Puisi: Bunga di Sepanjang Jalan dan Tempayan yang Retak Karya Yance Dou

Pesona Butchart gardens. Sumber foto ilustrasi: casaindonesia.com, 22 April 2022

Jangan Takut Pada Retakanmu

 

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa seperti tempayan retak

Kita melihat orang lain yang tampaknya lebih berhasil

Lebih kuat

Lebih pintar

Lebih percaya diri

Lebih mampu

Lebih sempurna

 

Sementara kita melihat diri sendiri dan berkata,

“Aku hanya memiliki sedikit.”

“Aku banyak kekurangan.”

“Aku pernah gagal.”

“Aku pernah jatuh.”

“Aku mempunyai luka.”

“Aku tidak sebaik orang lain.”

Lalu tanpa sadar kita mulai mengukur nilai diri

Berpijak apa yang tidak kita miliki

Kita menghitung air yang bocor dari tempayan kita

 

Kita menghitung kegagalan

Kita menghitung kelemahan

Kita menghitung kesalahan masa lalu

Sampai kita lupa melihat bunga-bunga yang Tuhan tumbuhkan melalui hidup kita

Padahal, bisa jadi—

ada seseorang yang tetap bertahan karena kata-kata sederhana yang pernah kita ucapkan

 

Ada seseorang yang kembali berharap karena kita pernah memberinya perhatian

Ada hati yang disembuhkan karena kita bersedia mendengarkan

 

Ada anak yang belajar percaya diri karena kita pernah mengatakan,

“Kamu pasti bisa.”

Ada keluarga yang tetap bertahan karena kita memilih mengampuni

Ada seseorang yang kembali kepada Tuhan karena kesaksian kecil dari hidup kita

Kita mungkin tidak melihat semuanya

Seperti tempayan retak yang tidak pernah melihat

benih-benih bunga yang disiraminya

Kita hanya melihat air yang hilang

Tetapi Tuhan melihat bunga yang tumbuh

Mungkin itulah cara Tuhan bekerja

Tuhan tidak selalu menunggu kita menjadi sempurna untuk memakai hidup kita

Ia dapat memakai kelemahan kita

Ia dapat memakai pengalaman pahit kita

Ia dapat memakai luka kita

Ia dapat memakai kegagalan kita

 

Bahkan Ia dapat memakai retakan-retakan dalam hidup kita

untuk mengalirkan rahmat-Nya kepada orang lain

Sebab di tangan Tuhan, tidak ada hidup yang benar-benar sia-sia

 

Jangan membandingkan tempayanmu

Tempayan yang utuh tidak perlu menjadi tempayan retak

Dan tempayan retak tidak perlu memaksakan diri menjadi tempayan utuh

Masing-masing memiliki perjalanan

Masing-masing memiliki tugas

Masing-masing memiliki cara untuk memberi kehidupan

 

Demikian pula kita

Jangan habiskan hidup dengan terus-menerus

membandingkan diri dengan orang lain

Bukan tugas kita untuk menjadi seperti orang lain

 

Tugas kita adalah menjadi pribadi yang Tuhan ciptakan

Dan memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki

Mungkin kita tidak memiliki banyak

Tetapi sedikit yang kita berikan dengan kasih

Dapat menjadi besar di tangan Tuhan

 

Retakanmu bukan identitasmu

Kita sering berkata

“Aku adalah orang yang gagal.”

“Aku adalah orang yang lemah.”

“Aku adalah orang yang tidak berguna.”

Tidak

 

Kegagalanmu bukan seluruh dirimu

Kelemahanmu bukan seluruh dirimu

Lukamu bukan seluruh dirimu

Masa lalumu bukan seluruh dirimu

Engkau jauh lebih besar daripada retakanmu

 

Dan jangan lupa:

Tuhan tidak hanya melihat tempayanmu

Tuhan melihat apa yang dapat mengalir melaluinya

Pertanyaan untuk hati

Mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apa retakan dalam hidupku yang selama ini paling membuatku malu?

Mengapa aku begitu takut menerima kelemahanku?

 

Siapa yang mungkin telah menerima berkat melalui kelemahanku?

