Puisi: Merdeka Harus Sampai ke Kampung Papua; Langit, Berapa Lama Lagi?; dan Merdeka Belum Selesai

Bendera Merah Putih berkibar di Bukit Natal, Distrik Ilu, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah. Sumber foto: detikglobalnews.com, 17 Agustus 2025

Merdeka Belum Selesai

 

Merdeka, katamu —dan aku mengangguk seperti seorang anak

yang baru belajar mengeja nama negerinya dari kain merah putih

Tetapi di balik kibaran itu, kudengar suara-suara yang belum pulang:

langkah para leluhur yang masih mencari makam, doa para ibu

yang menggantung di langit-langit rumah, dan tangis anak-anak

yang tumbuh dengan sejarah sebagai bayang-bayang

Barangkali kemerdekaan bukan pintu yang sekali dibuka lalu selesai

melainkan jalan panjang yang setiap pagi harus kita tempuh kembali

 

Aku mencintai Indonesia seperti mencintai seseorang yang penuh luka:

aku tahu bekas jahitannya, hafal diamnya, bahkan mengerti

mengapa ia sesekali menangis tanpa suara. Di satu sudut negeri

lampu-lampu kota menyalakan pesta hingga langit tampak tak pernah gelap

di sudut lain, seorang ibu menghitung receh seperti menghitung sisa harapan

Ada meja-meja panjang tempat kemakmuran dibicarakan

sementara banyak tangan masih menunggu remah dari keputusan

yang dibuat jauh dari rumah mereka sendiri

 

Merdeka belum selesai ketika manusia masih takut menjadi dirinya sendiri

ketika perbedaan dipasang seperti pagar, ketika kata keadilan

hanya menjadi hiasan di dinding-dinding kekuasaan

Perang mungkin telah berganti seragam: bukan lagi selalu senapan

tetapi bisa berupa kelaparan, kesenjangan, kebencian, dan kesunyian

yang perlahan membunuh tanpa suara. Sejarah berdiri di depan kita

seperti cermin tua —retak, tetapi jujur— meminta kita melihat

bahwa luka yang tidak dipahami akan kembali mencari tubuh baru

 

Maka, Indonesia, biarkan aku mencintaimu dengan cara yang lebih sunyi:

bukan hanya dengan mengibarkan bendera, tetapi dengan menjaga manusia

yang hidup di bawah bayang-bayangnya. Aku ingin kemerdekaan menjadi

roti yang cukup di meja, sekolah yang membuka jendela masa depan

hukum yang tidak menunduk kepada uang, dan rumah yang tidak mengenal

siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab merah putih bukan sekadar

warna yang kita hormati setiap Agustus —ia adalah janji yang harus kita tepati.

Dan selama masih ada satu manusia yang belum merasakan arti merdeka

kita masih berjalan; merdeka belum selesai

Nabire, 16 Agustus 2026

Karya Eugen Mahendra Duan

Merdeka Harus Sampai ke Kampung Papua

 

Di negeri yang gunungnya menyentuh awan

di lembah yang pagi datang bersama kabut

di rawa yang menyimpan jejak kehidupan

di pesisir tempat ombak memeluk pulau-pulau —

ada kampung-kampung yang jauh dari pusat kekuasaan

tetapi tidak pernah jauh

dari cita-cita kemerdekaan

 

Di sanalah Papua bertanya:

Negara, sudahkah engkau sampai ke sini?

Bukan hanya lewat pidato

bukan hanya lewat angka dalam anggaran

bukan hanya lewat peta pembangunan

yang digambar dari ruang-ruang berpendingin udara

 

Tetapi lewat guru

yang benar-benar berdiri di depan kelas

Lewat perawat

yang membuka pintu Puskesmas setiap pagi

 

Lewat obat

yang tersedia ketika seorang anak demam

Lewat bidan

yang hadir ketika seorang ibu mempertaruhkan hidup

untuk melahirkan generasi baru

Lewat air bersih

yang mengalir di depan rumah

 

Lewat listrik

yang menyalakan lampu belajar anak-anak

Lewat internet

yang membuka jendela dunia

di balik gunung dan lembah

Sebab bagi rakyat di kampung terjauh

negara bukanlah gedung tinggi

 

Negara adalah pelayanan

Negara adalah kehadiran

Negara adalah tangan yang menjangkau

ketika jarak terasa terlalu jauh

Papua tidak meminta ukuran yang sama

untuk keadaan yang tidak sama

 

Satu kilometer jalan di kota

tidak sama dengan satu kilometer jalan di pegunungan.

