Puisi: Sang Pemimpin dan Lima Puluh Satu Tahun Penuh Syukur Kepada-Nya Karya Yosua Noak Douw

Bupati Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan Willem Wandik, S.Sos. Foto: Istimewa

Sepiring Sarapan, Sebuah Harapan

 

Lalu di sekolah-sekolah

hadir Sarapan Sehat Anak Sekolah

Mungkin bagi sebagian orang

yang terlihat hanyalah sepiring makanan

Tetapi bagi seorang anak

sepiring sarapan dapat berarti banyak

 

Ia berarti tenaga

untuk berjalan menuju sekolah

Ia berarti tubuh yang lebih siap belajar

Ia berarti pikiran

yang lebih mampu menerima pelajaran

Ia berarti perhatian

Ia berarti kepedulian

 

Ia berarti sebuah pesan sederhana:

Anak-anak Tolikara

kalian berharga

Makanlah dengan sehat

Belajarlah dengan tekun

Bertumbuhlah dengan kuat

Bacalah buku

Carilah pengetahuan

Beranilah bermimpi

 

Bermimpilah setinggi gunung-gunung

yang mengelilingi negerimu

Sebab suatu hari nanti

Tolikara akan berada di tanganmu

Dan ketika hari itu tiba

kami berharap kalian menjadi generasi

yang lebih sehat

lebih berpengetahuan

lebih bijaksana

dan lebih siap menjaga negeri ini

 

Sebab membangun Tolikara

bukan hanya membangun hari ini

Membangun Tolikara

adalah mempersiapkan manusia

yang akan hidup dua puluh

tiga puluh

bahkan lima puluh tahun mendatang

 

Sang Pemimpin

 

Di Tolikara

di antara gunung-gunung yang berdiri teguh,

di antara lembah yang menyimpan doa

dan kampung-kampung yang terus menyalakan harapan

Ia hadir sebagai pemimpin

yang memilih bekerja

lebih banyak daripada berbicara

 

Ia tidak selalu datang

dengan suara yang keras

Ia tidak tergesa-gesa

menjawab setiap persoalan

Ia memilih diam

mendengar

merenungkan

menimbang

lalu bekerja

 

Sebab diamnya

bukan berarti tidak peduli

Tenangnya

bukan berarti tidak berani

Dan lembut suaranya

bukan berarti lemah

Dalam diam, ia mendengar

Dalam ketenangan, ia menimbang

Dalam kasih, ia mengambil keputusan

 

Namanya

Willem Wandik, S.Sos

Bupati Tolikara

Seorang pemimpin

yang setia berusaha menjadikan pemerintahan

bukan sekadar tempat mengatur

tetapi rumah untuk melayani

 

Bukan sekadar tempat membuat keputusan

tetapi tempat menghadirkan harapan

Bukan sekadar menjalankan kekuasaan

tetapi menjalankan tanggung jawab

 

Baginya, kepemimpinan

bukan tentang siapa yang paling banyak didengar

melainkan siapa yang sungguh-sungguh

mau mendengar rakyatnya

 

Menyelesaikan yang Tertunda

 

Menjadi pemimpin

bukan hanya tentang memulai sesuatu yang baru

Kadang tugas yang lebih berat

adalah menyelesaikan

apa yang masih tertunda, belum selesai

 

Ada persoalan yang harus disentuh

Ada simpul yang harus diurai

Ada ketidakpastian

yang harus diberikan jalan keluar

Tambahan penghasilan pegawai diperjuangkan

Sebab di balik angka-angka anggaran

ada manusia yang bekerja

 

Ada keluarga yang menunggu

Ada anak-anak yang harus sekolah

Ada kebutuhan hidup

yang tidak dapat ditunda

 

Dan ketika kesejahteraan aparatur diperhatikan

sesungguhnya pelayanan kepada masyarakat

juga sedang diperkuat

 

Evaluasi Jabatan dituntaskan

Karena pemerintahan yang baik

membutuhkan kejelasan

Membutuhkan keteraturan

Membutuhkan keadilan

 

Membutuhkan penghargaan

terhadap tanggung jawab

Sebab birokrasi bukan hanya susunan kotak

di atas sebuah bagan organisasi

 

