OPINI  

Kenapa Pedagogi Pembelajaran-Berpusat pada Siswa Penting di Papua?

Simon Tabuni, Kandidat Doktor Uppsala University, Swedia; Intelektual Muda Tanah Papua. Foto: Istimewa

Oleh Simon Tabuni

Ph.D Candidate at Uppsala University, Swedia

TULISAN ini merupakan refleksi dari sistem pendidikan di Swedia yang penulis peroleh dari tiga bulan kursus pedagogi bagi pengajar di Uppsala University, Swedia. Pembangunan pendidikan di Papua selama ini banyak diarahkan pada pembangunan fisik dan pemenuhan kebutuhan logistik.

Mulai dari pembangunan gedung sekolah, penyediaan fasilitas belajar, distribusi buku hingga berbagai sarana pendukung lainnya. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu aspek yang tidak kalah fundamental dan sering kali mendapat perhatian lebih kecil: bagaimana proses belajar itu sendiri berlangsung di dalam kelas. Di sinilah persoalan pedagogi menjadi penting.

Ketika kita berbicara tentang pedagogi, kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana seorang guru menyampaikan materi pelajaran. Pedagogi mencakup metode dan strategi pembelajaran, teori yang menjadi dasar pengajaran, pendekatan yang digunakan untuk memahami kebutuhan siswa serta cara mengukur perkembangan dan keberhasilan belajar mereka.

Karena itu, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya memastikan bahwa seorang anak memiliki sekolah untuk didatangi dan buku untuk dibaca. Kita juga perlu memastikan bahwa sistem pembelajaran yang diterima anak benar-benar sesuai dengan kebutuhan, lingkungan, dan konteks kehidupan mereka.

Kurikulum pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan. Perubahan tersebut tentu tidak terlepas dari perkembangan zaman, perubahan kebijakan, tuntutan dunia kerja, serta upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Namun, perubahan nama dan struktur kurikulum tidak selalu diikuti oleh perubahan cara mengajar di dalam kelas.

Di banyak tempat, perubahan kurikulum dapat berhenti pada level dokumen dan nomenklatur. Di atas kertas, pendekatan pembelajaran berubah; tetapi di ruang kelas, praktiknya masih berjalan dengan pola lama. Pengajar tetap menjadi pusat pengetahuan, sementara siswa lebih banyak ditempatkan sebagai penerima informasi.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika perubahan kebijakan pendidikan tidak diterapkan secara serentak. Daerah yang memiliki akses terhadap informasi, teknologi, pelatihan pengajar, dan sumber daya pendidikan yang lebih baik dapat lebih cepat beradaptasi.

Sementara itu, daerah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur, akses, dan sumber daya manusia sering kali harus mengejar ketertinggalan. Papua adalah salah satu konteks yang perlu mendapat perhatian serius dalam persoalan ini.

Tujuan Pendidikan

Pendidikan seharusnya tidak hanya bertujuan membuat pelajar mampu menghafal materi atau menjawab soal ujian. Pendidikan harus membantu siswa memahami dirinya, lingkungannya, mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan. Karena itu, pendekatan student-centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi penting.

Dalam pendekatan ini, pelajar tidak ditempatkan hanya sebagai objek pembelajaran. Mereka menjadi bagian aktif dari proses belajar. Pengajar tetap memiliki peran yang sangat penting, tetapi perannya bukan semata-mata sebagai sumber pengetahuan.

Pengajar juga menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan, memahami, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan. Pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan di Papua karena setiap komunitas memiliki konteks sosial, budaya, geografis, dan lingkungan yang berbeda.

Anak-anak Papua tumbuh dalam lingkungan yang memiliki kekayaan pengetahuan lokal. Pengetahuan tentang hutan, laut, sungai, pertanian, sagu, masyarakat adat, serta hubungan sosial di dalam komunitas merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Pengetahuan tersebut seharusnya tidak selalu diposisikan sebagai sesuatu yang terpisah dari pendidikan formal. Justru, lingkungan dan pengalaman hidup siswa dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pembelajaran yang lebih bermakna.

Pedagogi harus diterjemahkan, bukan sekadar diadopsi. Persoalannya bukan apakah Papua membutuhkan sistem pendidikan yang berbeda dari daerah lain. Yang lebih penting adalah bagaimana kebijakan dan pendekatan pendidikan nasional diterjemahkan ke dalam konteks lokal.

Sebuah metode pembelajaran yang berhasil di satu tempat belum tentu menghasilkan dampak yang sama ketika diterapkan begitu saja di tempat lain. Kondisi geografis, bahasa, budaya, karakter masyarakat, kemampuan guru, fasilitas sekolah, hingga pengalaman hidup siswa dapat memengaruhi proses pembelajaran.

Pedagogi Hadir Dalam Praktik

Karena itu, pedagogi tidak seharusnya hanya menjadi istilah yang muncul dalam dokumen kebijakan pendidikan. Ia harus hadir dalam praktik sehari-hari: bagaimana pengajar membuka pelajaran, bagaimana pelajar dilibatkan dalam diskusi, bagaimana pertanyaan diberikan, bagaimana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, dan bagaimana perkembangan pelajar dievaluasi. Dengan kata lain, perubahan pendidikan harus terlihat di ruang kelas, bukan hanya di atas kertas.

Membangun masa depan dimulai dari cara seorang pengajar memberikan pengajaran. Penyesuaian dan penerapan metode pembelajaran dalam aktivitas belajar merupakan bagian vital dari pembangunan pendidikan.

Sebab, sekolah bukan hanya tempat untuk memindahkan pengetahuan dari pengajar kepada pelajar. Sekolah adalah ruang untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi pendidikan yang lebih tinggi dan kehidupan yang lebih kompleks.

Jika kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Papua, maka perhatian tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung, pengadaan fasilitas, atau perubahan kurikulum. Kita juga harus bertanya: apakah cara kita mengajar sudah benar-benar membantu anak-anak belajar?

Pertanyaan tersebut penting karena masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi juga oleh bagaimana sesuatu diajarkan dan bagaimana pelajar mengalami proses belajar tersebut.

Membangun sekolah berarti menyediakan tempat untuk belajar. Membangun pedagogi berarti memastikan bahwa proses belajar di tempat itu benar-benar terjadi. Dan pada akhirnya, pembangunan pendidikan yang berkelanjutan di Papua harus menempatkan pelajar bukan sekadar sebagai penerima kebijakan pendidikan, tetapi sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.