Satu kotak obat yang dibawa mobil

tidak sama dengan obat yang harus terbang

dengan pesawat kecil

menembus kabut dan angin

 

Satu sekolah di tengah kota

tidak sama dengan sekolah

yang berdiri di balik gunung

di mana guru harus berjalan berjam-jam

untuk menemui murid-muridnya

Karena itu

keadilan bukan membagi semuanya sama rata

 

Keadilan adalah memberi lebih

kepada mereka yang harus menempuh jalan lebih berat

agar akhirnya dapat berdiri pada kesempatan yang sama

 

Papua membutuhkan afirmasi —

bukan karena ingin diistimewakan

tetapi karena keadilan memang harus memahami jarak

geografi, sejarah

dan kenyataan hidup manusia

 

Di tanah ini

Tuhan telah menumbuhkan makanan

jauh sebelum program-program datang

Ada sagu

Ada ubi

Ada keladi

Ada singkong

Ada pisang dan jagung

Ada sayur dari kebun mama-mama

Ada ikan dari laut

Ada hasil sungai

Ada buah merah

Ada kopi dari pegunungan

Ada kakao

Ada ternak

 

Ada kehidupan

yang tumbuh dari tanah sendiri

 

Maka ketika makanan bergizi diberikan kepada anak-anak

biarlah pangan kampung ikut memenuhi piring mereka

 

Biarlah ubi petani Papua dibeli

Biarlah ikan nelayan Papua mendapat pasar

Biarlah sayur mama-mama masuk ke dapur

Biarlah telur peternak kampung

menjadi bagian dari makanan anak-anak sekolah

 

Supaya satu piring makanan

tidak hanya mengenyangkan seorang anak

tetapi juga menghidupkan satu keluarga

 

Anak memperoleh gizi

Petani memperoleh pasar

Mama memperoleh pendapatan

Nelayan memperoleh pembeli

Koperasi memperoleh kehidupan

 

Dan uang tidak segera pergi meninggalkan kampung

Ia berputar

Ia tinggal

Ia menumbuhkan harapan

 

Bangunlah koperasi —

tetapi jangan hanya bangun papan nama

Jangan hanya ada gedung

yang terkunci setelah peresmian

 

Jadikan koperasi rumah ekonomi rakyat

Tempat petani membawa hasil kebunnya

Tempat mama Papua menjual hasil kerjanya

Tempat hasil bumi disimpan

diolah

dibawa

dan dipasarkan

 

Sebab rakyat Papua tidak selalu kekurangan kemampuan

Sering kali mereka hanya kekurangan jalan menuju pasar

Mereka dapat menanam, tetapi sulit menjual

Mereka dapat menghasilkan, tetapi lemah menentukan harga

 

Maka negara harus membantu

agar tangan yang bekerja

bertemu dengan pasar yang adil

Dan kepada anak-anak Papua

katakanlah:

Tempat lahirmu tidak boleh menentukan batas mimpimu

 

Engkau boleh lahir di kampung paling jauh

Engkau boleh tumbuh di balik gunung

Engkau boleh tinggal

di pulau yang hanya didatangi kapal beberapa kali

 

Tetapi engkau mempunyai hak yang sama

untuk mengenal huruf

membaca buku

menguasai ilmu

memahami teknologi

dan menatap masa depan

 

Bangun sekolah

Sediakan buku

Hadiahkan teknologi

Buka internet

 

