JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng, Sabtu (29/8) mulai pukul 13.00–15.00 WIB tampil sebagai salah satu narasumber dalam acara Konferensi Nasional Cendekiawan dan Akademisi Pemuda Katolik 2026 di Hotel Sotis Kemang, Jakarta Selatan.
Acara Konferensi Nasional Cendikiawan dan Akademisi Pemuda Katolik 2026 bertajuk Sinergi Partisipasi Masyarakat dalam Akselerasi Hilirisasi dan Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas 2045 diselenggarakan Pengurus Pusat Pemuda Katolik.
Selain Johni Numberi, sejumlah pembicara akan tampil sebagai narasumber seperti Menteri Lingkungan Hidup Dr (HC) Moh Jumhur Hidayat; Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu; dan Ketua Umum Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Pastor Yacobus Tarigan Pr.
Selain itu, Sekretaris SKK Migas Lucky Yusgiantoro; para ekologi Dr Frederikus Fios; Penasehat Khusus Presiden Bidang Energi Prof Dr Purnomo Yusgiantoro; Direktur Hukum, Intelijen dan Pengaduan ESDM Dr Yuli Sulistiyohadi; Direktur Hilirisasi BKPM Ahmad Faisal; dan Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Dr Priatin Hadi Wijaya, ST, MT.
Kemudian, Ketua Umum Ikatan Dosen Katolik Indonesia Prof Dr Agustinus Purna Irawan; Senior Advisor Green Networ Asian Jalal; Staf Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas Yohanes Mega Hendarto; aktivis Walhi Mida Saragih; Sekretaris Komisi Kerawan KWI Pastor Hans Jeharut Pr; Wim Tangkilisan dari Kadin; dan Pau Butarbutar dari Apindo.
Johni Numberi, tokoh muda dan akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, akan tampil dalam sesi kedua dengan materi Peta Jalan Ketahanan Energi dan Tata Kelola Hilirisasi SDA Menuju Indonesia Maju.
“Saya mendapat kehormatan Pengurus Pusat Pemuda Katolik menjadi narasumber bersama beberapa pimpinan lembaga negara, pakar energi, dan perwakilan masyarakat sipil untuk acara konferensi nasional cendikiawan dan akademisi Pemuda Katolik. Undangan ini sebuah kehormatan,” ujar Johni Numberi di Jakarta, Sabtu (29/8).
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma mengatakan, konferensi nasional didasari pemikiran, dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045 arsitektur ekonomi global sedang mengalami pergeseran paradigma yang masif, ditandai dengan transisi energi bersih dan persaingan penguasaan mineral kritis.
“Kebijakan hilirisasi dan transisi energi menuntut sinergi lintas sektor agar tidak hanya berdampak secara ekonomi tetapi juga berkelanjutan secara ekologis dan inklusif secara sosial. Sebagai wujud nyata peran serta umat Katolik dalam pembangunan bangsa melalui kerangka ekologi integral. Pro Ecclesia et Patria! Pro Bono Publico!,” kata Gusma.
Menurut Gusma, energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, pembangunan industri serta kedaulatan suatu negara.
Ketersediaan energi yang cukup, terjangkau, andal, berkelanjutan, dan dapat diakses secara merata merupakan prasyarat penting bagi tercapainya pembangunan nasional.
“Dalam konteks Indonesia kebutuhan terhadap energi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, urbanisasi, industrialisasi, digitalisasi serta percepatan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri,” kata Gusma.
Gusma menambahkan, di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks persoalan energi juga telah berkembang menjadi persoalan strategis yang berkaitan langsung dengan keamanan dan kedaulatan negara.
Gangguan rantai pasok global, konflik geopolitik, volatilitas harga komoditas energi, kompetisi penguasaan teknologi serta meningkatnya persaingan antarnegara dalam memperoleh mineral kritis.
Kondisi tersebut menunjukkan, ketahanan energi tidak dapat hanya dibangun melalui mekanisme pasar dan ketergantungan pada rantai pasok internasional. Indonesia perlu memiliki kapasitas nasional yang kuat untuk menjamin ketersediaan energi dan mengelola sumber daya strategis secara mandiri.
“Indonesia memiliki modal besar untuk membangun ketahanan energi tersebut. Kekayaan sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi, batu bara, mineral strategis, panas bumi, tenaga air, energi surya, angin, biomassa serta potensi energi laut memberikan peluang bagi Indonesia untuk membangun sistem energi yang lebih beragam dan resilien,” ujar Gusma.
Namun, diakui Gusma, kekayaan sumber daya tersebut juga menghadirkan tantangan besar. Sumber daya alam yang melimpah tidak dengan sendirinya menghasilkan ketahanan energi apabila tidak ditopang oleh tata kelola yang efektif, kapasitas teknologi nasional, infrastruktur yang memadai, investasi yang berkualitas, serta distribusi manfaat yang adil.
“Dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Indonesia mendorong kebijakan hilirisasi sumber daya alam sebagai salah satu strategi transformasi struktural ekonomi nasional. Hilirisasi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri, memperkuat struktur industri nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penerimaan negara,” katanya.
Selain itu, mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Kebijakan tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan ekosistem energi karena sejumlah industri hilirisasi, khususnya industri mineral dan logam, membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar, stabil, dan kompetitif.
Konferensi nasional membahas sejumlah tema penting yaitu Seruan Ensiklik Paus terkait Pengelolaan Energi, Peta Jalan Ketahanan Energi dan Tata Kelola Hilirisasi SDA, Demokratisasi Energi, dan Akselerasi Strategis Lintas Sektor. (*)










