Sejumlah Pembicara Tampil Dalam Diskusi Buku: Papua Sebagai Oase Harapan Pendidikan Indonesia

Para pembicara saat tampil dalam diskusi buku pendidikan Papua di Ruang Media Center Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8). Foto: Istimewa

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Diskusi buku pendidikan Papua, Sabtu (1/8) digelar di Ruang Media Center Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Diskusi berjalan lancar dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Hadir pula Uskup Keuskupan Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo.

Acara mengulas tuntas kisah perjuangan para guru perintis Papua. Penerbit Gramedia mendukung penuh peluncuran karya inspiratif ini. Buku pertama berjudul Kisah-Kisah Guru Perintis bagian 1 dan 2.

Karya ini mencatat dedikasi guru era 1962 hingga 1980. Buku kedua berjudul Hati yang Menyala di Ufuk Timur. Karya ini mengulas konsep Sekolah Kesadaran ala Jesuit. Kedua buku karya Bernada Rurit dan Pastor J Sudrijanta SJ mendokumentasikan penerapan Pedagogi Ignatian di tanah Papua.

Penulisan buku ini menyisakan banyak tantangan besar bagi penulis. Mereka berpacu dengan waktu mencari sisa-sisa guru perintis.

Prosedur penelusuran lapangan berlangsung berat dan menegangkan. Penulis bahkan sempat dihadang oknum warga berparang di Papua. Namun, tekad kuat berhasil melahirkan karya sejarah yang luar biasa.

Jurnalis senior Maria Hartiningsih mengapresiasi tinggi kehadiran buku ini. Ia menilai pengambilan data lapangan dalam buku sangat tidak mudah.

“Proses penggalian data ini sangat sulit dan medannya berat,” ujar Maria, mantan wartawan Harian Kompas. Mengutip keterangan tertulis Agustinus Tetiro di Jakarta, Sabtu (1/8).

Menurut Maria, buku ini muncul di tengah gambaran Papua yang keras. Apalagi masyarakat baru saja dihebohkan oleh film Pesta Babi. “Buku ini menjadi oase yang menampilkan sisi lain Papua,” kata Maria.

Buku ini dinilai berhasil merekam sejarah kemanusiaan yang sangat berharga. Diskusi menghadirkan empat narasumber utama yang berkompeten. Bernada Rurit dan Romo J Sudrijanta, SJ membagikan pengalaman proses kepenulisan buku.

Tokoh pendidikan Papua Ignatius Adii turut memberikan pandangan mendalam. Turut hadir melalui zoom, guru perintis Suratmin, dan Maria Eria.  Acara dipandu secara apik oleh moderator Basil Triharyanto.

Perjuangan guru pedalaman kini menjadi oase harapan bangsa. Dedikasi mereka merupakan teladan nyata bagi pendidikan Indonesia. (*)