Tetapi jangan lupa: hadirkan guru

Karena layar tidak dapat menggantikan kasih seorang guru

Internet tidak dapat menggantikan keteladanan

Gedung tidak dapat mengajar

Kurikulum tidak dapat memeluk anak

yang hampir kehilangan harapan

 

Papua membutuhkan guru

yang datang

tinggal

mengajar

memahami

dan mencintai

 

Papua juga membutuhkan lebih banyak anak Papua

yang kelak kembali sebagai guru —

mereka mengenal bahasa kampung

memahami adat

memahami luka dan harapan masyarakatnya

 

Biarlah pendidikan membawa anak Papua

menjelajah dunia

tetapi jangan sampai dunia

menghapus Papua dari dalam dirinya

 

Jika seorang anak sakit di pedalaman

jangan tanyakan mengapa ia tidak datang ke rumah sakit

 

Tanyakan:

Mengapa pelayanan kesehatan belum datang kepadanya?

 

Sebab gratis belum tentu berarti terjangkau

Rumah sakit boleh gratis —

tetapi gunung tetap tinggi

Sungai tetap lebar

Pesawat tetap mahal

Perjalanan tetap panjang

 

Maka biarlah negara bergerak

Puskesmas hidup

Pustu berfungsi

Obat tersedia

Bidan hadir

Perawat tinggal

Dokter datang

 

Pelayanan bergerak memasuki kampung

Dan dari anak-anak Papua hari ini

lahirlah dokter-dokter Papua esok hari

Lahirlah perawat

bidan

tenaga gizi

tenaga kesehatan —

yang kembali melayani tanah tempat mereka dilahirkan

 

Nyalakan pula jaringan di pegunungan

Sebab internet bukan sekadar sinyal

Di kampung terpencil

internet adalah jalan baru

 

Ia membawa buku tanpa truk

Ia mempertemukan dokter tanpa pesawat

Ia menghubungkan guru dengan ilmu

Ia menghubungkan mahasiswa dengan perpustakaan

Ia menghubungkan petani dengan pasar

Ia memperpendek jarak

antara kampung dan dunia

 

Tetapi jangan bangun menara tanpa listrik

Jangan pasang jaringan tanpa perangkat

Jangan bicara digitalisasi

kepada sekolah yang tidak memiliki komputer

 

Karena pembangunan

bukan hanya tentang apa yang berdiri —

tetapi tentang apa yang benar-benar berfungsi

 

Dan tentang Otonomi Khusus

jangan hanya tanyakan:

Berapa triliun sudah dikirim?

 

Tanyakan:

Berapa anak Papua telah menyelesaikan sekolah?

Berapa mama Papua usahanya bertumbuh?

Berapa kampung memiliki air bersih?

Berapa puskesmas benar-benar melayani?

Berapa tenaga kesehatan Papua telah dilahirkan?

Berapa pengusaha asli Papua mampu berdiri?

Berapa kampung keluar dari keterisolasian?

Berapa keluarga hidup lebih bermartabat?

 

Karena anggaran hanyalah angka

sampai ia berubah menjadi kehidupan

Dana hanyalah catatan

sampai ia berubah menjadi pelayanan

Otonomi Khusus hanyalah kebijakan

sampai rakyat merasakan hasilnya

 

Papua bukan peminta belas kasihan

Papua bukan sekadar penerima bantuan

 

Papua adalah tanah kehidupan —

tanah hutan dan laut

tanah gunung dan sungai

tanah ratusan bahasa

tanah adat

tanah doa

tanah generasi muda

yang menyimpan kekuatan masa depan

 

Karena itu jangan hanya membangun Papua

Bangunlah bersama orang Papua

Dengarkan sebelum memutuskan

Bertanya sebelum mengambil

Menghormati sebelum membangun

 

Jangan memandang tanah adat sebagai tanah kosong

Di sana ada sejarah

ada nama leluhur

ada kehidupan

ada identitas

ada masa depan anak cucu

 

