Prosa Lirik: Malam Panjang di Negeri Asing dan Gema bagi Kita Karya Yance Dou

Sumber foto ilustrasi: hipwee.com, 14 November 2019

Retakan di Ambang Pintu

Ada waktu ketika malam tak lagi menyimpan rahasia, dan rumah terasa sempit bagi jiwa yang gelisah. Di ambang pintu yang tua, bayang-bayang berdiri berhadapan: seorang bapa dengan mata sejernih telaga purba, dan seorang anak muda dengan mata bernyala —ditinggal rasa lapar akan dunia yang jauh, dunia yang belum terjamah.

“Bapa,” ucap sang bungsu, dan suaranya seperti dahan retak di tengah gemerisik angin malam. “Berikanlah padaku apa yang menjadi bagianku. Bagian dari tanahmu, bagian dari lembumu, bagian dari napas hidupmu yang bisa ditukar dengan kepingan emas. Aku ingin pergi, sebab langit di balik bukit itu melambaikan janji yang tak kaumiliki.”

Bapa itu tidak menjawab dengan amarah. Mata Bapa tidak menyala oleh petir kekecewaan. Ia hanya menatap jemari anaknya yang gemetar —jemari yang belum mengenal kerasnya batu dan dinginnya malam tanpa peneduh. Tanpa banyak bicara, jemari tua itu membuka peti kekayaan, membagi kehidupan menjadi dua separuh yang tak seimbang.

Sebab kasih tidak pernah memenjarakan. Kasih yang sejati selalu membiarkan burung lepas dari sangkar, meski tahu langit luas menyimpan badai dan cakar elang.

Maka berlalulah sang anak bungsu. Langkah kakinya meninggalkan jejak debu di tanah kelahirannya, menari-nari dalam kilau mentari pagi. Di belakangnya, Bapa berdiri diam di ambang pintu, menatap punggung yang makin mengecil di garis cakrawala. Pintu rumah tidak dikunci; sengaja dibiarkan menganga, seperti luka yang menunggu disembuhkan.

 

Malam Panjang di Negeri Asing

Dunia asing adalah kekasih yang jalang. Ia menyambut si bungsu dengan seruling gading, anggur merah dalam cawan perak, dan gelak tawa teman-teman yang tak kenal lelah. Di sana, emas berdering seperti gending suci; keping demi keping dilemparkannya ke atas meja pesta.

Betapa indahnya kebebasan yang dibeli! Betapa megahnya menjadi tuan atas diri sendiri! Namun pesta selalu berakhir ketika lilin terakhir meleleh menjadi air mata cermin.

Ketika keping emas terakhir jatuh dari kantong yang berlubang, teman-teman pesta lenyap seperti kabut tersapu angin. Lalu timbullah kelaparan yang melanda tanah asing itu—bukan hanya kelaparan akan roti, tetapi kelaparan jiwa yang hampa, kekeringan yang meremukkan tulang-tulang tanpa nama.

Anak yang dulu berpakaian sutra kini merayap di ladang lumpur. Tangannya yang halus kini menggaruk tanah untuk mencari sisa-sisa ampas ampas makanan. Di sekelilingnya, babi-babi berkelahi berebut makanan; dan ia, seorang anak dari bapa yang mulia, mendapati dirinya cemburu pada kawanan binatang melata itu.

“Mengapa aku di sini?” bisiknya. Suaranya tenggelam di antara degup dadanya yang dingin. “Di rumah bapaku, berpuluh-puluh hamba makan roti berlimpah, sedangkan aku mati di sini dalam keterasingan yang menyengat?”

Di tengah kehinaan lumpur, nyala kecil itu menyala kembali: kesadaran. Ia ingat kehangatan api unggun di pelataran bapanya. Ia ingat harum roti basah yang dipanggang waktu subuh. Ia ingat suara Bapa yang menyapa setiap pagi dengan belas kasihan.

“Aku akan bangkit,” bisiknya pada malam yang sunyi. “Aku akan berjalan kembali, melintasi bukit demi bukit. Aku tak ‘kan lagi menuntut gelar anak. Cukuplah jika Bapa menjadikanku salah seorang hamba upahannya —asal aku boleh berada dekat dengan bayang-bayang rumahnya.”

 

Langkah Lari Sang Bapa

Jalan pulang selalu terasa lebih panjang dari jalan pergi. Dengan pakaian mencabik dan kaki berdarah terantuk kerikil sharp, si bungsu berjalan menyusuri jalan setapak.

Setiap langkah adalah penyesalan; setiap tarikan napas adalah doa yang terbata-bata. Ia menyusun kalimat kata demi kata: ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi…’ Namun kasih Bapa tidak menunggu di atas singgasana pengadilan.

