CIRATA, ODIYAIWUU.com — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M. Eng, IPM, ASEAN Eng, Senin (11/5) melakukan kunjungan kerja (kunker) di kawasan pembangkit energi bersih Cirata, Provinsi Jawa Barat.
Kunker Johni Numberi, anggota DEN unsur akademisi, sebagai bagian dari agenda penguatan pengawasan, evaluasi, dan dukungan terhadap percepatan transisi energi nasional berbasis energi baru terbarukan.
Dalam kunjungan tersebut, Numberi mengapresiasi langkah Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nusantara Power dalam mengembangkan kawasan pembangkit hybrid yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di kawasan Waduk Cirata.
“Model integrasi PLTA dan PLTS terapung tersebut merupakan contoh nyata pembangunan energi masa depan Indonesia yang sejalan dengan visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam agenda Asta Cita, khususnya dalam mewujudkan swasembada energi, ketahanan energi, kemandirian energi, dan kedaulatan energi nasional,” ujar Numberi di Jakarta, Kamis (14/5).
Numberi menjelaskan, saat ini PLTA Cirata yang memiliki kapasitas 1.008 Megawatt (MW) merupakan PLTA terbesar di Indonesia.
Sedangkan, PLTS Terapung Cirata dengan kapasitas 192 Megawatt Peak (MWp) menjadi salah satu PLTS terapung terbesar di kawasan Asean sejak mulai beroperasi pada November 2023.
Keberadaan kedua pembangkit tersebut dinilai menjadi simbol transformasi energi Indonesia menuju sistem energi bersih yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
“Cirata menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam membangun kedaulatan energi berbasis sumber daya domestik dan energi terbarukan. Integrasi PLTA dan PLTS terapung ini menjadi model strategis yang dapat mendukung arah kebijakan Presiden Prabowo-Gibran dalam memperkuat swasembada dan ketahanan energi nasional,” ujar Numberi.
Numberi menegaskan, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk pengembangan PLTS, termasuk target pengembangan PLTS hingga 100 Giga Watt (GW) secara nasional pada masa depan.
Keberhasilan pengembangan PLTS Terapung Cirata, lanjut Numberi, harus menjadi referensi nasional bagi daerah-daerah lain yang memiliki waduk, danau, telaga, maupun badan air potensial di seluruh Indonesia.
“Daerah-daerah di Indonesia yang memiliki danau, waduk, dan telaga dapat mencontohi model Cirata dalam mengembangkan PLTS terapung dan PLTA secara terintegrasi. Ini penting untuk membangun kemandirian energi daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil,” kata Numberi lebih lanjut.
Selama melakukan peninjauan lapangan, Numberi juga mencermati sejumlah tantangan teknis pada unit pengapung (floater) PLTS Terapung Cirata yang dipengaruhi oleh keberadaan biota air endemik. Namun demikian, operator proyek, Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energy (PMSE), dinilai telah melakukan langkah penanganan secara cepat melalui penggantian floater secara bertahap yang ditargetkan selesai pada Agustus 2026.
Menurut Numberi tantangan tersebut justru membuka peluang riset dan inovasi nasional bagi perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para akademisi Indonesia dalam mengembangkan teknologi PLTS terapung yang lebih adaptif terhadap karakteristik ekosistem tropis Indonesia.
“Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Momentum ini harus menjadi ruang bagi penguatan riset nasional, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia di bidang energi baru terbarukan,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, pihak PLN Nusantara Power menyampaikan bahwa pengembangan kawasan energi bersih Cirata merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung agenda transisi energi nasional dan pencapaian target net zero emission Indonesia.
“Pemanfaatan waduk eksisting sebagai lokasi PLTS terapung juga menjadi solusi inovatif dalam pengembangan energi surya skala besar yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Numberi.
Direktur Operasi Pembangkit Gas PLN Nusantara Power Komang Parmita menfatakan, dukungan dan perhatian dari Dewan Energi Nasional menjadi motivasi bagi PLN Nusantara Power untuk terus memperkuat portofolio pembangkit hijau nasional.
Melalui kunjungan kerja ini, DEN menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan energi baru terbarukan nasional guna mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berketahanan energi sesuai arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. (*)










