Puisi: Api di Rumah Keadilan dan Ratapan Surga yang Dikapling Karya Yance Dou

Pesona hutan tanah Papua yang saban waktu digerogoti aneka korporasi jumbo. Sumber foto ilustrasi: pusaka.or.id

Ratapan Surga yang Dikapling

 

DI BATAS timur tempat matahari beranjak bangun

bukan fajar yang menyapa, melainkan debu dan kabun

Kabar burung di televisi mengeja kata sejahtera

padahal di atas tanahnya, jerit pedih tak bersuara

 

Papua tidak miskin, wahai tuan yang pongah

ia adalah ibu yang diperkosa hingga berdarah

Lihatlah dada Grasberg yang dibelah tanpa ampun

gunung emas dan tembaga jadi rebutan beruntun

Janji sepuluh persen saham tinggal debu yang melayang

sementara pemilik tanah hanya menatap dari balik bayang

 

Di Raja Ampat, laut bening kini dikepung jelaga

Pulau Gag, Pulau Kawe, dijajah para naga

Mantan menteri menjadi benteng, izin-izin diperjualbelikan

bahkan pulau diberikan pada nama siluman yang dirahasiakan

 

Di atas bumi yang terkoyak, geng gergaji mesin menari

delapan ratus ribu hektar hutan diserahkan pada asing tanpa henti

Wapoga Group menebang nafas, APRIL melindas ruang hidup Kombei

politisi berjas rapi menukar bisnis karbon dengan bangkai

Suku-suku tua bertelanjang kaki kini terasing di rumah sendiri

dikejar alat berat yang bergerak bagai monster tak berhati

 

Lalu datanglah raja-raja baru membawa bendera perkebunan

TSE Group, Korindo, hingga mega proyek bermuka kesucian

“Lumbung Pangan Nasional,” kata mereka dengan senyum culas

padahal setengah juta hektar diberikan pada keluarga yang serakah tak berbatas

 

Dua ribu ekskavator menggilas gambut, rawa, dan impian

empat triliun rupiah dibeli hanya untuk meratakan peradaban

Di atas penderitaan rakyat, kerajaan baru berdiri gagah

dijaga moncong senjata dan restu para pejabat yang serakah

 

Mereka bersembunyi di balik perusahaan cangkang dan cermin retak

menghindar dari pajak, melarikan uang saat hutan terbakar dan meledak

Hukum dijahit di Jakarta untuk melegalkan perampasan

sementara rakyat yang bertahan dicap pemberontak dalam kekerasan

 

Penjajahan belum usai, ia hanya berganti pakaian

dulu berbaju serdadu, kini berbatik dan berkedok pembangunan

Mereka menari gembira di atas piring emas yang dicuri

meninggalkan debu, racun, dan luka yang tak kunjung terobati

Namun ingatlah, setiap jengkal tanah yang ditetesi air mata

akan menyimpan dendam sampai waktu menagih jalannya

Jayapura, 10 September 2026

Karya Yance Dou

(Semoga para elit politik, penguasa dan pengusaha makin sadar, berubah dan bertindak adik dan bijak)

Api di Rumah Keadilan: Melawan Teror, Merawat Asa

 

DI TANAH tempat fajar pertama menyapa

jelagah hitam merayap di halaman rumah keadilan

Rabu pagi yang biasa, berbuah dentam ketakutan

ketika sumbu-sumbu benci dilemparkan dalam botol bensin

mencoba membakar suara-suara yang tak pernah bisa dibungkam

 

Ini bukan sekadar api yang membakar roda dan besi

ini adalah teror yang menghujam jantung kemanusiaan

LBH Papua diselimuti asap

kediaman sang jurnalis diguncang ledakan malam

dapur redaksi Jubi hangus diamuk benci

dan kini… benteng Komnas HAM kembali dicoba dilukai

 

Tahun demi tahun, bayang-bayang itu menari tanpa nama

bersembunyi di balik gelap, kebal dari sentuhan hukum

Mereka ingin kita gemetar

mereka ingin pena berhenti mengukir kebenaran

mereka ingin mata-mata pemantau terpejam ketakutan

 

Namun listened-lah pada detak dada tanah ini:

Keadilan tak bisa dilelehkan oleh api molotov!

Setiap percikan teror yang mereka jatuhkan

justru menyalakan obor keberanian di jiwa kita

 

Setiap ancaman yang dilemparkan dalam senyap

menjadi genderang yang memanggil kita untuk bersatu!

Kepada para pengawal hukum dan penegak janji negara:

dengar jeritan hak yang menuntut keadilan!

Jangan biarkan hukum lumpuh di tanah sendiri

usut tuntas, singkap tabir bayangan, tegakkan kebenaran tanpa henti

 

Dan kepada kita, para penjaga nyala kemanusiaan:

rapatkan barisan, genggam jemari!

Garis depan tak akan pernah mundur

sebab kebenaran takkan bisa dibakar

dan nurani takkan pernah bisa dipadamkan!

Jayapura, 10 September 2026

Karya Yance Dou

(Mengenang derita para jurnalis dan aktivis kebenaran dan keadilan dijarah dan diintai setiap langkah mereka di Indonesia yang mengaku diri negara Pancasilais. Kesucian Pancasila dikotori darah orang tak bersalah maka keluhuran nilai Pancasila diluncurkan oleh para pejabat degil yang mengubahnya menjadi pancasalahis)

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.