Oleh Maiton Gurik
Pegiat Literasi Tanah Papua dan Alumnus Magister Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta
DALAM sejarah pemikiran manusia, mungkin tidak ada tokoh lain yang pengaruhnya begitu besar sekaligus menimbulkan kontroversi sekelas Heinrich Karl Marx alias Karl Marx (1818-1883).
Ide-ide Karl Marx, pemikir Jerman yang dibaptis sebagai Bapak Komunisme Modern, tidak hanya berhenti di atas kertas sebagai teori filsafat. Ia menukik lebih dalam sekaligus telah mengubah peta politik dunia.
Pun melahirkan gerakan massa hingga membentuk negara-negara besar dengan sistem pemerintahan yang unik. Namun, di balik popularitasnya, pemikiran Marx sering disalahartikan, disederhanakan bahkan dipolitisasi sedemikian rupa sehingga esensi asli dari gagasannya menjadi kabur hingga blur.
Di tengah kerumitan itu, hadir sebuah karya dari salah satu filsuf terkemuka di Indonesia Pastor Prof Dr Franz Magnis-Suseno, SJ berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme.
Buku karya imam Serikat Jesus (SJ) bernama asli Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis ini bukan sekadar biografi atau ringkasan pemikiran Karl Marx, melainkan sebuah analisis akademis mendalam. Ia mencoba membedah akar pemikiran Marx, bagaimana ia lahir, berkembang, dan memecah belah para pengikutnya sendiri sebelum ajal menjemputnya.
Buku yang terbit perdana tahun 1999 ini menjadi jembatan yang sangat penting bagi pembaca berbahasa Indonesia untuk memahami Karl Marx bukan sebagai “iblis” atau “dewa”, melainkan sebagai seorang pemikir yang logis, sistematis, dan kritis terhadap zamannya.
Franz Magnis-Suseno adalah nama yang tidak perlu diragukan lagi dalam dunia politik dan filsafat di Indonesia. Ia lahir 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Jerman (kini Polandia) dari keluarga bangsawan. Di Indonesia, dikenal dengan nama “Suseno” setelah menjadi warga negara Indonesia tahun 1977.
Meski lahir di Jerman namun nyaris sebagian besar usianya dilewatkan di Indonesia, Frans Magnis Suseno, guru besar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, dikenal memiliki kedalaman pengetahuan yang luar biasa mengenai etika, filsafat politik, dan pemikiran Barat maupun Timur.
Gaya penulisan Magnis-Suseno memiliki ciri khas yang kuat. Ia sangat sistematis, analitis, dan objektif. Dalam buku ini, ia tidak menulis sebagai pendukung atau penentang Karl Marx. Ia menempatkan diri sebagai seorang ilmuwan yang ingin menyajikan fakta intelektual apa adanya.
Magnis Suseno juga mampu menerjemahkan konsep-konsep yang sangat abstrak dan rumit menjadi bahasa yang mudah dipahami dan dicerna tanpa mengurangi bobot akademis dari materi.
Buku setebal 284 halaman ini disusun dengan alur yang sangat runtut. Magnis mengajak, membawa pembaca masuk dan menelusuri lorong perjalanan intelektual yang panjang. Di bagian awal, Magnis-Suseno juga menjelaskan bagaimana Marx tidak lahir dari ruang hampa.
Karl Marx dipengaruhi oleh pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel, namun kemudian melakukan “pembalikan” terhadap teori Hegel. Jika Hegel berpikir bahwa ide atau roh adalah yang utama, Marx berpendapat bahwa material atau kenyataan fisik (ekonomi dan produksi) yang menentukan kesadaran manusia.
Di sini penulis menjelaskan konsep materialisme dialektika dan materialisme historis. Bagaimana sejarah manusia bukanlah sejarah pertarungan ide. Namun, perihal sejarah pertarungan antar kelas sosial karena faktor ekonomi. Teori ini menjadi fondasi utama seluruh pemikiran Marx selanjutnya.
Bagian inti dari buku ini adalah pembedahan terhadap sistem ekonomi yang dihadapi Marx pada masa Revolusi Industri. Magnis-Suseno memaparkan dengan jelas konsep nilai lebih (surplus value). Bagaimana kaum borjuis (pemilik modal) menumpuk kekayaan dengan cara mengeksporasi kaum proletar (buruh/pekerja).
Penulis juga menjelaskan mengapa Marx melihat kapitalisme sebagai sistem yang kontradiktif dan akan hancur dengan sendirinya karena krisis yang terus berulang dan kesenjangan yang semakin menganga lebar. Di sinilah letak kekuatan kritik sosial Marx yang menurut penulis masih sangat relevan hingga hari ini, meskipun solusi yang ditawarkan Marx menuai banyak perdebatan.
Salah satu bab yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai sosialisme utopis. Magnis-Suseno menjelaskan bahwa sebelum Marx, sudah banyak pemikir yang menginginkan masyarakat yang adil dan setara. Namun, mereka dianggap “utopis” karena hanya mengandalkan imajinasi, moralitas, dan harapan bahwa manusia akan menjadi baik.