Bunga-bunga apa yang sebenarnya sedang Tuhan tumbuhkan melalui hidupku?

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting:

“Tuhan, apa yang ingin Engkau lakukan melalui retakan dalam diriku?”

Jangan buru-buru meminta Tuhan menghilangkan semua retakan

Mungkin sebelum menutup retakan itu, Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bunga-bunga yang tumbuh karenanya

 

Bunga di Sepanjang Jalan

 

Tempayan itu akhirnya mengerti

Ia tidak pernah benar-benar gagal

Ia hanya terlalu lama melihat dirinya dari sisi yang salah

Ia mengira tugasnya adalah membawa air sampai penuh

Ternyata tugasnya jauh lebih indah:

menghidupkan bunga-bunga di sepanjang jalan

 

Demikian pula hidup kita

Mungkin kita merasa hanya membawa “setengah tempayan”

Mungkin ada banyak hal yang tidak mampu kita lakukan

Mungkin ada retakan yang tidak dapat kita sembunyikan

Tetapi jangan berhenti berjalan

Tetaplah membawa apa yang dipercayakan Tuhan kepadamu

Tetaplah mengasihi

Tetaplah melayani

Tetaplah berbuat baik

Tetaplah menjadi berkat

Sebab bisa jadi, tanpa kita sadari, setiap tetes yang keluar dari retakan hidup kita sedang menyirami benih kehidupan seseorang

Dan suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita akan menyadari:

ternyata sepanjang jalan yang kita kira penuh dengan kegagalan, Tuhan telah menumbuhkan bunga-bunga yang indah

“Aku tidak sempurna, tetapi aku tetap berharga

Aku tidak utuh, tetapi aku masih dapat menjadi berkat.

Aku memiliki retakan, tetapi melalui retakan itu

kasih Tuhan dapat mengalir kepada sesama.”

Karena di tangan Tuhan

bahkan sebuah tempayan yang retak

dapat membuat sepanjang jalan menjadi taman

 

Tempayan yang Retak

 

Ketika Tuhan menjadikan retakan sebagai jalan bagi kehidupan

Pagi selalu datang dengan cara yang sederhana

Matahari perlahan menyibakkan kabut. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun.

 

Dari sebuah mata air di kaki bukit, terdengar gemericik air yang seolah sedang menyanyikan lagu kehidupan

Setiap pagi, seorang tukang air datang ke tempat itu

 

Di bahunya tergantung sebuah pikulan kayu. Pada kedua ujungnya terdapat dua tempayan besar Keduanya telah lama menjadi teman seperjalanannya.

 

Tempayan yang satu begitu utuh

Tubuhnya kuat. Dindingnya kokoh. Tak ada retakan sedikit pun.

Setiap kali diisi air, ia mampu membawanya penuh sampai ke rumah majikan

 

Tempayan yang satunya berbeda

Pada tubuhnya terdapat sebuah retakan

Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat air

perlahan-lahan merembes keluar

Setiap kali mereka berjalan pulang,

setetes demi setetes air meninggalkan tubuhnya

Setengah perjalanan—

air berkurang.

Menjelang rumah—

air semakin sedikit.

Dan ketika akhirnya tiba, tempayan itu hanya mampu membawa setengah dari air yang tadi diambil dari mata air

 

Hari berganti hari

Minggu berganti minggu

Bulan berganti bulan

Bahkan dua tahun berlalu dalam perjalanan yang sama.

Setiap pagi mereka pergi ke mata air

Setiap sore mereka kembali

Tempayan yang utuh selalu merasa bangga

Ia tahu dirinya mampu memenuhi tugas

Ia merasa berguna

Ia tidak pernah mengecewakan siapa pun

Tetapi tempayan yang retak semakin lama semakin tenggelam dalam kesedihan

Ia melihat dirinya sebagai tempayan yang gagal

 

Ia membandingkan dirinya dengan yang utuh

“Mengapa aku tidak bisa seperti dia?”

“Mengapa aku selalu kehilangan sesuatu?”

“Mengapa tubuhku tidak sempurna?”