Libatkan mama-mama

Libatkan pemuda

Libatkan gereja

Libatkan adat

Libatkan kampung

 

Karena manusia bukan penonton pembangunan

Manusia adalah tujuan pembangunan

Maka bila suatu hari kita ingin mengetahui

apakah negara telah berhasil di Papua

 

jangan hanya berdiri di Jayapura

Jangan hanya melihat Sorong

Jangan hanya menghitung gedung di Manokwari

Jangan hanya melihat jalan di Merauke

Jangan hanya melihat perkembangan Timika

Nabire

atau Wamena

 

Pergilah lebih jauh

Naiklah ke gunung

Turunlah ke lembah

Seberangilah sungai

Susurilah rawa

Berlayarlah menuju pulau-pulau kecil

 

Datanglah ke kampung

yang namanya jarang disebut dalam pidato

Ketuklah pintu rumah rakyat

Lalu tanyakan kepada seorang ibu:

Apakah hidupmu sekarang lebih baik?

Tanyakan kepada seorang anak:

Apakah gurumu hadir?

Tanyakan kepada petani:

Apakah hasil kebunmu mempunyai pasar?

 

Tanyakan kepada orang sakit:

Apakah engkau mendapatkan pelayanan?

Tanyakan kepada masyarakat adat:

Apakah tanahmu dihormati?

 

Di sanalah

jawaban tentang keberhasilan pembangunan ditemukan

Sebab kemerdekaan

tidak boleh berhenti di istana

Tidak boleh berhenti di gedung kementerian

di kantor gubernur

atau di kantor bupati

 

Kemerdekaan harus berjalan —

menembus kabut

mendaki gunung

menuruni lembah

menyeberangi sungai

menyusuri rawa

mengarungi laut

memasuki jalan-jalan kecil

 

Sampai akhirnya

ia mengetuk pintu honai

rumah panggung

rumah pesisir

dan rumah-rumah sederhana

di kampung paling jauh

 

Dan ketika seorang anak Papua dapat belajar dengan tenang

ketika seorang mama mendapat pelayanan tanpa berjalan berhari-hari

ketika seorang petani menjual hasil kebunnya dengan harga yang adil

ketika seorang pasien mendapat obat pada waktunya

ketika listrik menyala

ketika air bersih mengalir

ketika tanah adat dihormati

ketika rakyat mengetahui ke mana uang pembangunan digunakan —

 

barulah kita dapat berkata:

Negara telah hadir

Barulah pemerataan bukan sekadar janji

Barulah Otonomi Khusus mempunyai wajah

Barulah pembangunan mempunyai jiwa

Dan barulah kemerdekaan menemukan maknanya

 

Karena Papua Raya tidak meminta belas kasihan —

Papua Raya meminta keadilan

Papua Raya tidak ingin hanya disebut dalam pidato

Papua Raya ingin membuktikan

bahwa Republik ini mampu merangkul

mereka yang hidup paling jauh

dari pusat kekuasaan

 

Maka biarlah satu kalimat

bergema dari kota hingga pegunungan

dari pesisir hingga lembah-lembah terdalam:

Merdeka bukan hanya dikumandangkan di ibu kota

Merdeka harus berjalan sampai ke kampung

Merdeka harus hadir dalam pelayanan

Merdeka harus menjadi keadilan

 

Dan di tanah Papua

merdeka harus dirasakan —

sampai di kampung-kampung terjauh

Karubaga, Agustus 2026

Karya Yosua Noak Douw

Topeng Manis Berhati Racun

 

Ada wajah yang pandai tersenyum

seperti bulan di malam sunyi

terlihat indah dari kejauhan

tetapi menyimpan gerhana di dalam hati

 

Lidahnya manis seperti madu

tetapi hatinya tajam seperti sembilu

Di depan ia menabur bunga

di belakang ia menyiram duri

agar langkah orang lain terluka

 

Ia datang seperti sahabat

tetapi pulang membawa cerita yang diputar

Ia duduk dekat seperti saudara

tetapi diam-diam menjual kepercayaan

di pasar kepentingan

 

