WAENA, ODIYAIWUU.com — Peace Literacy Institute Indonesia, Sabtu (22/8) menggelar diskusi bertajuk Sejarah Gerakan Mahasiswa dalam Revolusi Dunia di Aula Asrama Putra Tolikara, Yoka Waena, Jayapura, Papua.
Diskusi yang dihadiri puluhan peserta menghadirkan pembicara masing-masing mantan aktivis mahasiswa sekaligus peneliti Papua Observatory for Human Rights Thomas Ch Syufi dan pegiat literasi Papua yang juga Deputi Peace Literacy Institute Indonesia Papua Maiton Gurik.
Maiton yang tampil sekaligus sebagai moderator di awal diskusi yang dihadiri peserta baik mahasiswa, tokoh pemuda, pegiat literasi, dan aktivis masyarakat Papua mengatakan, sejarah gerakan mahasiswa bukan sekadar catatan masa silam.
“Sejarah gerakan mahasiswa tempo doeloe juga menjadi sumber inspirasi, referensi strategi, dan basis pemikiran bagi setiap perjuangan meraih keadilan dan kebebasan,” ujar Maiton Gurik sebagaimana keterangan tertulis yang diperoleh di Waena, Jayapura, Papua, Minggu (23/8).
Menurut Maiton, topik tersebut dipandang penting jadi bahasan mengingat mahasiswa di seluruh dunia memiliki peran khas sebagai kekuatan moral dan intelektual.
Selain karena mahasiwa kala itu bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan melalui kesetiaan dan ketekunan membaca dan memahami masalah namun mereka juga hidup berdampingan dekat dengan realitas sosial-politik, terutama penderitaan rakyat.
“Tema ini dipilih agar dalam konteks Papua generasi muda tidak terisolasi dalam perjuangannya, melainkan melihat diri mereka bagian tak terpisahkan dari gerakan besar dunia seperti menolak penindasan, penjajahan, dan ketidakadilan,” kata Maiton, putra asli Papua dan Magister Ilmu Politik jebolan Universitas Nasional (Unas) Jakarta.
Sebagai pegiat literasi, Maiton menegaskan, gerakan tanpa pemahaman sejarah ibarat berjalan di kegelapan. Karena itu, bagi mahasiswa maupun generasi muda tanah Papua diajak untuk belajar dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan gerakan mahasiswa dari benua lain tempo doeloe menghadapi situasi Papua belakangan.
Sedangkan Thomas Ch Syufi di awal pemaparannya mengurai terminologi gerakan mahasiswa yang disebutnya bukan sekadar perkumpulan dengan tujuan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik melainkan kekuatan sosial-politik yang lahir dari kesadaran bahwa ilmu pengetahuan harus bersanding dengan keadilan.
Menurut Syufi, akar sejarah gerakan mahasiswa di dunia terlihat jelas pada abad ke-19 di Eropa, di mana universitas menjadi tempat lahirnya gagasan kebebasan, persatuan bangsa, dan penolakan terhadap otoritarianisme monarki maupun kolonial.
“Ciri khas gerakan ini yaitu kritis, berbasis pemikiran, dan berani mempertanyakan status quo, dan solidaritas lintas batas. Berbeda dengan gerakan militer, senjata gerakan mahasiswa adalah kebenaran, data, dan kesadaran kolektif, bersama,” kata Syufi.
Syufi juga memaparkan bukti sejarah bahwa mahasiswa sering menjadi penggerak utama (prime mover) perubahan global. Tahun 1848, katanya, mahasiswa di Jerman, Prancis, dan Austria memimpin revolusi menuntut persatuan bangsa dan kebebasan pers, meletakkan dasar demokrasi modern.
“Begitu pula tahun 1968, gelombang protes meluas dari Paris ke Berlin hingga Roma. Mahasiswa menolak penindasan negara, perang dingin, dan ketidakadilan kelas. Gerakan ini melahirkan cara baru berorganisasi yang lebih terbuka dan berbasis kesetaraan,” ujar Syufi yang juga seorang kolumnis.
Selain itu Syufi juga membahas gerakan mahasiswa di Kuba, Chile, dan Nikaragua di mana para mahasiswa menjadi jantung perlawanan melawan rezim militer yang didukung kekuatan asing.
“Para mahasiswa membangun networking, jaringan rahasia, menyebarkan kesadaran, dan mempersatukan pekerja serta petani. Prinsip yang dipegang yaitu tidak ada kemerdekaan yang dipinjam tetapi harus diperjuangkan sendiri dengan akal dan taruhan nyawa,” kata Syufi lebih lanjut.
Syufi juga menyebut tokoh seperti Kwame Nkrumah dan Steve Biko memulai perjuangan dari lingkungan kampus. Kala itu, ujarnya, mahasiswa Afrika tidak sekadar menuntut persoalan biaya pendidikan yang belum berpihak kepada kaum lemah, namum menuntut hak atas tanah dan identitas yang dihapus penjajah. Mereka membuktikan bahwa gerakan mahasiswa adalah cikal bakal pemerintahan baru yang berdaulat.
“Gerakan mahasiswa Indonesia memegang peran kunci. Tahun 1945 sebagai penyebar proklamasi, tahun 1966 menentang otoriterisme, dan tahun 1998 menggulingkan rezim otoriter. Di tanah Papua, benang merah ini terhubung. Mahasiswa menjadi benteng pertahanan terakhir yang tidak mau diam melihat ketidakadilan, meneruskan nafas revolusi dunia ke tanah ini,” ujar Syufi.
Syufi mengatakan, gerakan mahasiswa Papua adalah bagian sah dari sejarah revolusi dunia. Perjuangan melawan penjajahan, eksploitasi alam, dan penyangkalan hak asasi adalah hal yang sama diperjuangkan di benua lain. Tantangan terbesar adalah informasi yang dibungkam, militerisasi, dan upaya memisahkan pemuda dari akar budaya serta sejarahnya. Jangan pernah merasa kecil.
“Sejarah membuktikan bahwa pemuda yang berilmu dan berprinsip mampu mengubah peta dunia. Papua butuh mahasiswa yang tidak sekadar cerdas tetapi paham bahwa kebenaran adalah aspek prinsip yang harus dipegang dalam setiap gerakan,” kata Syufi. (*)










