Puisi: Tanah Karya Yance Dou

Foto ilustrasi: Suku Moi salah satu komunitas masyarakat adat di tanah Papua. Sumber foto ilustrasi: betahita.id/AMAN

Tanah

 

Engkaulah ibundaku

Engkau ada yang pertama

Engkau juga ada yang terakhir

Engkau ada karena Sang Pengada

 

Tanah

Engkau ibundaku

Karena engkau aku dilahirkan

Setiap insan adalah darah dagingmu yang mulia

Engkau menyusui dengan susu yang jernih dan bening

Engkau memberi makan dengan segala kelezatannya

 

Tanah

Engkau menopang setiap makhluk

Engkau menumbuhkan

Engkau membuahkan

Engkau juga memberi

Kepada kami setiap makhluk yang bernapas

 

Tanah

Engkau selalu patuh kepada Sang Pengada

Patuh kepada hukum-hukum yang diikatkan dalam dirimu

Dan selalu setia, pasrah pada perintah-Nya

 

Tanah

Engkau Ibunda yang membisu

Seolah engkau tak bersuara

Hanya karena kami yang tuli, tak mampu mendengar jeritanmu

Engkau seolah diam

Padahal nurani kamilah yang telah mati membatu

 

Tanah

Petuah dan nasihatmu selalu mengalir

Seirama dengan arus sungai yang tiada hentinya

Namun kami, anak-anakmu yang durhaka

Selalu menginjak-injak kehormatanmu tanpa rasa iba

Berapa malunya aku saat mendengar bisikan peringatanmu

 

Tanah

Engkau kecewa melihat setiap insan yang lupa dan sombong

Bagai anak bandel yang lupa akan asal-usulnya

Merasa diri paling hebat dan berkuasa

Padahal di dalam pangkuan kasihmu ia bernapas dan ada

 

Tanah

Kini engkau merintih dan murka

Namun kasihmu tetap hangat merangkul

Engkau terluka oleh keserakahan, namun dengan rendah hati

Kami tetap kau beri makan dan disusui

Ampunkan kami, seribu maaf, bahkan berjuta-juta maaf

 

Lihatlah dada Papua yang hijau menawan

Kini dipetakan, disayat, dan diperjualbelikan

Dikeruk kekayaannya oleh mesin-mesin keserakahan

Pohon-pohon tumbang bersimbah tetesan air mata hutan

Sagu dan sungai kami dicemarkan, ditukar demi rupiah dan kemewahan

 

Ibu Papua kini menangis menanggung beban

Atas nama pembangunan yang merampas ruang kehidupan

Atas nama utang dan kesepakatan yang tak pernah kami putuskan

Darat, laut, dan gunung diserahkan pada asing dan korporasi

Sementara anak-anak adat tersingkir dari tanah kelahiran sendiri

 

Dengarlah wahai nurani bangsa, bangunlah dari tidurmu!

Tanah Papua bukanlah barang dagangan yang boleh dijual belikan

Bukan pundi-pundi emas untuk menambal utang dan pembuangan

Ini adalah rumah, paru-paru dunia, ibu yang harus kita pertahankan

 

Rapatkan barisan, genggam jemari, lindungi setiap jengkal hutan

Jangan biarkan Papua hancur lebur oleh eksploitasi dan perampasan

Sebab membiarkan tanah ini dirusak sama saja membunuh masa depan

Mari cintai dan jaga Ibu Tanah Papua, demi anak cucu dan peradaban!

Jayapura, Minggu, 20 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.