Marx hadir dan menciptakan apa yang disebutnya sebagai “sosialisme ilmiah”. Bagi Marx, sosialisme bukan sekadar cita-cita indah yang diimpikan, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang akan terjadi secara ilmiah karena hukum perkembangan masyarakat.
Buku ini menjelaskan perbedaan mendasar ini dengan sangat jelas, sehingga pembaca mengerti mengapa pemikiran Marx dianggap sebagai titik balik dalam gerakan buruh dunia.
Bagian terakhir dan mungkin paling dramatis adalah pembahasan mengenai “revisionisme”. Setelah ajal menjemput Karl Marx, warisan pemikirannya dibawah oleh murid-muridnya, namun muncul perbedaan pandangan yang tajam.
Di satu sisi, ada Friedrich Engels dan kemudian Karl Kautsky yang dianggap memegang teguh ajaran asli. Namun di sisi lain muncul tokoh seperti Eduard Bernstein yang mempertanyakan beberapa teori Marx.
Bernstein melihat bahwa kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan prediksi Marx (Misalnya, kelas menengah justru tumbuh, bukan hilang). Ia berpendapat bahwa ajaran Marx perlu direvisi dan disesuaikan dengan gerak natur zaman.
Inilah yang disebut revisionisme. Magnis-Suseno menguraikan dengan detail bagaimana perdebatan ini memecah belah gerakan sosial demokrat di Eropa menjadi dua kubu: mereka yang memilih jalan reformasi damai dan demokrasi parlementer dengan mereka yang tetap pada jalur revolusi kekerasan (yang kemudian berkembang menjadi komunisme ala Lenin dan Stalin).
Alasan mengapa buku ini layak dibaca dan disebut sebagai rujukan utama bagi ilmuwan, aktivis dan bagi Indonesia. Objektivitas ilmiah, penulis berhasil menjaga jarak. Ia memaparkan kekuatan logika Marx, namun juga tidak menutup mata terhadap kelemahan atau kritik yang muncul terhadap pemikiran tersebut.
Pembaca diajak berpikir kritis, bukan sekadar menghafal teori. Juga soal kejelasan bahasa, kalau kita baca filsafat Jerman klasik sering kali membuat pusing karena istilahnya berat. Namun, Franz Magnis-Suseno memiliki kemampuan luar biasa dalam membedah konsep abstrak menjadi penjelasan yang logis dan runut.
Buku ini tadak hanya bicara tentang teori, tetapi juga menempatkan pemikiran tersebut dalam konteks sejarah perkembangan politik Eropa. Karena itu pembaca mengerti mengapa ide itu lahir dan bagaimana dampaknya. Juga mengenai revisionisme sangat detail. Penulis menjelaskan akar masalah mengapa gerakan kiri di dunia terbelah menjadi sayap demokratis dan sayap totaliter.
Meskipun buku ini membahas pemikiran yang lahir pada Abad ke-19, pesannya sangat relevan untuk masa kini. Kita masih hidup di dunia yang diatur oleh sistem kapitalisme.
Masalah kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, dan kekuasaan modal masih menjadi isu hangat. Memahami Marx berarti memahami akar dari masalah-masalah modern ini.
Namun, buku ini juga secara halus menunjukkan bahwa teori Marx memiliki batasannya. Prediksi-prediksi Marx tidak semuanya terbukti benar. Penerapan praktisnya di berbagai negara di Abad ke-20 justru memunculkan masalah baru yang tidak terbayangkan oleh Marx sendiri.
Magnis-Suseno mengajak pembaca untuk menghargai nilai kritik sosial Marx. Namun, di saat bersamaan perlu bijak melihat kegagalan dalam implementasi sistemnya.
Buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama ini, layak dan wajib dibaca bagi siapa saja yang ingin serius mempelajari ilmu politik, ekonomi atau filsafat. Buku ini berhasil menjawab rasa penasaran tentang siapa Marx sebenarnya. Begitu pula apa yang sebenarnya dikatakan Marx, dan mengapa ide-ideanya begitu kuat hingga mampu mengubah dunia.
Buku ini mengajarkan kita bahwa sebuah ide besar bisa menjadi pedang bermata dua. Ia berpotensi menjadi alat pembebasan. Namun, di saat bersamaa ia juga bisa berubah menjadi dogma yang menindas jika tidak dipahami dengan cara yang kritis dan terbuka.
Melalui buku ini, Franz Magnis-Suseno sosok rohaniawan dan imam Jesuit ini telah memberikan kontribusi besar bagi khazanah intelektual Indonesia, menyajikan sejarah pemikiran yang berat menjadi sebuah bacaan yang hangat, mendidik sekaligus memikat. Semoga! Salam Literasi!
Judul : Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme
Penulis : Franz Magnis Suseno
Penerbit : Gramedia, Jakarta
Tahun Terbit : 1999
Halaman : 284
Harga : Rp. 50.000










