Doa untuk Hutan yang Terbakar
Tuhan
malam ini
kami tidak membawa banyak kata
Kami hanya membawa langit
yang kehilangan bintang
udara yang kehilangan kejernihan
dan hutan
yang kehilangan dirinya sendiri
Di suatu tempat
pohon-pohon mungkin sedang terbakar
tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal
Burung-burung kehilangan sarang
Binatang kehilangan arah
Tanah kehilangan teduhnya
Dan manusia
berdiri di antara asap
sambil bertanya:
Siapa yang harus disalahkan?
Barangkali kami terlalu lama
mencari nama
hingga lupa bercermin
Barangkali api itu
bukan hanya berasal dari hutan
tetapi juga dari keserakahan
yang tumbuh di dalam hati manusia
Tuhan
jangan biarkan kami
menjadi generasi
yang mewariskan bumi dalam keadaan luka
Ajari kami mencintai pohon
sebelum kami membutuhkan kayunya
Ajari kami menjaga hutan
sebelum anak-anak kami
mencari udara bersih
di antara puing-puing masa lalu
Dan ketika hujan akhirnya turun
membasuh tanah yang hangus
semoga bukan hanya api
yang padam
tetapi juga keserakahan
yang selama ini
menyalakan api
Sebab bumi ini bukan milik kami
Ia hanyalah titipan
Dan kelak
kami akan ditanya
apa yang telah kami lakukan
terhadap rumah
yang Engkau percayakan
kepada kami
Perawang, 5 September 2026
Ketika Langit Kehilangan Biru
Pagi datang tanpa cahaya
matahari seperti enggan menyapa bumi
Di atas Pekanbaru
langit menggantungkan kesedihannya
dalam warna kelabu
Asap berjalan pelan
menyusuri atap-atap rumah
masuk melalui celah jendela
menyentuh mata
menyentuh dada
lalu diam-diam
menjadi doa yang tak terucapkan
Anak-anak menatap langit
dengan pertanyaan yang sederhana:
Ke mana matahari pergi?
Tak ada ibu yang mampu menjawab
dengan bahasa yang ringan.
Sebab bagaimana menjelaskan kepada anak
bahwa terkadang manusia sendiri
menutup pintu cahaya
yang Tuhan bukakan untuk semua?
Di jalan raya
kendaraan bergerak dalam samar
Kota tetap berjalan
tetapi napas terasa berat
Pekanbaru
engkau sedang menghirup
kesalahan yang bukan milikmu
Dan langitmu menjadi saksi
bahwa ketika hutan dibakar
yang hilang bukan hanya pepohonan
tetapi juga masa depan
Suatu hari nanti
semoga anak-anak tidak lagi bertanya
mengapa langit berwarna kelabu
Semoga mereka mengenal biru
bukan dari gambar di buku
melainkan dari langit
yang kembali kita jaga
Pekanbaru, 31 Agustus 2026
Kota yang Bernafas dengan Luka
Pekanbaru masih hidup
Lampu-lampu menyala
kendaraan berkejaran
pasar tetap membuka pintunya
dan manusia tetap mencari rezeki
Tetapi di balik semuanya
ada kota yang sedang belajar
bernapas dengan luka
Asap menempel di pepohonan
di jalan-jalan
di wajah para pekerja
di jendela sekolah
bahkan di ruang-ruang kecil
tempat seorang ibu memeluk anaknya
Kita mungkin tidak melihat api
yang membakar jauh di sana
Tetapi kita merasakan akibatnya
di setiap tarikan napas
Betapa aneh manusia:
membakar hutan demi keuntungan
lalu membeli udara bersih
ketika bumi mulai kehabisan napas
Kita menyebutnya bencana
padahal mungkin bumi
sedang mengembalikan
apa yang kita lakukan kepadanya
Hutan memberi tanpa bertanya:
air, udara, teduh, kehidupan
Tetapi ketika manusia mengambil
tanpa pernah belajar cukup
hutan akhirnya berbicara
dengan bahasa api
Pekanbaru
jangan biarkan asap menjadi
warisan bagi anak-anak kita
Sebab mereka berhak
mewarisi langit
bukan kabut
Mewarisi hutan
bukan abu
Mewarisi kehidupan
bukan luka
yang kita tinggalkan
karena keserakahan
Pekanbaru, 1 September 2026
Karya Damianus Ose Wotan
Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).
Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.










