JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Pelaksanaan Kongres Analisis Papua Strategis (APS) III yang berjalan sukses di Papua Youth Creative Hub (PYCH), kota Portnumbay Jayapura, Papua, Jumat (29/5) lalu menyisakan cerita mini namun berharga.
Pegiat literasi di Papua Pegunungan, Angginak Sepi Wanimbo berkesempatan bertemu Gubernur Provinsi Jawa Barat H. Dedi Mulyadi, SH di sela-sela acara Kongres APS III.
Kang Dedi atau akrab dengan sapaan KDM datang bersama Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, dan Wali Kota Depok Supian Suri. Dedi menjadi salah satu narasumber dalam konferensi itu.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Sepi Wanimbo, yang juga Ketua APS Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan bertemu Kang Dedi. Momen perjumpaan itu dimanfaatkan Sepi Wanimbo, pegiat literasi akhirnya menyerahkan dua buku bertema Papua kepada Dedi, orang nomor satu Jawa Barat, tanah Pasundan.
Dalam konferensi itu, kata Sepi Wanimbo, Gubernur Jawa Barat Pak Dedi Mulyadi menjadi salah satu narasumber. Dalam list, daftar narasumber ada nama beliau. Sepi kemudian memasukkan dua buku dalam tas.
“Buku karya saya berjudul Transmigrasi dan Hak Atas Tanah Adat Orang Asli Papua. Kemudian, buku berjudul Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua karya Gembala Socratez Sofyan Yoman,” ujar Sepi Wanimbo.
Sepi sesungguhnya lama memendam niat bertolak dari pedalaman kampung di Lanny Jaya menuju Bandung, sekadar berjumpa langsung Dedi Mulyadi. Namun, niat itu kandas mengingat jarak bumi Cederawasih dan bumi Parahyangan di tatar Sunda, terpaut puluhan ribu kilometer.
“Waktu Tuhan selalu yang terindah. Momentum Konferensi APS III di kota Portnumbay pada 29 Mei 2026 saya berkesempatan bersua dengan Pak Dedi Mulyadi. saya Sebagai anak terdidik saya berpikir lebih baik saya berikan dua buku karya kami putra asli Papua sebagai kado, oleh-oleh untuk Pak Dedi menuju Bandung,” kata Sepi Wanimbo.
Sepi Wanimbo mengakui, Gubernur Dedi Mulyadi adalah sosok pemimpin merakyat. Ia sering mendengar dan mengamati wajah tanah Papua dan rakyat paling timur Indonesia itu melalui media massa. Karena itu dalam kesempatan yang baik saat kongres ada oleh-oleh untuk sang gubernur.
“Saya tidak berkesempatan menyampaikan secara lisan tentang kondisi riil yang dihadapi rakyat Papua dalam kehidupan sehari-hari belakangan. Namun, saya berikan dua buku tentang situasi rakyat Papua yang tersaji di dalam buku itu,” kata Sepi Wanimbo, pegiat literasi yang juga seorang kolumnis.
Buku ini, kata Sepi Wanimbo, merupakan karya intelektual kedua penulis yang merekam dan mendokumentasikan penderitaan rakyat hingga saat ini. Karena itu, ujarnya, melalui kedua buku itu ia berdoa dan berharap kondisi yang sedang dirasakan oleh orang asli Papua menjadi ‘santapan’ Dedi sesaat setelah tiba di Bandung.
“Setelah Pak Dedi menerima kedua buku ini, beliau sangat berterima kasih. Namun, ada pesan penting beliau. ‘Orang Papua harus merawat bahasa, budaya, tanah, dan hutannya agar tetap lestari. Ketika bahasa, budaya, tanah, dan hutan diambil alih orang lain maka orang Papua akan jadi tamu di negeri sendiri.’ Itu pesan yang sangat dalam bagi kami orang asli Papua,” ujar Sepi Wanimbo. (*)










