Doa Nelayan yang Resah
Dalam pendar kaki langit yang semakin kelam,
Wajah kami kecut dicakar badai yang mengganas
Ribuan bintang mengerdip menahan hasrat kami melaut
Namun air mata yang mengering menghapus resah kami
Dari dasar palung, requiem-Mu terdengar betapa sumbangnya
padahal Engkau sumber segala harmoni alam
Dari angkasa raya, jutaan tombak badai-Mu menikam kami
betapa liarnya, padahal Engkau pelindung kami satu-satunya
Gelegar ombak samudra yang Kau tebarkan
dari empat penjuru mata angin betapa tajamnya
Badai yang berkejaran dengan amis malam
menggelisahkan kami
Dalam pendar kaki langit yang tak lagi peduli
Tangan kami lemah terjulur meminta belas kasihan lautan lepas
Perahu yang separuh perjalanan tak hendak berbalik
Meskipun ajal menanti di palung samudra
Karena kami hanyalah noktah di keagungan kasih-Mu!
Sang Pencari Lobster
Ombak yang memecah karang
tak pernah menciutkan nyalinya
Ia selalu mampu menghadang ombak
yang sia-sia menerjang perahunya
Dilewatinya karang demi karang
meninjau jaring-jaring perangkap lobster
Senyum dingin diarahkan pada debur yang membuih
Lobster dijerat dan ditawarkan ke cukong
Hari ini lobster hijau dan merah memasang jerat
tangkapan besar tak bakal lepas
Benar saja. Ketika ombak menghentak
dan melemparkan perahu ke karang
Mereka pun mendapat lobster
yang sudah begitu lama mereka incar
Tanah yang Retak
bongkahan tanah yang retak itu menyadarkan
kita telah sampai ke liang-liang jiwa yang resah
yang terlihat rimbun dari kejauhan
hingga kita terlalu angkuh untuk bercermin
bongkahan tanah yang retak itu tak lagi berbentuk
sedang kita menganggapnya terlalu memesona
dengan lekukan dan gairah yang binal
atas taruhan sebuah ilusi yang menggetarkan
ada juga air mata
tetapi di seberang seekor buaya
tak berkedip sejak awal
menanti dengan sabar
bongkahan tanah yang retak itu
menghapus kenangan demi kenangan
yang sempat tergores dalam kesunyian
di antara harapan dan kepalsuan
di ujung bongkahan tanah yang retak itu
jalanan menanjak membelah hati yang tak lagi bertaut
ketika kaki melangkah meninggalkan tanah yang retak
tirai malam tak berbintang pun menurun
dan bukit-bukit mengatup luka di penghujung musim
Yoseph Yapi Taum
Sumber: Antologi Puisi Ballada Arakian tahun 2015
Prof Dr Yoseph Yapi Taum, M.Hum lahir di Ataili, Pulau Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Telah menerbitkan tiga antologi puisi tunggal, yakni (1) Ballada Arakian: Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Penerbit Lamalera (2015); (2) Ballada Orang-Orang Arfak, Antologi Puisi, Yogyakarta: Sanata Dharma University Press (2019); dan (3) Kabar dari Kampung: Sebuah Antologi Puisi (2023), Yogyakarta: Sanata Dharma University Press