“Apa gunanya aku jika aku tidak mampu membawa air sepenuhnya?”

Retakan kecil di tubuhnya perlahan menjadi luka besar di dalam hatinya

Ia mulai malu kepada dirinya sendiri

Ia merasa tidak layak

Ia merasa menjadi beban

 

Sampai suatu pagi, ketika perjalanan pulang terasa begitu panjang, tempayan itu akhirnya berkata kepada tukang air,

“Maafkan aku.”

Tukang air terdiam

“Untuk apa?”

Tempayan itu menundukkan dirinya

“Aku malu.”

“Mengapa?”

“Karena selama dua tahun aku tidak pernah mampu melakukan tugasku dengan sempurna. Engkau mengambil air penuh dari mata air, tetapi aku hanya membawa setengahnya sampai ke rumah. Air yang lain hilang di sepanjang perjalanan karena tubuhku retak.”

 

Suaranya bergetar

“Aku telah mengecewakanmu.”

“Aku telah membuatmu bekerja lebih keras.”

“Aku adalah tempayan yang cacat.”

Untuk beberapa saat, hanya suara langkah kaki dan gemericik air yang terdengar

Kemudian tukang air tersenyum

Ia berkata:

“Besok, dalam perjalanan pulang, lihatlah baik-baik jalan di sisimu.”

Tempayan itu tidak mengerti

 

Namun ia menurut

Keesokan paginya mereka kembali ke mata air

Tukang air mengisi kedua tempayan

Lalu perjalanan dimulai

 

Matahari pagi menyentuh jalan

Angin bergerak perlahan di antara pepohonan

Dan untuk pertama kalinya, tempayan retak memperhatikan jalan di sisinya

Ia tertegun

Di sepanjang jalan tumbuh bunga-bunga

Ada yang kecil

Ada yang besar

Ada yang berwarna putih

Ada yang kuning

Ada yang merah

Ada pula yang berwarna ungu

 

Bunga-bunga itu bermekaran dengan indah, seakan-akan jalan yang mereka lalui setiap hari telah berubah menjadi sebuah taman

Tempayan retak terdiam

“Lihatlah,” kata tukang air

“Bunga-bunga itu tumbuh di sepanjang jalanmu.”

Tempayan itu masih belum memahami

 

Kemudian tukang air berkata

“Selama dua tahun ini, aku telah mengetahui bahwa tubuhmu retak.”

“Aku tahu engkau kehilangan air sepanjang perjalanan.”

“Tetapi aku tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia.”

 

Tempayan itu mendengarkan

“Setiap pagi aku menanam benih bunga di sepanjang sisi jalan

tempat engkau tergantung.”

“Dan setiap hari, ketika kita berjalan pulang dari mata air,

air yang merembes dari tubuhmu menyirami benih-benih itu.”

 

Tukang air tersenyum

“Engkau tidak pernah menyadarinya.”

“Engkau terlalu sibuk menghitung air yang hilang.”

“Engkau tidak melihat kehidupan yang tumbuh dari air yang engkau berikan.”

 

Tempayan retak itu seperti kehilangan kata-kata

Ia memandang bunga-bunga di sepanjang jalan

Bunga-bunga itu bukan tumbuh meskipun ia retak

Bunga-bunga itu justru tumbuh melalui retakannya

Air yang selama ini ia anggap sebagai kehilangan ternyata menjadi kehidupan

 

Sesuatu yang selama ini ia sesali ternyata telah menjadi berkat

Sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan

ternyata telah memberikan warna kepada dunia di sekitarnya

Tukang air kemudian berkata:

“Engkau memang tidak mampu melakukan

apa yang dilakukan tempayan yang utuh.”

“Tetapi tempayan yang utuh juga tidak mampu

melakukan apa yang engkau lakukan.”

Tempayan retak itu terdiam

 

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang retakannya dengan rasa malu

Ia memandangnya dengan cara yang baru

Retakan itu tetap ada

Tetapi kini ia tahu:

retakan bukan selalu akhir dari sesuatu

Kadang-kadang, retakan adalah tempat dari mana kehidupan mengalir

Jayapura, 14 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.