dongeng tetang Sisifus ini merupakan metafora bagi kehidupan manusia, khususnya kehidupan rakyat jelata yang secara garis kehidupan akan tetap berada di ranah penderitaan dan kemelaratan kecuali bila ada mujizat terjadi yang berpadu dengan kreativitas dan semangat untuk bangkit.
Kisah tentang Sisifus sesungguhnya merupakan perjalanan manusia di dalam menemukan kebebasannya kembali dengan penuh makna. Dan absurditas kehidupan akan menerima ketidakpastian dan ketidakbermaknaan hidup ke satu harapan untuk melangkah menuju masa depan serta menghapus penyesalan di masa lalu.
Buku Filosofi Orang Kampung adalah gambaran dari kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah yang nyata. Derita akibat kelaparan, minimnya perekonomian dan beragam sengkarut problema kehidupan akibat kemiskinan, tak selalu diiringi dengan keluh dan air mta.
Jurang antara si kaya dan si miskin selalu ada selama manusia masih mendiami bumi. Dan perjuangan akibat dari sebuah asumsi yang memberikan makna sumir tentang derita keseharian di kehidupan itu sendiri, tidak selalu direfleksikan ke dalam keluh, rasa sesal dan air mata. Harry Tjahjono sang penulis yang paham benar dengan kehidupan absurd tersebut, tidak sekadar menulis skenario berdasarkan imajinasinya tanpa survei, perpaduan daya khayal dan peneltitian di lapangan serta menjalani kehidupan marginal itu sendiri, telah membuatnya paham bahwa di kehidupan humanis kemanusiaan, kehidupan itu sendiri tidak selalu berada di dalam kondisi yang baik-baik saja.
Buku yang merekam perpaduan derita dengan anekdot, dialog serta situasi budaya Betawi menjadi saksi nyata bahwa keberagaman manusia yang ada di dunia ini dapat memberikan makna dan kekuatan bahwa hidup tinggal menunggu kematian dan di tengah perjalanan menunggu kematian itu yang dimulai dari lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa lalu menua, diisi dengan beragam kegiatan/aktivitas yang dipengaruhi oleh keadaan psikosomatis, karakter serta beragam keinginan yang mengarah pada satu kompilasi pilihan kehidupan antara dua sikap, yaitu hendak berbuat baik atau buruk. Maka pilihan ada di tangan manusia itu sendiri.
Selamat membaca buku Filosofi Orang Kampung karya Mas Harry Tjahjono yang diambil dari kisah “Si Doel Anak Sekolahan”, di sana kita diajar untuk bijak menyikapi keberadaan diri sendiri selama menghadapi kehidupan di dunia ini. Salam literasi.
Fanny J Poyk
Cerpenis










