JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Yohanes Harun Yuwono akan tampil sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam diskusi dan bedah buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Ruang Media Center, Lantai 4 Gedung KWI, Jalan Cut Meutia, Jakarta, Senin (24/8).
Selain Mgr Yuwono, Uskup Keuskupan Agung Palembang, akan tampil pula sejumlah pembicara yaitu penulis buku Markus Haluk, editor Basil Triharyanto, Pastor Awam Abdon Bisei, sejarawan dan penulis Dr Bernarda Meteray, dan Dr Adriana Elisabeth dari Jaringan Damai Papua (JDP) dipandu moderator Francisca Christy.
“Dalam situasi krisis kemanusiaan di Papua, Gereja Katolik dipanggil untuk hadir sebagai peziarah harapan, suara kenabian bagi korban kekerasan dan pelanggaran HAM serta jembatan dialog kemanusiaan,” ujar panitia diskusi sebagaimana tercantum dalam flayer yang diperoleh di Jayapura, Papua, Rabu (18/8).
Menurut panitia, serial buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua menjadi sarana bagi Komisi Kerasulan Awam KWI untuk memahami perjalanan, pemikiran, karya, dan peran Thom Beanal dalam sejarah serta dinamika Papua. Diskusi publik terbuka dan calon peserta diwajibkan melakukan registrasi melalui barcode yang tertera.
Sejumlah pembicara dari beragam latar belakang keilmuan dan aktivitas sosial-kemasyarakatan sebelumnya tampil sebagai pembicara dalam diskusi dan bedah buku tersebut di Lantai 8 Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta Selatan, Rabu (6/5 2026).
Para pembicara yang tampil saat itu yaitu tokoh masyarakat Papua dan Wakil Ketua DPD RI yang juga senator asal Papua Tengah Yorrys Raweyai serta pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Dr Budi Hernawan.
Selain itu, antropolog lingkungan Universitas Indonesia Suraya Abdulwahab Afiff, MA, Ph.D dan aktivis muda tanah Papua yang juga pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Emanuel Gobay, SH, MH.
Kemudian, Inayah Wulandari Wahid, aktivis sosial kemasyarakatan yang juga putri bungsu Presiden keempat RI KH Dr Abdurrahman Wahid (Gur Dur). Diskusi dipandu moderator dan editor buku Basilius Triharyanto.
Buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua berisi tiga jilid dengan sub judul yaitu seri pertama, Persembahan dan Apresiasi ditulis Markus Haluk dengan editor Basilius.
Seri kedua berjudul Kesaksian Keluarga dan Pandangannya bagi Gereja dan Bangsa Papua berisi karya Thom Beanal, keluarga Thom seperti Bertha Kum, Florentinus Beanal, Odisimus Beanal, Janes Narkime, dan Nella Kilangin.
Kemudian, seri ketiga berjudul Kesaksian untuk Torey Negel Amungme-Papua berisi artikel sejumlah penulis seperti Uskup Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA dan Adérito de Jesus Soares, pejuang HAM yang kini bermukim di Dili, kota negara Republik Demokratik Timor Leste.
Menurut Markus, buku tersebut menyajikan ringkasan perjalanan hidup dan perjuangan Almarhum Thom Beanal, seorang putra bangsa Papua dari suku Amungme, Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Thom lahir pada 11 Juli 1947 kemudian menempuh pendidikan tingkat dasar hingga Akademi Teologi, lalu mengabdi sebagai guru katekis di Wamena dan Paniai serta menjadi pastor awam di berbagai paroki di Keuskupan Jayapura.
Menurut Markus, saat menyaksikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kerusakan ekologi yang disebabkan korporasi pertambangan dunia PT Freeport Indonesia (PTFI), Thom Beanal mengundurkan diri dari tugas pastoral untuk membela masyarakat adat.
“Tahun 1994, Thom mendirikan Lembaga Musyawarah Adat Amungme, Lemasa, kemudian menggugat Freeport di Pengadilan New Orleans, Amerika Serikat tahun 1996 lalu mendorong alokasi dana 1 persen bagi masyarakat terdampak perusahaan Freeport Indonesia,” kata Markus, intelektual muda Papua lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura.
Selain itu, kata Markus, pada era reformasi, Thom bersama sejumlah tokoh Papua dan mahasiswa turut mendirikan Forum Rekonsiliasi Rakyat Irian Jaya (Foreri). Thom juga diangkat sebagai Wakil Ketua Presidium Dewan Papua tahun 2000 dan Ketua Dewan Adat Papua (DAP) tahun 2002–2007. Era pemerintahan Presiden Gus Dur, Thom diangkat sebagai Komisaris PT Freeport Indonesia periode 2000–2018. Thom dikenal juga sebagai sosok pemimpin rendah hati, disiplin, dan penuh metafora dalam berpikir.
Markus mengisahkan, Thom bukan sekadar pemimpin. Ia juga figur yang menenangkan namun berpikir mendalam. Senyum Thom menghidupkan harapan dan metafora-metaforanya tak menyajikan jawaban instan namun membuka ruang bagi akal untuk mencari kebenaran.
“Dalam timbangan sejarah, Thom hadir ketika rakyat Papua tidak berada dalam keadaan baik. Kini pun, Papua masih merintih dalam rupa ancaman genosida, etnosida, dan ekosida yang terus mengintai,” ujar Markus lebih lanjut.
Menurut Markus, rintihan masyarakat suku Amungme dan Kamoro berlangsung akibat kekayaan emas digadaikan hingga tahun 2026 secara tidak beradab. Penderitaan menjadi keseharian rakyat. Karena itu, buku ini lahir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk membaca realitas dan merajut solusi ke depan. (*)










