TANGERANG SELATAN, ODIYAIWUU.com — Prestasi membanggakan ditorehkan Elkyson Yigibalom, mahasiswa tanah Papua dari Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan.
Yigibalom bersama rekan-rekan mahasiswa dari Jurusan Teknik Penerbangan Universitas Nurtanio (Unnur) Bandung tampil dalam Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Talk and Expo 2026 yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Saat berlangsung ORNM Talk and Expo 2026 bertajuk Nanoteknologi untuk Solusi Negeri di Grha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (19/8), Yigibalom dan rekan-rekannya menampilkan hasil riset dan prototipe pesawat tanpa awak.
Dalam expo tersebut, Universitas Nurtanio Bandung menampilkan sejumlah hasil kolaborasi riset bersama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, khususnya pengembangan material komposit berbasis biomassa untuk diaplikasikan pada teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak.
Wakil Rektor I Unnur Bandung Dr Lies Banowati, ST, MT menjelaskan, UAV dan quadcopter yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi riset antara PRBB BRIN dan Universitas Nurtanio, Bandung, Jawa Barat.
Riset tersebut diarahkan pada pengembangan material komposit berbasis biomassa yang memiliki potensi untuk digunakan dalam pembuatan pesawat tanpa awak. Material tersebut kemudian dikombinasikan dengan nanofiller, termasuk karbon aktif, untuk mendukung kebutuhan teknologi UAV.
“Keikutsertaan Unnur Bandung dalam expo ini menjadi momentum untuk memperkenalkan hasil kolaborasi riset antara PRBB BRIN dan Universitas Nurtanio sekaligus memperkuat sinergi dalam pengembangan material komposit berbasis biomassa dan aplikasinya pada teknologi UAV,” ujar Lies.
Adapun prototipe yang dipamerkan antara lain UAV-VTOL UNBRI (Unnur-BRIN) X, Un (Unnur) 21 serta quadcopter berbasis material komposit biomassa yang dikombinasikan dengan nanofiller karbon aktif.
Mahasiswa Teknik Penerbangan Unnur yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Arief Mediana Kadir (A 2021), Elkyson Yigibalom (B 2021), Ihramudin Tumulo (B 2021), dan Ahmad Fahrul Rozi (B 2021).
Yigibalom menjelaskan, proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan pesawat tanpa awak berbahan material komposit yang bersumber dari biomassa.
“Kami membuat pesawat drone tanpa awak dengan bahan dasar serat abaka, kemudian dikombinasikan dengan carbon paper dan karbon aktif dari bambu,” kata Yigibalom.
Menurut Yigibalom, pengerjaan proyek dilakukan bersama dua mahasiswa lainnya. Tim tersebut terdiri dari mahasiswa asal Bandung, mahasiswa asal Padang dan Papua.
Menariknya, proses penelitian material tidak dilakukan secara instan. Pengujian terhadap kekuatan serat telah dimulai sejak September 2025. Tim melakukan berbagai pengujian untuk mengetahui karakteristik dan kekuatan serat sebelum akhirnya diaplikasikan dalam pembuatan drone.
“Pengujian serat abaka sudah dimulai sejak September 2025. Kami mencari tahu kekuatan material tersebut sampai awal 2026. Setelah mendapatkan kekuatan yang sesuai, barulah kami mengaplikasikannya untuk pembuatan drone,” kata Yigibalom.
Sementara proses pembuatan prototipe UAV dimulai pada akhir Mei 2026. Saat ini, pengerjaan drone tersebut telah mencapai sekitar 95 persen. Tahapan berikutnya adalah pemasangan sistem, ground test, dan pengujian terbang.
“Pembuatan pesawat sudah hampir selesai. Sekarang tinggal pemasangan sistem dan ground test, setelah itu dilanjutkan dengan pengujian terbang. Proyek ini tidak sekadar menjadi pengalaman dalam pengembangan teknologi penerbangan tetapi juga menjadi bagian dari tugas akhir kami,” kata Yigibalom.
Menurut Yigibalom, para mahasiswa Teknik Penerbangan Unnur menargetkan seluruh pengerjaan dapat diselesaikan pada akhir Agustus atau awal September 2026.
Proyek tersebut berasal dari BRIN dan kemudian dikerjakan melalui kerja sama dengan Unnur. Keterlibatan mahasiswa bermula dari kebutuhan pengerjaan proyek yang berkaitan erat dengan bidang material komposit.
“Karena proyek ini berkaitan dengan material komposit, kebetulan kami memiliki dosen Material Komposit, Ibu Lies Banowati. Dari situ proyek ini kemudian turun melalui kerja sama dengan kampus,” kata Yigibalom.
Menurutnya, sang dosen, Lies kemudian memilih sejumlah mahasiswa Teknik Penerbangan untuk terlibat dalam pengerjaan proyek tersebut. Bagi mahasiswa, proyek itu sekaligus menjadi bahan penelitian untuk penyusunan tugas akhir, khususnya pada bagian pembahasan hasil penelitian dan kesimpulan.
Di balik keterlibatannya dalam riset UAV, sebelumnya Yigobalom memiliki bercita-cita menjadi pilot. Ia pernah mengikuti pendidikan penerbangan di salah satu sekolah penerbangan di Tangerang dan telah menjalani tahapan hingga ground Private Pilot Licence (PPL).
“Tapi saat hendak melanjutkan ke tahap penerbangan PPL, saya menghadapi kendala biaya karena bapa saya seorang hamba Tuhan dan Gembala GIDI di Polomo, Sentani. Beliau juga sudah lama meninggal dunia sehingga cita-cita saya menjadi pilot kandas di tengah jalan,” ujar Yigibalom.
Kondisi tersebut membuat Yigibalom berhenti melanjutkan pendidikan pilot selama sekitar satu tahun. Pada 2021, ia kemudian melanjutkan kuliah di Program Studi Teknik Penerbangan Universitas Nurtanio.
“Saat ini saya sudah di penghujung masa kuliah dan tengah berupaya menyelesaikan tugas akhir sekaligus proyek UAV yang kami kerjakan bersama tim. Saya berdoa dan berharap ada perhatian pemda di tanah Papua, terutama di Papua Pegunungan sehingga bisa merampungkan kuliah,” katanya. (Nay Yigibalom)