Orang bermuka dua

seperti pisau yang dibungkus kain sutra

Tampak halus saat disentuh

tetapi melukai ketika dipercaya

 

Mereka memuji saat mata bertemu

namun menjatuhkan saat punggung berbalik

Mereka tertawa di meja yang sama

tetapi hatinya bersorak

ketika melihat orang lain jatuh dan terluka

 

Jangan terlalu percaya pada senyum

yang belum teruji oleh waktu

Sebab tidak semua yang dekat itu tulus

tidak semua yang ramah itu setia

dan tidak semua yang berkata peduli

benar-benar punya hati

 

Biarlah waktu menjadi terang

membuka topeng satu per satu

Sebab kepura-puraan bisa menang sebentar

tetapi ketulusan akan berdiri lebih lama

 

Kita tidak perlu membalas racun dengan racun

tidak perlu menanam duri di jalan mereka

Cukup jaga langkah, kuatkan hati

dan biarkan Tuhan membaca

apa yang manusia sembunyikan

 

Karena pada akhirnya

topeng akan jatuh

lidah manis akan kehilangan rasa

dan hati yang penuh racun

akan dikenal dari buah perbuatannya

 

Sedangkan orang yang tulus

meski sering terluka

akan tetap berjalan dengan damai

seperti matahari pagi

yang tidak pernah dendam kepada malam

Karubaga, Agustus 2026

Karya Yosua Noak Douw

Langit, Berapa Lama Lagi?

Langit, berapa lama lagi kau menyimpan hujan di balik awanmu? Matahari terlalu lama menyalakan bara, membakar siang hingga tanah kehilangan kesejukannya. Debu berkelana di antara jalan-jalan sunyi, tanah retak membuka mulutnya seperti bibir yang kehausan. Sungai menyusut menjadi garis kenangan, sementara daun-daun layu berguguran satu demi satu, seakan bumi sedang menghitung hari menuju kepunahan.

Di ladang, benih-benih menunggu dengan sabar yang hampir patah. Padi menundukkan kepala, bukan karena panen, melainkan karena dahaga yang tak kunjung reda. Pohon-pohon mengangkat rantingnya seperti tangan-tangan tua yang memohon kepada langit. Para petani menatap cakrawala dengan mata yang menyimpan kecemasan, berharap awan datang membawa kabar baik. Namun yang turun hanya cahaya yang tajam, sementara air mata manusia menjadi satu-satunya hujan yang mengenal tanah.

Malam pun datang tanpa kesejukan. Bintang-bintang menggantung seperti lampu kecil di atas bumi yang letih, dan doa-doa naik perlahan dari rumah-rumah yang pintunya terbuka kepada angin. Kami tidak meminta langit menurunkan keajaiban, hanya setetes air membasahi akar, menghidupkan sungai, dan mengembalikan warna pada daun yang pucat.

Langit, berapa lama lagi? Jangan biarkan matahari menjadi satu-satunya cerita yang kami kenal. Kirimkanlah awan yang membawa kehidupan, biarkan hujan jatuh seperti rahmat di atas tanah yang retak. Biarlah sungai menemukan suaranya, ladang kembali menghijau, dan benih-benih membuka mata menuju cahaya baru. Jika hari ini bumi sedang belajar tentang dahaga, biarlah kami belajar tentang ketabahan.

Nabire, 10 Agustus 2026

Karya Eugen Mahendra Duan

Ratap Flores

Pagi itu bumi tidak memberi salam; ia mengguncang sunyi pada pukul 05.58, seperti tangan purba yang tiba-tiba membangunkan luka yang lama tertidur. Lonceng gereja belum sempat memanggil nama-nama mereka, tetapi atap-atap rumah lebih dahulu jatuh menimpa mimpi. Tanah merekah, dinding-dinding kehilangan kekuatannya, dan debu naik seperti kabut duka yang menutup wajah pagi. Flores, untuk sesaat, seperti kehilangan pijakan—langit menjadi saksi, laut menahan napas, dan manusia belajar betapa rapuhnya hidup di atas bumi yang selama ini mereka sebut rumah.