Di dalamnya ada manusia

Ada pengabdian

Ada beban kerja

Ada tanggung jawab

Ada harapan agar setiap orang

ditempatkan secara patut

dan dihargai secara adil

 

Membangun pemerintahan

berarti juga membangun manusia

yang menjalankan pemerintahan

 

Membangun Tolikara Dimulai dari Kehidupan

 

Tetapi pembangunan Tolikara

tidak boleh berhenti

di meja pemerintahan

Ia harus keluar dari kantor

Ia harus berjalan menuju kampung

 

Ia harus masuk ke rumah-rumah

Ia harus menyentuh ibu

Ia harus menjaga anak

Ia harus hadir

bahkan sejak kehidupan baru mulai bertumbuh

Karena itulah

Program Seribu Hari Pertama Kehidupan

menjadi perhatian

 

Sebab masa depan Tolikara

sesungguhnya tidak dimulai

ketika seseorang menjadi pejabat

Masa depan Tolikara dimulai

jauh lebih awal

Ia dimulai ketika seorang ibu sehat

 

Ketika seorang anak

bertumbuh dalam kandungan dengan baik

Ketika bayi memperoleh gizi

Ketika keluarga memiliki pengetahuan

Ketika kehidupan dijaga

sejak hari-hari pertamanya

Di situlah pembangunan

menjadi sangat manusiawi

 

Sebab membangun daerah

bukan hanya membangun sesuatu yang terlihat

Kadang pembangunan terbesar

dimulai dari sesuatu

yang belum dapat kita lihat hasilnya hari ini

Seorang anak sehat hari ini

adalah manusia Tolikara

dua puluh tahun mendatang

 

Seorang anak yang tumbuh baik hari ini

dapat menjadi guru, dokter, gembala, pengusaha

pemimpin, birokrat, seniman

atau penjaga negeri ini

di masa depan

Karena itu, membangun manusia

adalah investasi terpanjang

dan paling mulia

 

Ketika Tolikara Bernyanyi

 

Lalu Tolikara mulai bernyanyi

Budaya memperoleh panggung

Iman memperoleh ruang

Persaudaraan menemukan tempat

untuk dirayakan bersama

 

Untuk pertama kalinya

Festival Etnik Religi dilaksanakan

Di sana budaya dan iman bertemu

Tradisi dan pujian bertemu

Warna-warni suku dan komunitas

bertemu dalam sukacita

 

Karena sebuah daerah

tidak hidup hanya dari jalan dan gedung

Sebuah daerah mempunyai jiwa

Dan jiwa Tolikara

hidup dalam budaya

iman

persaudaraan

bahasa

tarian

musik

doa

dan cara masyarakatnya

memaknai kehidupan

 

Pembangunan yang kehilangan budaya

akan kehilangan akar

Pembangunan yang kehilangan iman

dapat kehilangan arah

Pembangunan yang kehilangan persaudaraan

akan kehilangan kedamaian

 

Karena itu

Festival Etnik Religi

bukan sekadar perayaan

Ia adalah pesan:

kita boleh berbeda

tetapi kita dapat berdiri bersama

Kita dapat bernyanyi bersama

Kita dapat berdoa bersama

Kita dapat menjaga Tolikara bersama

 

Berjalan Bersama

 

Tanggal 17 Agustus

mempunyai arti yang istimewa

Hari ketika Merah Putih

berkibar di seluruh Indonesia

Hari ketika bangsa ini

mengingat kemerdekaannya

Dan bagi Willem Wandik

hari itu juga adalah hari kelahiran

 

Di tengah perayaan kemerdekaan

masyarakat Tolikara

diajak melakukan Gerak Jalan Bersama

Langkah demi langkah

menjadi lambang kebersamaan

Pejabat berjalan

 

ASN berjalan

Anak-anak sekolah berjalan

Pemuda berjalan

Masyarakat berjalan

Dan untuk beberapa saat

semua berada di jalan yang sama

 

Itulah gambaran

yang seharusnya menjadi jiwa pembangunan

Bahwa Tolikara

tidak dapat dibangun sendirian

Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri

 

Masyarakat tidak dapat berjalan sendiri

Gereja tidak dapat berjalan sendiri

Pemuda tidak dapat berjalan sendiri

Kampung tidak dapat berjalan sendiri

Kita membutuhkan satu sama lain

 

