Puisi: Ketika Langit Kehilangan Biru dan Kota yang Bernafas dengan Luka Karya Damianus Ose Wotan

Kini, ia tinggal di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sehari-hari mengajar di SLB Fajar Amanah Prawang, Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Doa untuk Hutan yang Terbakar

 

Tuhan

malam ini

kami tidak membawa banyak kata

 

Kami hanya membawa langit

yang kehilangan bintang

udara yang kehilangan kejernihan

dan hutan

yang kehilangan dirinya sendiri

 

Di suatu tempat

pohon-pohon mungkin sedang terbakar

tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal

 

Burung-burung kehilangan sarang

Binatang kehilangan arah

Tanah kehilangan teduhnya

 

Dan manusia

berdiri di antara asap

sambil bertanya:

Siapa yang harus disalahkan?

 

Barangkali kami terlalu lama

mencari nama

hingga lupa bercermin

 

Barangkali api itu

bukan hanya berasal dari hutan

tetapi juga dari keserakahan

yang tumbuh di dalam hati manusia

 

Tuhan

jangan biarkan kami

menjadi generasi

yang mewariskan bumi dalam keadaan luka

 

Ajari kami mencintai pohon

sebelum kami membutuhkan kayunya

Ajari kami menjaga hutan

sebelum anak-anak kami

mencari udara bersih

di antara puing-puing masa lalu

 

Dan ketika hujan akhirnya turun

membasuh tanah yang hangus

semoga bukan hanya api

yang padam

 

tetapi juga keserakahan

yang selama ini

menyalakan api

Sebab bumi ini bukan milik kami

Ia hanyalah titipan

 

Dan kelak

kami akan ditanya

apa yang telah kami lakukan

terhadap rumah

yang Engkau percayakan

kepada kami

Perawang, 5 September 2026

 Ketika Langit Kehilangan Biru

 

Pagi datang tanpa cahaya

matahari seperti enggan menyapa bumi

Di atas Pekanbaru

langit menggantungkan kesedihannya

dalam warna kelabu

 

Asap berjalan pelan

menyusuri atap-atap rumah

masuk melalui celah jendela

menyentuh mata

menyentuh dada

lalu diam-diam

menjadi doa yang tak terucapkan

 

Anak-anak menatap langit

dengan pertanyaan yang sederhana:

Ke mana matahari pergi?

 

Tak ada ibu yang mampu menjawab

dengan bahasa yang ringan.

Sebab bagaimana menjelaskan kepada anak

bahwa terkadang manusia sendiri

menutup pintu cahaya

yang Tuhan bukakan untuk semua?

 

Di jalan raya

kendaraan bergerak dalam samar

Kota tetap berjalan

tetapi napas terasa berat

 

Pekanbaru

engkau sedang menghirup

kesalahan yang bukan milikmu

 

Dan langitmu menjadi saksi

bahwa ketika hutan dibakar

yang hilang bukan hanya pepohonan

tetapi juga masa depan

 

Suatu hari nanti

semoga anak-anak tidak lagi bertanya

mengapa langit berwarna kelabu

 

Semoga mereka mengenal biru

bukan dari gambar di buku

melainkan dari langit

yang kembali kita jaga

 

Pekanbaru, 31 Agustus 2026

Kota yang Bernafas dengan Luka

 

Pekanbaru masih hidup

Lampu-lampu menyala

kendaraan berkejaran

pasar tetap membuka pintunya

dan manusia tetap mencari rezeki

 

Tetapi di balik semuanya

ada kota yang sedang belajar

bernapas dengan luka

 

Asap menempel di pepohonan

di jalan-jalan

di wajah para pekerja

di jendela sekolah

bahkan di ruang-ruang kecil

tempat seorang ibu memeluk anaknya

 

Kita mungkin tidak melihat api

yang membakar jauh di sana

Tetapi kita merasakan akibatnya

di setiap tarikan napas

 

Betapa aneh manusia:

membakar hutan demi keuntungan

lalu membeli udara bersih

ketika bumi mulai kehabisan napas

 

Kita menyebutnya bencana

padahal mungkin bumi

sedang mengembalikan

apa yang kita lakukan kepadanya

 

Hutan memberi tanpa bertanya:

air, udara, teduh, kehidupan

 

Tetapi ketika manusia mengambil

tanpa pernah belajar cukup

hutan akhirnya berbicara

dengan bahasa api

 

Pekanbaru

jangan biarkan asap menjadi

warisan bagi anak-anak kita

 

Sebab mereka berhak

mewarisi langit

bukan kabut

 

Mewarisi hutan

bukan abu

Mewarisi kehidupan

bukan luka

yang kita tinggalkan

karena keserakahan

Pekanbaru, 1 September 2026

Karya Damianus Ose Wotan

Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).

Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.