Cinta: Kesatuan
Suatu hari engkau bertanya kepadaku,
Manakah yang lebih penting bagimu
Hidupku atau hidupmu?
Aku berkata, hidupku
Lalu engkau pergi tinggalkan aku
Tanpa kau tahu
Engkaulah sejatinya hidupku itu
Jatuh Cinta Padamu
Jatuh cinta padamu
Memesonanya kamu
Menyungging senyummu
Menghiasi raut wajahmu
Mendiamkan detak jantungku
Mataku jadi pencuri senyummu
Yang menghantam jantungku
Bingung tak menentu
Dengan kehadiranmu
Mungkinkah menerimaku
Kutakut kehilanganmu
Bila kau tahu perasaanku
Yang jatuh cinta padamu
Cinta yang Agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil
Bebaskan dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya
Tapi ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersamanya
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Wanita Sempurna
Aku akan tetap
Di sekitarmu dan dekat
Kamu tidak perlu takut
Kamu dibuat khusus
Oleh Mahakuasa untuk keberuntunganku
Aku akan menyentuh tubuhmu
Sebagai seseorang yang mencinta
Menginformasikan angin
Dan membuatmu menyerah
Dengan mantra sihir
Aku akan muncul di pagi hari
Dalam suara ayam yang menyambutmu
Ketika kamu pergi untuk berjalan-jalan pagi
Dan mendengar panggilanku
Kamu tidak bisa merangkul
Karena aku tidak punya wajah
Aku ada di mana-mana
Dan masih kamu menemukanku ada di mana-mana
Kamu seorang wanita sempurna
Dan baik hati
Aku akan merangkulmu dengan cinta
Pegang aku dalam iman dan percaya
Enyahlah dari Bumi
Kemurkaan telah enyah dari bumi dan dengan anggun dan agung bumi itu berjalan
Bumi membangun istana-istana dan mendirikan menara-menara dan kuil-kuil
Dan bumi menenun legenda-legenda, doktrin-doktrin, dan hukum-hukum
Lalu bumi pun terselimuti haluan yang letih oleh kerja, impian-impian dan fantasi-fantasinya
Dan mata bumi kemudian diperdaya oleh kelaparan dalam istirahat abadi
Dan bumi memanggil,
“Aku adalah rahim dan pusara, dan aku akan tetap menjadi rahim dari pusara sampai planet-planet tidak ada lagi dan mentari berubah menjadi abu.”
Anak-Anakmu
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan
Yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu
Tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok
Yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian
Dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya
Sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlahh tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang
Maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan
Anakmu Bukanlah Milikmu
Anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra putri sang Hidup
yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau
Tetapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu tetapi bukanlah milikmu
Berikanlah mereka kasih sayangmu
Namun jangan sodorkan pemikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri
Patut kau berikan rumah bagi raganya
Namun tidak bagi jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi
Sekalipun dalam mimpimu
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Ataupun tenggelam ke masa lampau
Engkaulah busur asal anakmu
Anak panah hidup melesat pergi
Sang pemanah membidik sasaran keabadian
Semalam
Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih;
dan kesendirianku sebengis kematian
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara,
Di dalam fikiran malam.
Hari ini aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan sekucup ciuman
Ku Ingin Tahu Siapa
Dia yang memikat hati
Entah bagaimana caranya
Aku bisa tergoda
Ku curi-curi waktuku
Tuk mengusik hatinya
Banyak cara kucoba
Demi untuk mendapatkan hatinya
Mungkin kau tahu
Tuk mendapatkannya
Tuhan tolonglah aku
Ingin kumenangkan hatinya tuk miliki
Jika mungkin kutahu apa yang bisa menaklukannya
Belah dadaku tuk buktikan cintaku
Mungkin engkau tahu aku cinta dia
Ingin ku menangkan hatinya tuk kumiliki
Rahasia Biruku
Biru
Aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut
Dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna
Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
Hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam
Biru
Ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati
Yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam
Membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa
dan lebih merasakan hangatnya cinta
Biru
Kau mampu memberiku warna yang berbeda di setiap sisi lemahku
Membuatku tertawa, tersenyum, dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu
Kau juga memberiku rasa tenang, damai, dan juga cinta disampingmu
Dengan segala kekuranganku
Kau memang spesial di hatiku
Kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku
Biru
Kau sungguh membuatku bersyukur karena memilikimu,
Memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta dan indahnya kehidupan
Karya Kahlil Gibran
Kahlil Gibran lahir 6 Januari 1883 di Bsharri, Lebanon, bagian dari Suriah dan Kekaisaran Ottoman. Kahlil Gibran dikenal sebagai seorang novelis, penyair, serta seniman dunia. Nama Kahlil Gibran dikenal juga di dunia Arab sebagai Gibran Khalil Gibran.
Kahlil Gibran adalah anak bungsu pasangan suami-istri (pasutri) Khalil Sa’d Jubran dan Kamila Jubran. Khalil Sa’d Jubran seorang pemungut bea (pajak). Nasib tragis Khalil Sa’d Jubran berujung di bui akibat menggelapkan pajak.
Sedang sang bunda, Kamila Jubran, adalah putri seorang pendeta di Gereja Kristen Maronit. Pada 1885, Gibran pergi ke ke Amerika Serikat bersama ibu dan saudara-saudaranya.
Di negeri Pam Sam, Kahlil Gibran beserta keluarga tinggal di Boston, Massachusetts, tempat di mana komunitas Suriah dan Lebanon menetap. Di Amerika Serikat ia belajar bahasa Inggris dan seni. Sang bunda bekerja sebagai penjahit demi menghidupi keluarga.
Pada usia 15 tahun, sang bunda mengirimnya ke Beirut, Lebanon di Sekolah Maronit. Usai merampungkan sekolah Gibran kembali ke Boston tahun 1902. Sayang ibunya meninggal akibat menderita tuberkulosis dan kanker.
Usaha menjahit sang bunda kemudian dilanjutkan Marianna guna bertahan hidup. Tahun 1904, Kahlil Gibran mulai menerbitkan artikel di sebuah surat kabar berbahasa Arab. Gibran meninggal dunia pada 10 April 1931 di Kota New York. Ia menutup mata selamanya akibat sirosis hati.