Kita boleh berasal dari suku yang berbeda

Dari distrik yang berbeda

 

Dari gereja yang berbeda

Dari pandangan yang berbeda

Bahkan mungkin dari pilihan politik

yang berbeda

Tetapi ketika berbicara tentang Tolikara

kita harus belajar berjalan bersama

 

Sebab kemerdekaan

akan semakin bermakna

ketika pemerintah dan rakyat

melangkah menuju arah yang sama

 

Kasih sebagai Jalan Kepemimpinan

 

Dan di balik semua itu

ada satu kata

yang terus muncul:

kasih

Kasih kepada manusia

Kasih kepada masyarakat

Kasih kepada mereka

yang sedang membutuhkan kekuatan

Kasih kepada anak-anak

Kasih kepada orang tua

 

Kasih kepada ASN

Kasih kepada pemuda

Kasih kepada masyarakat kampung

Kasih kepada mereka

yang mungkin tidak mempunyai suara

untuk didengar

 

Sebab orang yang mencintai kemanusiaan

tidak terlebih dahulu bertanya:

“Siapa dia?”

Ia terlebih dahulu melihat:

“Dia adalah manusia.”

Dan terkadang

yang dibutuhkan manusia

bukanlah sesuatu yang besar

 

Kadang seseorang

hanya membutuhkan satu kalimat:

“Kamu bisa.”

Kadang orang yang hampir menyerah

hanya membutuhkan seseorang

yang berkata:

“Jangan berhenti.”

 

Kadang orang yang merasa tidak berarti

hanya membutuhkan seorang pemimpin

yang mau mendengarkan

Karena menjadi penyemangat

bukan selalu berdiri di atas panggung.

 

Kadang penyemangat

adalah seseorang yang hadir

pada saat orang lain hampir kehilangan harapan

Dan seorang pemimpin

akan semakin berarti

ketika kehadirannya

membuat orang lain kembali percaya

bahwa hari esok masih mungkin diperjuangkan

 

Mencintai Tuhan, Pekerjaan Tuhan, dan Rumah Tuhan

 

Namun ada kasih

yang lebih dalam daripada semuanya

Kasih kepada Tuhan

Kasih kepada pekerjaan Tuhan

Kasih kepada Rumah Tuhan

 

Sebab seorang pemimpin

boleh memiliki kekuasaan

tetapi ia tetap manusia

Seorang pemimpin

boleh mempunyai kewenangan

tetapi ia tetap membutuhkan hikmat

 

Seorang pemimpin

boleh mempunyai banyak orang

yang bekerja bersamanya

tetapi di hadapan Tuhan

ia tetap seorang hamba

yang harus mempertanggungjawabkan hidupnya

 

Jabatan mempunyai batas

Kekuasaan mempunyai akhir

Periode pemerintahan akan berganti

Tetapi nilai-nilai yang ditanamkan Tuhan

dapat menjadi kompas

agar kekuasaan tidak kehilangan arah

 

Biarlah iman melahirkan kasih

Biarlah kasih melahirkan pelayanan

Biarlah pelayanan melahirkan keadilan

Biarlah keadilan melahirkan kedamaian

Dan biarlah kedamaian

menjadi rumah besar

bagi seluruh masyarakat Tolikara

 

Karena mencintai Tuhan

tidak cukup hanya melalui kata-kata

Kasih kepada Tuhan

harus terlihat dalam cara

kita memperlakukan manusia

Dalam cara kita menggunakan kekuasaan

Dalam cara kita menjaga yang lemah

 

Dalam cara kita menyelesaikan persoalan

Dalam cara kita menjaga Rumah Tuhan.

