WAMENA, ODIYAIWUU.com — Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Dr Velix Vernando Wanggai, SIP, MPA, Jumat (8/5) melakukan pertemuan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Papua Pegunungan dalam rangka mendorong percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Pegunungan.
Pertemuan tersebut dihadiri juga Wakil Gubernur Papua Pegunungan Dr Ones Pahabol, SE, MM serta jajaran perwakilan Badan Gizi Nasional. Kehadiran Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, diakuinya, bertujuan memastikan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Pertemuan ini bertujuan memastikan program prioritas Bapak Presiden khususnya Makan Bergizi Gratis dapat berjalan efektif dan menyentuh seluruh anak di tanah Papua, terutama di Papua Pegunungan,” ujar Velix melalui keterangan tertulis yang diterima dari Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu (9/5).
Menurut Velix, Program MBG tidak hanya berfokus pada penanganan stunting dan peningkatan gizi anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui rantai pasok pangan lokal dan pembangunan dapur MBG di berbagai wilayah Papua Pegunungan.
“Target kita di tanah Papua cukup besar, yakni 2.472 dapur MBG. Dengan jumlah penerima manfaat yang mencapai ratusan ribu anak, maka dibutuhkan langkah-langkah percepatan yang bersifat terobosan, baik dari sisi regulasi, waktu, pola pengelolaan maupun penyesuaian terhadap kondisi geografis dan sosial di Papua,” kata Velix.
Mantan Penjabat Gubernur Papua Pegunungan ini menambahkan, konsep yang didorong adalah “MBG rasa Papua” atau MBG kontekstual Papua, sehingga pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan karakteristik wilayah dan budaya masyarakat setempat.
“Keterlibatan pemerintah daerah, gereja, yayasan, koperasi, komunitas hingga mitra investor dalam mendukung pembangunan dapur MBG sangat penting. Selain itu, program ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, terutama mama-mama Papua dan generasi muda,” ujar Velix, tokoh muda nasional dan putra asli Papua.
Menurut Velix, dalam satu dapur diperkirakan dapat menyerap sekitar 30 tenaga kerja lokal. Mama-mama bisa bekerja, anak-anak muda Papua juga dapat dilibatkan untuk mengelola dapur secara mandiri.
Program MBG juga diakui merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga mendekatkan pasar bagi hasil pertanian masyarakat Papua.
“MBG jangan hanya dilihat sebagai program makan gratis, tetapi sebagai cara mendekatkan pasar dan off taker bagi hasil pertanian masyarakat seperti tomat, kol, kentang, daging maupun hasil kebun lainnya,” kata Velix.
Sementara itu Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol mengatakan, Program MBG sangat tepat diterapkan di Papua Pegunungan, khususnya bagi masyarakat di wilayah pedalaman dan terpencil.
Menurut Ones, secara budaya dan kondisi sosial masih banyak anak di pedalaman yang berangkat sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan makanan dalam keluarga.
“Di daerah pedalaman banyak anak berjalan kaki berkilo-kilo menuju sekolah dalam kondisi perut kosong. Saya sendiri lahir dan besar dalam kondisi seperti itu. Karena itu program MBG ini sangat cocok dan sangat dibutuhkan masyarakat di pedalaman,” ujar Ones, mantan Bupati Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan.
Ones menambahkan, persoalan yang sempat muncul dalam pelaksanaan MBG sebelumnya lebih disebabkan oleh kesalahan informasi yang berkembang di masyarakat. Namun, melalui pendekatan dan sosialisasi yang baik, masyarakat kini mulai menerima dan mendukung program tersebut.
Kehadiran dapur MBG, ujar Ones, mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi mama-mama Papua. Hasil kebun seperti sayur dan buah kini dapat langsung dibeli oleh dapur MBG tanpa harus dibawa jauh ke pasar.
“Sekarang mama-mama tidak perlu lagi khawatir sayur tidak laku di pasar. Mereka cukup membawa hasil kebun ke dapur MBG, dibeli di situ, lalu kembali ke kebun lagi. Ini sangat membantu ekonomi masyarakat,” kata Ones.
Selain itu, Program MBG juga dinilai mampu memberdayakan generasi muda Papua melalui keterlibatan langsung dalam pengelolaan dapur dan sistem distribusi pangan di daerah.
Ones Pahabol di aakhir pertemuan berharap agar percepatan pembangunan dapur MBG di delapan kabupaten Papua Pegunungan dapat segera dilakukan secara bertahap tanpa harus menunggu terlalu lama, sehingga manfaat program dapat segera dirasakan masyarakat luas. (*)










