WAMENA, ODIYAIWUU.com — Para pimpinan gereja, pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, pemuda, Lembaga Masyarakat Adat (LMA), Majelis Rakyat Papua (MRP), dan sejumlah pihak, Sabtu (16/5) menggelar rapat bersama menyusul konflik yang terjadi antara sesama orang asli Papua di Ruang Rapat Bupati Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Ketua Klasis Gereja Injili di Tanah Papua (GIDI) Lembah Balim Wamena Pendeta Minus Wanimbo, S.Th mengatakan, sejumlah pimpinan GIDI hadir dalam rapat tersebut.
Mereka antara lain Presiden GIDI Pendeta Usman Kobak, MA; Ketua Wilayah Bogo Pendeta Potias Pegawak, S.Th; Ketua Klasis Lembah Balim Wamena Pendeta Minus Wanimbo, S.Th; dan Sekretaris Klasis Lembah Balim Pendeta Leno Kaningga, M.Th.
“Setelah mengikuti perkembangan situasi konflik yang terjadi, seluruh pimpinan melakukan rapat koordinasi. Hasil Keputusan rapat kami teruskan juga kepada seluruh umat GIDI di Wilayah Bogo khususnya Klasis Lembah Balim Wamena,” ujar Pendeta Minus Wanimbo di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu (16/5).
Menurut Pendeta Minus Wanimbo, rapat menghasilkan sejumlah leputusan penting. Pertama, konflik antara sesama orang asli Papua di Papua Pegunungan mulai Sabtu (16/5) dinyatakan berhenti. Oleh karena itu masa perang dari masing-masing pihak akan dipulangkan mulai besok ke asal kabupaten.
Kedua, seluruh pimpinan gereja, pemerintah, tokoh adat, pemuda dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lainnya turut mengambil peran dalam mobilisasi masa membangun kesadaran akan kekeluargaan, kesatuan, perdamaian dan cinta kasih.
Ketiga, pemerintah di bawah pimpinan Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Dr Ribka Haluk akan segera menggarap Perdasus dan Perdasi untuk memproteksi setiap masalah ke depan.
Keempat, pemerintah tidak akan bayar kepala lagi. Karena itu seluruh tokoh masyarakat, agama, adat, intelektual, dan seluruh pihak mulai membangun kesadaran serta edukasi publik bahwa tidak boleh ada pembunuhan, peperangan ataupun pertikaian dengan alasan apapun.
Kelima, seluruh masyarakat mulai ibadah dengan tenteram pada Minggu (17/5) dan kembali beraktivitas seperti biasa mulai Senin (18/5).
Keenam, untuk seterusnya Papua Pegunungan akan memberlakukan hukum positif. Pelaku atau aktor di balik setiap konflik akan ditangkap, diadili, dan dipenjarakan.
Menurut Minus Wanimbo, dalam rapat tersebut dibeberkan pula bahwa musibah jembatan Uwe yang ambruk merengut 33 nyawa warga. Sebanyak 22 orang ditemukan dan 11 lainnya masih dalam proses pencarian.
“Oleh karena itu, selama lima hari akan dilakukan pencarian oleh pihak netral yakni tim pencarian dan pertolongan, SAR dan TNI,” ujar Minus Wanimbo lebih lanjut.
Sementara korban perang yang terjadi pada Jumat (15/5), rapat mempercayakan kepada pihak kepolisian dan pembela HAM untuk melakukan pendataan mulai Sabtu (16/5).
“Oleh sebab itu seluruh umat jangan panik mengingat pihak aparat mulai berdatangan di lokasi rumah-rumah sekitar Kali Uwe sebelah menyebelah untuk mendata. Salam Damai! Allah beserta kita,” kata Minus Wanimbo. (*)