Dalam cara kita menghormati pekerjaan Tuhan

Dan dalam cara kita meninggalkan dunia

sedikit lebih baik

daripada ketika kita menerimanya

 

Lima Puluh Satu Tahun Penuh Syukur kepada-Nya

 

Hari ini,

17 Agustus 2026

ketika Merah Putih berkibar

di langit Tolikara

usia itu genap 51 tahun

 

Lima puluh satu tahun

bukan hanya perjalanan waktu

Ia adalah jejak langkah yang terus bergerak

Ia ziarah penuh syukur kepada-Nya

Ada sukacita

Ada air mata

 

Ada kemenangan

Ada kekecewaan

Ada pujian

Ada kritik

Ada orang yang datang

Ada yang pergi

Ada keputusan yang mudah

Ada pula keputusan

yang mungkin harus diambil

dengan berat hati

Tetapi hidup terus bergerak tanpa mengenal jalan pulang

 

Dan setiap bertambah usia

memberikan satu kesempatan baru:

untuk menjadi lebih bersyukur kepada-Nya

Lebih sabar dan bijaksana

Lebih rendah hati

Lebih kuat

 

Lebih mengasihi

Dan lebih memahami

bahwa hidup bukan hanya tentang

apa yang kita dapatkan

tetapi tentang

apa yang kita tinggalkan.

 

Masih Banyak yang Harus Dikerjakan

 

Tolikara belum selesai dibangun

Masih ada kampung

yang harus dijangkau

Masih ada jalan

yang harus dibuka.

 

Masih ada sekolah

yang perlu diperkuat

 

Masih ada guru

yang harus didukung

Masih ada orang sakit

yang harus dilayani

Masih ada mama-mama

yang harus diberdayakan

 

Masih ada pemuda

yang membutuhkan kesempatan

Masih ada ASN

yang perlu dibina

Masih ada ekonomi rakyat

yang harus dihidupkan

 

Masih ada budaya

yang harus dijaga

Masih ada persaudaraan

yang harus dirawat

Masih ada perbedaan

yang perlu dipertemukan

 

Masih ada luka

yang mungkin perlu disembuhkan

Dan masih ada banyak hati

yang menunggu harapan

 

Karena itu

jangan hanya bangun gedung —

bangunlah manusia

Jangan hanya buka jalan —

bukalah kesempatan

 

Jangan hanya susun program —

tumbuhkanlah harapan.

Jangan hanya habiskan anggaran —

hasilkanlah perubahan

Jangan hanya jalankan pemerintahan —

hadirkanlah pelayanan

 

Jangan hanya pegang kekuasaan —

peliharalah kepercayaan

Dan jangan hanya tinggalkan nama —

tinggalkanlah kehidupan

yang menjadi lebih baik

karena pernah dipimpin dengan hati

 

Biarkan Karya yang Bercerita

 

Bapak Willem Wandik

tidak semua pekerjaan

harus diumumkan dengan suara keras

Biarkan masyarakat melihat

Biarkan anak-anak merasakan

Biarkan ASN mengalami

Biarkan mama-mama bersaksi

Biarkan kampung-kampung bercerita

 

Dan suatu hari nanti

biarkan sejarah yang menilai

Sebab pemimpin datang dan pergi

Kursi jabatan akan berganti

Foto resmi akan diturunkan

Nama pada papan kantor

suatu saat akan berubah

 

Tetapi ada sesuatu

yang jauh lebih sulit dihapus:

kebaikan yang pernah dirasakan manusia

Jika seorang anak

bertumbuh lebih sehat

karena pernah diperhatikan

itu adalah warisan

 

Jika seorang pelajar

menemukan bakat

karena pernah diberikan kesempatan

itu adalah warisan

Jika seorang pegawai

bekerja lebih baik

karena sistemnya pernah dibenahi

itu adalah warisan

 

Jika seorang mama

dapat melihat anaknya

memiliki masa depan lebih baik

itu adalah warisan

Jika masyarakat yang berbeda

dapat duduk, bernyanyi, berdoa

dan berjalan bersama

itu adalah warisan

 

Dan jika suatu hari

orang tidak lagi mengingat

berapa banyak pidato yang pernah disampaikan

tetapi masih mengingat

kebaikan yang pernah dirasakan

maka seorang pemimpin

telah meninggalkan sesuatu

yang lebih besar daripada jabatan

 

Selamat Ulang Tahun, Bupati Tolikara

 

Selamat Hari Ulang Tahun ke-51

Bapak Willem Wandik

Bupati Tolikara

17 Agustus 2026

Kiranya Tuhan memberikan kesehatan

Kiranya Tuhan memberikan umur panjang

Kiranya Tuhan memberikan hikmat

dalam setiap keputusan

 