Saban sore, sang Bapa berdiri di bukit tertinggi, menatap lurus ke ujung jalan debu. Dan pada sore itu —ketika cakrawala memerah bagai darah— mata Bapa yang telah kabur oleh air mata kerinduan melihat sesosok bayangan pincang menyusuri bukit.

Hati Bapa tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak menunggu anak itu berlutut. Ia tidak menunggu kalimat maaf dirangkai sempurna. Bapa itu berlari.  Jubah tuanya melambai-lambai menembus angin sore, kaki-kakinya yang renta menerjang bukit debu, merobohkan segala martabat dan gengsi orang tua. Ia berlari seperti anak kecil yang menemukan harta karunnya yang hilang!

Sebelum si bungsu sempat berlutut dan meratap, lengan-lengan Bapa telah melingkari bahunya yang berbau lumpur dan babi.

Pelukan itu erat, seolah tak ‘kan pernah dilepaskan lagi. Air mata Bapa menetes basah di kening anaknya yang kotor, membasuh kehinaan tanpa sepotong kata celaan pun. “Bapa… aku telah berdosa…” gugap anak itu di dadanya.

Namun Bapa berpaling kepada hamba-hambanya dengan suara yang menggelegar penuh sukacita: “Cepat! Bawalah jubah yang terbaik, pakaikanlah padanya! Sematkan cincin di jarinya sebagai tanda pemulihan, dan kenakan kasut di kakinya yang luka! Potonglah anak lembu tambun itu, mari kita makan dan bergembira! Sebab anakku ini telah mati dan hidup kembali; ia telah hilang dan didapat kembali!”

 

Murka di Luar Pesta dan Bisikan Abadi

Suara kecapi dan tari-tarian membumbung tinggi ke udara sore, memenuhi rumah dengan harum pesta dan puji-pujian. Tetapi di luar, di tepi ladang yang dingin, berdiri sang anak sulung.

Tangannya memegang cangkul yang berat, keningnya berpeluh oleh ketaatan yang bertahun-tahun. Hatinya membeku ketika mendengar musik gembira.

“Mengapa ada pesta?” tanyanya pada seorang hamba. Dan ketika mendengar bahwa adiknya yang pemboros telah kembali dan disambut dengan lezatnya lembu tambun, amarah menyala bagai api di hatinya. Ia enggan masuk. Ia berdiri di luar, memeluk kebenarannya sendiri yang dingin dan kaku.

Lalu, Bapa yang sama —Bapa yang berlari menyambut si bungsu— keluar lagi dari dalam rumah. Bapa mendekati anak sulungnya, memohon dengan lembut di bawah bintang-bintang malam.

“Tahun-tahun ini aku melayanimu!” teriak si sulung dengan suara sarat kekecewaan. “Tak pernah aku melanggar perintahmu! Namun tak pernah kauberikan seekor anak kambing pun agar aku bisa bersukacita bersama sahabat-sahabatku! Tetapi begitu anakmu yang menghamburkan hartamu bersama pelacur-pelacur itu pulang, engkau menyembelih anak lembu terbaik untuknya!”

Bapa menatap anak sulungnya dengan mata yang dipenuhi kedalaman kasih yang tak terukur. jemari tua itu mengelus bahu anak sulung yang tegang.

“Anakku,” bisik Bapa, suaranya halus seperti gerimis malam. “Engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita harus bersukacita dan bergembira, sebab adikmu ini telah mati dan hidup kembali; ia telah hilang dan didapat kembali…”

 

Gema bagi Kita

Kisah ini tidak berakhir di pelataran rumah yang meriah. Kisah ini tergantung di udara, menjadi pertanyaan yang mengetuk pintu hati setiap manusia yang mendengar: Di manakah kita berdiri hari ini?

Apakah kita si bungsu, yang sedang tersedu di ladang lumpur dunia, merasa terlalu kotor dan hina untuk melangkah pulang? Ketahuilah: Bapa sedang berdiri di sudut jalan, menantikan debu langkahmu, siap berlari merangkulmu tanpa menagih penjelasan!

Atau apakah kita si sulung, yang rajin berada di dalam gereja dan tempat ibadah, namun hatinya kaku oleh kebenaran diri sendiri, iri pada pengampunan yang diberikan kepada orang berdosa? Ketahuilah: Bapa juga keluar menemui kita, membisikkan bahwa seluruh kekayaan-Nya sudah milik kita sejak awal, jika saja kita mau belajar mengasihi seperti Ia mengasihi.

Pintu Bapa tidak pernah tertutup. Jubah pengampunan telah siap. Lembu pesta telah disembelih. Dengarlah gema seruan suci dari surga yang merindukanmu: “Pulanglah! Rumah ini belum lengkap tanpa kehadiranmu!”

Jayapura, Sabtu 12 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.