Dari Larantuka hingga Labuan Bajo, ibu-ibu memeluk anaknya di bawah meja kayu, sementara bapak-bapak berlari menyusuri jalan yang retak, memanggil nama-nama yang mereka cintai. Namun yang menjawab hanya gema, debu, dan batu-batu yang jatuh dari ingatan. Sepiring nasi menunggu tanpa tangan yang menyentuhnya, sebuah kursi tetap kosong, dan pintu rumah yang roboh seakan masih menyimpan suara mereka yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Bunda Reinha Rosari, di hadapanmu seorang anak bertanya dengan mata yang basah, “Mengapa Tuhan tidak menahan bumi?” Engkau diam, sebab bahkan doa pun kadang membutuhkan waktu untuk menemukan kata-kata. Di tanah yang mengenal salib, mereka berlutut di antara puing-puing, bukan karena tidak takut, melainkan karena mereka tahu kepada siapa ketakutan itu harus diserahkan. Mereka lelah menghitung gempa susulan, lelah berpura-pura kuat di depan anak-anak, lelah tidur dengan satu mata terbuka, takut malam kembali menjadi suara runtuhnya rumah. Namun di tengah lelah itu, tangan-tangan datang membawa air, makanan, selimut, obat, dan pelukan; dari luka yang sama, persaudaraan tumbuh seperti akar yang menolak mati.

Maka, Tuhan, terimalah mereka yang telah Kau panggil pulang dan peluklah mereka dalam damai-Mu. Sembuhkan tubuh yang terluka dan hati yang kehilangan; kuatkan mereka yang masih menggali dengan tangan kosong, mereka yang tidur di bawah tenda, dan mereka yang setiap malam mendengar kembali suara bumi. Ajarilah mereka menjadi lilin—kecil, tetapi tetap menyala ketika angin datang membawa gelap. Sebab Flores tidak sendiri: di setiap reruntuhan ada doa, di setiap tangis ada saudara, di setiap tangan yang terulur ada kasih-Mu, dan di setiap luka ada Kristus yang ikut memikul salib. Sampai rumah-rumah berdiri kembali, sampai tawa anak-anak memenuhi halaman, sampai lonceng gereja berbunyi tanpa ketakutan—bangkitkanlah Flores, ya Tuhan, dari debu menjadi harapan, dari duka menjadi kekuatan, dari reruntuhan menjadi kehidupan. Kasihanilah mereka yang rapuh, hiburkanlah mereka yang kehilangan, dan jangan pernah tinggalkan tanah yang dicintai.

Nabire, 15 Agustus 2026

Karya Eugen Mahendra Duan

Penulis

Eugene Mahendra Bala Duan lahir 18 Juni 1985 di Lewoleba, Lembata. Ia disapa Hendra. Saat ini ia mengabdi sebagai guru di SMP YPPK Santo Antonius, Nabire, kota Provinsi Papua Tengah. Menulis opini di sejumlah media massa nasional dan lokal. Ia juga penikmat sastra.

Yosua Noak Douw lahir 18 November 1982 di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Masuk SD Negeri Karubaga tahun 1989-1991, SD YPPGI Tulem tahun 1991-1992, dan SD Inpres Porome, Distrik Kelila, Kabupaten Jayawijaya tahun 1992-1994.

Yosua merampungkan kuliah S1 di Fisip Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, meraih Magister Ilmu Ekonomi Uncen tahun 2013, dan doktor di Uncen tahun 2023. Yosua seorang kolumnis media lokal dan nasional. Ia menulis dua buku karyanya: Membangun Papua: Catatan dari Timur (2025) dan Papua: Dari Hati ke Hati (2026). Yosua juga penikmat sastra terutama puisi.

Puisi karyanya masuk dalam Antologi Puisi berjudul Air Mata Sumatera (2026), diterbitkan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bekerja sama dengan Majalah Elipsis dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.