PONU, ODIYAIWUU.com — Komunitas Suster-Suster Amal Darah Maha-Kudus (ADM) Ponu, Regio Timor dan Yayasan Lentera Amal Kasih, Jumat (28/8) sukses menyelenggarakan kegiatan akademik di kompleks Taman Seminarium Seraphine, Kecamatan Ponu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan akademik yang berlangsung di tapal batas negara Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste bertajuk Lokakarya Penguatan Tata Kelola dan Pelayanan Yayasan Lentera Amal Kasih. Lokakarya tersebut merupakan tonggak sejarah baru dalam dunia pendidikan diukir di gerbang RI dan negara Timor Lorosae (Matahari Terbit) yang berjarak sepelemparan batu.
Peristiwa akademik dan manajerial tersebut menjadi catatan sejarah sekaligus terobosan baru sebagai kegiatan pelatihan tata kelola lembaga pendidikan pertama yang diselenggarakan secara inklusif dan belum pernah ada sebelumnya di sepanjang sejarah Ponu.
Selamat ini, Ponu yang berada di tapal batas RI-Timor Leste mendambakan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang terstruktur dan bermutu. Karena itu, dalam rangka menjawab kerinduan tersebut Suster-Suster ADM Ponu mengambil langkah visioner dengan menghadirkan ruang belajar kepemimpinan dan manajemen modern.
Ketua Yayasan Lentera Amal Kasih Sr Brigida Fernandez, ADM mengungkapkan latar belakang perkembangan skala kegiatan tersebut. Rencana awal, narasumber diundang secara khusus untuk memberikan arahan internal mengenai tata kelola yayasan bagi Komunitas.
Namun, dalam prosesnya timbul kesadaran mendalam bahwa materi ini terlalu berharga jika hanya dikonsumsi kalangan terbatas. Rencana awal, narasumber diundang untuk membantu menjelaskan tata kelola yayasan untuk komunitas ADM.
“Namun kami merasa bahwa materi ini sangat baik untuk pembelajaran yang lebih luas di Ponu. Baik untuk para pengurus yayasan pendidikan lainnya, para guru, pastor, aparat pemerintahan kecamatan, kepala desa, pelaku pendidikan, dan para pihak, stakeholder. Oleh karena itu maka tema besar ini menjadi sangat penting bagi kita bersama,” ujar Sr Brigida.
Kehadiran para stakeholder dalam lokakarya ini mencerminkan antusiasme serta persatuan yang luar biasa. Ruang kegiatan dipenuhi oleh perwakilan dari berbagai elemen, mulai dari pengurus yayasan pendidikan, para pendidik/guru, pastor paroki hingga aparatur pemerintah tingkat kecamatan dan kepala-kepala desa di Ponu.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Uskup Keuskupan Atambua RD Lusius Resanualto, Pr. Pastor Lusius dalam sambutannya menyampaikan amanat dan pesan gembala dari Uskup Atambua Mgr Dr Dominikus Saku, Pr mengenai pentingnya karya pendidikan di tapal batas RI-Timor Leste.
“Bapak Uskup sangat mendukung pengembangan pendidikan di Ponu. Semoga karya pendidikan dan lokakarya ini memberikan cahaya terang bagi seluruh masyarakat di sana,” ujar Pastor Lusius menyampaikan pesan resmi Keuskupan Atambua.
Lokakarya terkait tiga sesi pembelajaran interaktif. Pertama, pemimpin adalah pemimpi. Sesi ini bertujuan membangkitkan visi kepemimpinan, merumuskan peta jalan (roadmap) pendidikan perbatasan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga akademik atau pusat perdamaian) serta meneladani semangat filantropi Katolik Conrad Hilton.
Kedua, dari mimpi menjadi organisasi. Sesi ini terkait pendalaman pemahaman Tubuh Kristus (1 Korintus 12) serta pembagian tegas antara tugas, wewenang (authority), tanggung jawab (responsibility), dan akuntabilitas (accountability).
Ketiga, tata kelola yayasan pendidikan. Sesi ini berisi pembekalan aspek legalitas merujuk Undang-Undang Yayasan Nomor 16 Tahun 2001 juncto Nomor 28 Tahun 2004, UU Sisdiknas, pemenuhan delapan standar nasional pendidikan (SNP) serta akuntabilitas keuangan dan tata kelola independen.
Puncak lokakarya menegaskan bahwa wewenang dapat didelegasikan dan tugas operasional dapat dibagi, tetapi akuntabilitas tertinggi tetap berada di tangan pimpinan. Hal ini menjadi landasan moral dan praktis yang berharga bagi seluruh pengurus lembaga dan kepala desa yang hadir.
Kegiatan yang dirintis oleh komunitas Suster-Suster ADM Ponu tersebut membuktikan bahwa batas wilayah geografis bukan penghalang untuk menghadirkan pemikiran dan tata kelola berkelas dunia.
Dengan sinergi kuat antara Gereja, pemerintah, yayasan, dan masyarakat, Ponu kini siap menatap masa depan sebagai pusat keunggulan pendidikan, pelestarian budaya Timor, dan pembawa kedamaian di wilayah tapal batas dua negeri sedaratan. (*)










