Puisi: Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita; Lagu Cinta; dan Surat Malam untuk Paska

Sumber foto ilustrasi: Fb TARBIAHMOESLIM'S BLOGS

1967

 

Di museum kutemukan dahimu penuh kerak timah

meleleh membutakan matamu

Diam-diam kutawarkan tali mungkin kau ingin menjerat tubuhku

 

”ku jajah tubuh belalangmu

Kita bersembunyi di gua

Lari dari topeng-topeng yang kita pentaskan

Jangan lempar tali!

Ayahku akan kehilangan wujud laki-lakinya

Ibuku memuntahkan ulat yang lama dikandungnya”

Di museum matamu memecahkan seorang perempuan

(kau terbangun dari kantuk)

Aku menelan gelap

mengunyah api

(agaknya aku mulai membakar jantung)

Mana taliku?

Ingatkah kau, di mana kutanam impian yang disembunyikan perempuan jalang

yang harus kupanggil ”tante”

 

(perempuan itu tak lagi memiliki hati

Hidupnya digadaikan untuk orang-orang yang rajin menyapanya di jalan

Mungkin dia ibuku?)”

Jangan melilitkan tubuhku dengan tali

Batang tubuhku buas

Tak ada tali mampu mengikatnya

Jangan hidangkan impian

Mari meneguk kata-kata

 

Kau tahu, tumpukan huruf kuserap

Tumbuhlah anak rambutmu

Ayahku diam-diam menanam kebesaran

Tapi aku tak punya rangka iga

mari sanggama di batu-batu

mungkin ingin kau kuliti karang tubuhku”

Kau terlihat pandir, tolol

uapmu mencairkan satu demi satu bukit yang kusimpan di urat tangan

 

Di museum kau begitu pengecut

Aku mulai menggantung bayi di ujung rambutmu

Matanya memuntahkan pisau

 

Aku memperingati hidup

 

Dengan seratus tahun sunyi milik Garcia

Ikan-ikan meluncurkan sperma

betina memuntahkan gelembung karang

Di museum, sunyi jadi begitu runcing

tahun-tahun yang pernah kita pinjam kumasukkan dalam upacara pengabenan

Pulangkah aku?

Siapa yang kucari

Diam-diam, Garcia sering mengajakku sanggama di atas tajam ombak

Di museum, atau dalam mata, jantung, hati, dan keliaranmu

Aku tetap gua kecil, yang ditenggelamkan rasa dingin

Berlayarlah selagi kau masih ingat laut

Jangan catat namaku

Karena ibuku pun pandai membuangku di buih laut

mencongkel hatiku dengan lokan

1999

Karya Oka Rusmini

Sumber Pandora (2008)

Surat Malam untuk Paska

 

Masa kecil kaurayakan dengan membaca

Kepalamu berambutkan kata-kata

Pernah aku bertanya, “Kenapa waktumu

kausia-siakan dengan membaca?” Kaujawab ringan,

“Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata

yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan

yang tak terhingga banyaknya.”

 

Kau memang suka menyimak hujan

Bahkan dalam kepalamu ada hujan

yang meracau sepanjang malam

 

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja

dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang

“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius

maupun yang ringan. Jangan bawakan saya

rencana-rencana besar masa depan

Jangan bawakan saya kecemasan.”

 

Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama

sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan

kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca

bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri

 

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur

di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau

lebih suka tidur di antara buku-buku

dan berkas-berkas yang berantakan

Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau

yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

 

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas

Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras

di tengah hutan. Aku gelisah saja

sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan

1999

Karya Joko Pinurbo

Sumber Baju Bulan (2013

Lagu Cinta

 

Kulihat malam begitu dalam

Dan angin berdesah bimbang

Aku pun tertegun sebelum melangkah

Masihkah kau simpan perasaan sayang

yang dahsyat dalam diriku

 

Kudengar senandung lamat-lamat

Begitu akrab dan kukenal

Seakan melempar ke masa silam

Ketika kita bertemu di ujung jalan

Saling membaca perasaan masing-masing

Dan setuju untuk sama-sama berjuang

 

Haruskah cinta berakhir sedih

Karena kita tak memilih

 

Tidak, kulihat nyala api masih membakar

Ketika kita terlena dan tubuh mengucap

Betapa dalam perasaan bertaut

Bahkan semakin bersatu ketika jalan tertutup

 

Dan akupun bertambah yakin

Tak ada yang mampu membunuh yang bertekad

 

Kulompati pagar dan menyelinap masuk

Berdiri didepan pintu memanggil namamu

Mengucap salam dan sebuah janji

Berikan aku kesempatan menyayangi

 

Kita telah bergetar di sini

Tidak pernah berubah hanya lebih dewasa

Tinggal kamu siap membuka pintu

Tiba saatnya untuk berhenti ragu

1999

Karya Putu Wijaya

Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita

 

Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram. Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu. Silahkan teriak Merdeka!

Jika belum mampu, lebih baik diam dan berfikir. Malu kita.

 

Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang. Mereka, seringkali disiksa dan dianiaya. Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka. Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan. Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir

Malu kita.

 

Negeri Khatulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa

Namun dikelola oleh orang lain. Rakyat hampir tak menikmatinya.

Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara

Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir.

Malu kita

 

Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas

Terasa berat untuk bisa hidup layak

Bahkan harga-harga terus merangkak naik

Ditambah pajak yang kian mencekik

Jika masih meluas kemiskinan

Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir.

Malu kita.

 

Anak negeri tengah terjerembab watak amoral

Narkoba meraja lela

Seks bebas liar menyasar siapa saja

Pornoaksi dan pornografi makin menggila

Jika anak bangsa masih amoral

Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir

Malu kita.

 

Demokrasi korporasi mencengkram negeri ini

Keuangan yang maha kuasa

Korupsi menjadi budaya

Kolusi makin menganga

Kerugian uang rakyat tak terkira

Jika perilaku ini masih mewarnai bangsa

Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir

Malu kita

 

Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya

Namun garam masih impor

Namun singkong masih impor

Jika negeri ini belum mandiri

Memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri

Jangan teriak Merdeka!

Lebih baik diam dan berfikir

Malu kita

 

Luas negara ini jutaan hektar

Namun lebih dari setengah dikuasai asing

Hingga rakyat tak lagi punya lahan luas

Berdesak-desakan di tanah yang sempit

Jika tanah negara belum mampu direbut kembali

Jangan teriak Merdeka!!

Lebih baik diam dan berfikir

Malu kita

Malu kita

Malu kita

 

Tak berdaya

Tak kuasa

Lumpuh di ketiak penjajah

Malu kita

Kota Hujan, 3 Agustus 2019

Karya Ahmad Sastra