Tanah
Engkaulah ibundaku
Engkau ada yang pertama
Engkau juga ada yang terakhir
Engkau ada karena Sang Pengada
Tanah
Engkau ibundaku
Karena engkau aku dilahirkan
Setiap insan adalah darah dagingmu yang mulia
Engkau menyusui dengan susu yang jernih dan bening
Engkau memberi makan dengan segala kelezatannya
Tanah
Engkau menopang setiap makhluk
Engkau menumbuhkan
Engkau membuahkan
Engkau juga memberi
Kepada kami setiap makhluk yang bernapas
Tanah
Engkau selalu patuh kepada Sang Pengada
Patuh kepada hukum-hukum yang diikatkan dalam dirimu
Dan selalu setia, pasrah pada perintah-Nya
Tanah
Engkau Ibunda yang membisu
Seolah engkau tak bersuara
Hanya karena kami yang tuli, tak mampu mendengar jeritanmu
Engkau seolah diam
Padahal nurani kamilah yang telah mati membatu
Tanah
Petuah dan nasihatmu selalu mengalir
Seirama dengan arus sungai yang tiada hentinya
Namun kami, anak-anakmu yang durhaka
Selalu menginjak-injak kehormatanmu tanpa rasa iba
Berapa malunya aku saat mendengar bisikan peringatanmu
Tanah
Engkau kecewa melihat setiap insan yang lupa dan sombong
Bagai anak bandel yang lupa akan asal-usulnya
Merasa diri paling hebat dan berkuasa
Padahal di dalam pangkuan kasihmu ia bernapas dan ada
Tanah
Kini engkau merintih dan murka
Namun kasihmu tetap hangat merangkul
Engkau terluka oleh keserakahan, namun dengan rendah hati
Kami tetap kau beri makan dan disusui
Ampunkan kami, seribu maaf, bahkan berjuta-juta maaf
Lihatlah dada Papua yang hijau menawan
Kini dipetakan, disayat, dan diperjualbelikan
Dikeruk kekayaannya oleh mesin-mesin keserakahan
Pohon-pohon tumbang bersimbah tetesan air mata hutan
Sagu dan sungai kami dicemarkan, ditukar demi rupiah dan kemewahan
Ibu Papua kini menangis menanggung beban
Atas nama pembangunan yang merampas ruang kehidupan
Atas nama utang dan kesepakatan yang tak pernah kami putuskan
Darat, laut, dan gunung diserahkan pada asing dan korporasi
Sementara anak-anak adat tersingkir dari tanah kelahiran sendiri
Dengarlah wahai nurani bangsa, bangunlah dari tidurmu!
Tanah Papua bukanlah barang dagangan yang boleh dijual belikan
Bukan pundi-pundi emas untuk menambal utang dan pembuangan
Ini adalah rumah, paru-paru dunia, ibu yang harus kita pertahankan
Rapatkan barisan, genggam jemari, lindungi setiap jengkal hutan
Jangan biarkan Papua hancur lebur oleh eksploitasi dan perampasan
Sebab membiarkan tanah ini dirusak sama saja membunuh masa depan
Mari cintai dan jaga Ibu Tanah Papua, demi anak cucu dan peradaban!
Jayapura, Minggu, 20 September 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