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan

ketika beban terasa berat

Kiranya Tuhan memberikan kesabaran

ketika disalahpahami

Kiranya Tuhan memberikan keberanian

ketika kebenaran harus diperjuangkan

 

Kiranya Tuhan menjaga hati

agar tetap rendah ketika dipuji

tetap teguh ketika dikritik

tetap tenang ketika keadaan memanas

dan tetap mengasihi

ketika kasih terasa sulit diberikan

 

Teruslah menjadi pemimpin

yang mendengar sebelum berbicara

Teruslah menjadi suara

yang menyejukkan ketika suasana memanas

Teruslah menjadi penyemangat

ketika banyak orang kehilangan harapan

 

Teruslah mencintai manusia

Teruslah mencintai Tolikara

Dan terutama:

teruslah mencintai Tuhan

pekerjaan Tuhan

dan Rumah Tuhan

 

Karena Tolikara

tidak hanya membutuhkan pemimpin

yang mampu memerintah

Tolikara membutuhkan

pemimpin yang mampu mengasihi

Tidak hanya pemimpin

yang membangun jalan

tetapi pemimpin

yang membuka jalan

 

Tidak hanya membangun gedung

tetapi membangun manusia

Tidak hanya membuat program

tetapi menumbuhkan harapan

Tidak hanya menjalankan pemerintahan

tetapi meninggalkan keteladanan

 

Tidak hanya mengejar keberhasilan hari ini

tetapi menanam kehidupan

untuk generasi yang belum lahir

Dan ketika kelak

perjalanan kepemimpinan ini

ditulis dalam lembaran sejarah Tolikara

 

semoga ada satu kalimat sederhana

yang tetap tinggal dalam ingatan:

“Ia tidak banyak berbicara,

tetapi ia bekerja.

Ia tidak memimpin dengan kegaduhan,

tetapi dengan ketenangan.

Ia tidak hanya membangun dengan anggaran,

tetapi membangun dengan kasih.”

 

Selamat Ulang Tahun ke-51, Bapak Willem Wandik

Teruslah melayani

Teruslah menginspirasi

Teruslah menabur benih kebaikan

Teruslah menjadi berkat

Memimpin dalam diam

Bekerja dalam ketenangan

Melayani dengan ketulusan

Membangun dengan kasih

 

Sebab pada akhirnya

seorang pemimpin

tidak hanya dikenang

karena berapa lama ia memegang jabatan

tetapi karena

berapa banyak kehidupan

yang menjadi lebih baik

karena kepemimpinannya

 

Tuhan memberkati Willem Wandik

Tuhan memberkati keluarga

Tuhan memberkati seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Tolikara

Tuhan memberkati masyarakat Tolikara

Tuhan memberkati tanah Papua

Dan Tuhan memberkati Indonesia

Selamat Ulang Tahun, Bupati Tolikara

7 Agustus 2026

Memimpin dalam diam, membangun dengan Kasih

Karubaga, Juli-Agustus 2026

Karya Yosua Noak Douw

Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, MSi, MA lahir 18 November 1982 di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Masuk SD Negeri Karubaga tahun 1989-1991, SD YPPGI Tulem tahun 1991-1992, dan SD Inpres Porome, Distrik Kelila, Kabupaten Jayawijaya tahun 1992-1994.

Yosua merampungkan kuliah S1 di Fisip Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, meraih Magister Ilmu Ekonomi Uncen tahun 2013, dan doktor di Uncen tahun 2023. Yosua seorang kolumnis media lokal dan nasional. Ia menulis buku Membangun Papua: Catatan dari Timur (2025) dan Papua: Dari Hati ke Hati (2026). Yosua juga penikmat sastra terutama puisi.

Puisi-puisi karyanya ini adalah doa mini merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51 Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos pada 17 Agustus 2026. Puisi ini melukiskan ziarah pengabdian sosok Willem Wandik sekaligus mengenang kedua orangtuanya yang telah membesarkan Wandik, buah hati mereka sejak di Konda dan kini menjadi orang nomor satu Tolikara.

Puisi Yosua masuk dalam Buku Antologi Puisi berjudul Air Mata Sumatera (2026), yang diterbitkan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bekerja sama dengan Majalah Elipsis dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.