KUPANG, ODIYAIWUU.com — Data sementara pihak Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur melaporkan, hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WITA jumlah sementara korban meninggal sebanyak 70 orang, 384 orang mengalami luka-luka, dan 48.922 orang mengungsi.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengguncang Pulau Flores, NTT, Sabtu (15/8) pagi. Gempa melanda kabupaten di Flores seperti Kabupaten Manggarai Barat. Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur.
Kepala Pelaksana BPBD NTT Mahadin Sibarani mengatakan, Kabupaten Manggarai mencatat korban meninggal terbanyak, yakni 27 orang.
Kemudian, disusul Kabupaten Manggarai Timur 25 orang dan Nagekeo 8 orang. Selanjutnya, Sikka mencatat 4 orang meninggal dunia dan Manggarai Barat, Ende, dan Ngada masing-masing mencatat 2 orang meninggal dunia.
“Untuk korban luka-luka, Manggarai mencatat 163 orang, Manggarai Timur 84 orang, Ende 26 orang, Sikka 40 orang, Ngada 36 orang, Nagekeo 22 orang, dan Manggarai Barat 13 orang,” ujar Mahadin Sibarani di Kupang, kota Provinsi NTT, Rabu (19/8).
Sedangkan, Nagekeo menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak: 18.217 orang, disusul Manggarai 17.356 orang; Sikka 6.395 orang; Ende 3.633 orang; Manggarai Timur 2.681 orang; dan Ngada 640 orang. Sementara itu, data pengungsi Manggarai Barat belum tersedia di tabel.
Kerusakan rumah tersebar di tujuh kabupaten dengan total 22.469 unit. Nagekeo mencatat kerusakan terbanyak: 7.430 rumah, disusul Manggarai 5.258 rumah; Manggarai Barat 4.176 rumah; Ende 1.115 rumah; Sikka 832 rumah; Manggarai Timur 183 rumah; dan Ngada 3.475 rumah.
Menurut Sibarani, dari total tersebut tercatat 6.511 rumah rusak berat: 5.052 rusak sedang, dan 7.431 rusak ringan. Untuk Ngada, rincian kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan belum tersedia di tabel.
Selain rumah, kata Sibarani gempa juga berdampak pada fasilitas pelayanan dasar dan fasilitas umum. Tabel mencatat 735 satuan pendidikan, 149 rumah ibadat, 190 fasilitas pelayanan kesehatan, 168 kantor pemerintahan, dan 113 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Di Manggarai tercatat 117 satuan pendidikan, data rumah ibadat belum tersedia, 39 fasilitas pelayanan kesehatan, 29 kantor pemerintahan, dan 7 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Sementara itu, lanjut Sibarani, Manggarai Barat mencatat 28 satuan pendidikan, 19 rumah ibadat, 14 fasilitas pelayanan kesehatan, 26 kantor pemerintahan, dan satu fasilitas umum mengalami kerusakan.
Di Nagekeo tercatat 415 satuan pendidikan, 27 rumah ibadat, 20 fasilitas pelayanan kesehatan, 20 kantor pemerintahan, dan lima fasilitas umum mengalami kerusakan.
Sibarani juga memetakan status penanganan bencana berbeda di setiap kabupaten. Manggarai, katanya, menetapkan status tanggap darurat selama 90 hari, mulai 15 Agustus hingga 28 September 2026.
Manggarai Barat menetapkan status darurat bencana selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Manggarai Timur menetapkan status siaga darurat berlaku 15 Agustus hingga 4 September 2026.
Ende menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 hingga 29 Agustus 2026, sedangkan Sikka menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Ngada menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026. Nagekeo menetapkan status tanggap darurat mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026. (*)










