Ratapan Surga yang Dikapling
DI BATAS timur tempat matahari beranjak bangun
bukan fajar yang menyapa, melainkan debu dan kabun
Kabar burung di televisi mengeja kata sejahtera
padahal di atas tanahnya, jerit pedih tak bersuara
Papua tidak miskin, wahai tuan yang pongah
ia adalah ibu yang diperkosa hingga berdarah
Lihatlah dada Grasberg yang dibelah tanpa ampun
gunung emas dan tembaga jadi rebutan beruntun
Janji sepuluh persen saham tinggal debu yang melayang
sementara pemilik tanah hanya menatap dari balik bayang
Di Raja Ampat, laut bening kini dikepung jelaga
Pulau Gag, Pulau Kawe, dijajah para naga
Mantan menteri menjadi benteng, izin-izin diperjualbelikan
bahkan pulau diberikan pada nama siluman yang dirahasiakan
Di atas bumi yang terkoyak, geng gergaji mesin menari
delapan ratus ribu hektar hutan diserahkan pada asing tanpa henti
Wapoga Group menebang nafas, APRIL melindas ruang hidup Kombei
politisi berjas rapi menukar bisnis karbon dengan bangkai
Suku-suku tua bertelanjang kaki kini terasing di rumah sendiri
dikejar alat berat yang bergerak bagai monster tak berhati
Lalu datanglah raja-raja baru membawa bendera perkebunan
TSE Group, Korindo, hingga mega proyek bermuka kesucian
“Lumbung Pangan Nasional,” kata mereka dengan senyum culas
padahal setengah juta hektar diberikan pada keluarga yang serakah tak berbatas
Dua ribu ekskavator menggilas gambut, rawa, dan impian
empat triliun rupiah dibeli hanya untuk meratakan peradaban
Di atas penderitaan rakyat, kerajaan baru berdiri gagah
dijaga moncong senjata dan restu para pejabat yang serakah
Mereka bersembunyi di balik perusahaan cangkang dan cermin retak
menghindar dari pajak, melarikan uang saat hutan terbakar dan meledak
Hukum dijahit di Jakarta untuk melegalkan perampasan
sementara rakyat yang bertahan dicap pemberontak dalam kekerasan
Penjajahan belum usai, ia hanya berganti pakaian
dulu berbaju serdadu, kini berbatik dan berkedok pembangunan
Mereka menari gembira di atas piring emas yang dicuri
meninggalkan debu, racun, dan luka yang tak kunjung terobati
Namun ingatlah, setiap jengkal tanah yang ditetesi air mata
akan menyimpan dendam sampai waktu menagih jalannya
Jayapura, 10 September 2026
Karya Yance Dou
(Semoga para elit politik, penguasa dan pengusaha makin sadar, berubah dan bertindak adik dan bijak)
Api di Rumah Keadilan: Melawan Teror, Merawat Asa
DI TANAH tempat fajar pertama menyapa
jelagah hitam merayap di halaman rumah keadilan
Rabu pagi yang biasa, berbuah dentam ketakutan
ketika sumbu-sumbu benci dilemparkan dalam botol bensin
mencoba membakar suara-suara yang tak pernah bisa dibungkam
Ini bukan sekadar api yang membakar roda dan besi
ini adalah teror yang menghujam jantung kemanusiaan
LBH Papua diselimuti asap
kediaman sang jurnalis diguncang ledakan malam
dapur redaksi Jubi hangus diamuk benci
dan kini… benteng Komnas HAM kembali dicoba dilukai
Tahun demi tahun, bayang-bayang itu menari tanpa nama
bersembunyi di balik gelap, kebal dari sentuhan hukum
Mereka ingin kita gemetar
mereka ingin pena berhenti mengukir kebenaran
mereka ingin mata-mata pemantau terpejam ketakutan
Namun listened-lah pada detak dada tanah ini:
Keadilan tak bisa dilelehkan oleh api molotov!
Setiap percikan teror yang mereka jatuhkan
justru menyalakan obor keberanian di jiwa kita
Setiap ancaman yang dilemparkan dalam senyap
menjadi genderang yang memanggil kita untuk bersatu!
Kepada para pengawal hukum dan penegak janji negara:
dengar jeritan hak yang menuntut keadilan!
Jangan biarkan hukum lumpuh di tanah sendiri
usut tuntas, singkap tabir bayangan, tegakkan kebenaran tanpa henti
Dan kepada kita, para penjaga nyala kemanusiaan:
rapatkan barisan, genggam jemari!
Garis depan tak akan pernah mundur
sebab kebenaran takkan bisa dibakar
dan nurani takkan pernah bisa dipadamkan!
Jayapura, 10 September 2026
Karya Yance Dou
(Mengenang derita para jurnalis dan aktivis kebenaran dan keadilan dijarah dan diintai setiap langkah mereka di Indonesia yang mengaku diri negara Pancasilais. Kesucian Pancasila dikotori darah orang tak bersalah maka keluhuran nilai Pancasila diluncurkan oleh para pejabat degil yang mengubahnya menjadi pancasalahis)
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










