OPINI  

Merawat Hutan, Menjaga Tungku Api Tetap Menyala

I Musa, Guru SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh I Musa

Guru SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah

HUTAN bukan sekadar kumpulan pohon yang berdiri di atas tanah. Hutan adalah rumah kehidupan bagi kita. Di dalamnya ada air yang mengalir, udara yang kita hirup, tanah yang menopang kehidupan, tumbuhan yang tumbuh dapat menghasilkan oksigen, dan berbagai makhluk hidup yang saling bergantung satu dengan yang lain.

Manusia juga tidak pernah benar-benar terpisah dari alam dan hutan. Kita hidup dari alam. Kita makan dari alam. Kita pun minum dari alam. Dan, bahkan alam membantu memenuhi sebagian kebutuhan hidup dari apa yang disediakan di sana. Ktika kita berbicara tentang hutan. Sesungguhnya, kita sedang berbicara tentang kehidupan kita sendiri.

Bagi masyarakat Papua, hutan mempunyai hubungan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat Papua tetap dan selalu tergantung pada alam. Hutan menyediakan pangan, air, kayu, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Hutan juga menjadi ruang hidup, ruang sosial, ruang budaya, dan tempat pengetahuan tentang alam diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Hutan tidak dapat dipandang hanya sebagai sumber daya yang dapat diambil dan dimanfaatkan. Hutan adalah bagian dari kehidupan yang perlu dihormati, dijaga, dan dirawat. Mengapa demikian? Karena, hutan tetap memberikan kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ketika musim kemarau panjang datang. Persoalan menjadi semakin nyata. Rumput mengering, daun-daun menjadi mudah terbakar, tanah kehilangan kelembapannya, dan api lebih mudah menjalar. Kebakaran yang bermula dari titik kecil dapat berkembang menjadi persoalan besar.

Pohon terbakar. Habitat berbagai makhluk hidup rusak, sumber air terancam, tanah kehilangan pelindungnya, dan asap mengganggu kehidupan masyarakat. Karena itu, kebakaran hutan bukan hanya persoalan tentang api yang membakar pepohonan. Di balik api, terdapat kehidupan yang sedang terancam dan rumah bersama yang sedang kehilangan bagian penting dari dirinya.

Di sinilah, kita perlu memahami kembali arti “menjaga hutan”. Kita tidak boleh menunggu sampai api membesar baru menyadari pentingnya hutan. Kita tidak boleh hanya berbicara tentang hutan setelah banyak pohon terbakar. Menjaga hutan harus dimulai sebelum kebakaran terjadi.

Pencegahan, kepedulian, pengawasan, dan kebiasaan hidup yang tidak merusak alam merupakan bagian dari tanggung jawab kita bersama. Ini adalah tanggung jawab moral. Sebagai manusia yang berakal budi.

Artinya bahwa kita diberi komponen kesadaran ‘tahu, mau, dan mampu’ untuk berpikir, mempertimbangkan, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Setiap tindakan semestinya dilakukan dengan kesadaran, tanggung jawab, dan penghormatan atas kehidupan sesama serta alam ciptaan. Alam adalah rumah kita bersama.

Hutan adalah kebun kita bertahan hidup. Sebab, hutan yang terjaga bukan hanya memberikan manfaat bagi kita hari ini, tetapi juga menyediakan ruang kehidupan bagi kita kini dan terutama bagi generasi yang akan datang.

“Menjaga tungku api tetap menyala”. Ini bukan ungkapan biasa. Ini dapat menjadi gambaran sederhana tentang hubungan manusia dengan alam dan hutan. Gambaran bahwa manusia tergantung pada alam dan hutan. Tungku membutuhkan api. Api membutuhkan bahan bakar.

Dalam kehidupan masyarakat, kayu menjadi salah satu bahan yang membuat tungku tetap menyala. Kayu berasal dari pohon. Kemudian, pohon tumbuh di dalam ekosistem yang membutuhkan tanah, air, dan lingkungan yang sehat.

Maka, ketika kita merawat hutan. Sesungguhnya, kita sedang menjaga sumber kehidupan. Kita menjaga rumah dan kebun agar tungku tetap menyala. Tungku bukan hanya tempat memasak. Akan tetapi, simbol kehidupan keluarga, keberlangsungan rumah tangga, dan harapan agar kehidupan terus berjalan melalui dan dari hutan alam.

Hutan Terbakar, Rumah Kehidupan Terancam

Ketika, hutan yang dulu terlihat indah dan asri terbakar. Yang kita lihat biasanya adalah api, asap, pohon yang hangus, dan lahan yang berubah menjadi gundul dan hitam.

Namun, di balik apa yang terlihat itu terdapat kehidupan yang tidak selalu dapat kita kita lihat dan saksikan dengan kasat mata. Ada satwa yang kehilangan rumah dan tempat tinggalnya, tumbuhan yang mati, sumber makanan yang berkurang, dan tanah yang kehilangan pelindungnya.

Kebakaran juga dapat mengganggu keseimbangan lingkungan yang terbentuk dalam waktu yang panjang. Hutan yang terbakar tidak boleh dilihat hanya sebagai lahan yang kehilangan pepohonan. Hutan yang terbakar adalah rumah dan kebun kehidupan yang sedang mengalami kerusakan.

Kita sering kali baru menyadari pentingnya sesuatu setelah sesuatu itu hilang. Air terasa begitu berharga ketika sumbernya mulai mengering. Udara terasa begitu penting ketika asap memenuhi lingkungan. Hutan juga demikian. Selama hutan masih berdiri. Kita sering menganggap keberadaannya sebagai sesuatu yang biasa.

Namun, ketika hutan rusak, kita mulai merasakan bahwa banyak bagian dari kehidupan ternyata bergantung padanya. Karena itu, kesadaran menjaga hutan harus hadir sebelum kerusakan terjadi, bukan setelah semuanya terlambat.

Hutan dan Tungku Api Kehidupan

Tungku api adalah bagian sederhana dari kehidupan keluarga. Di sana api dijaga agar tetap menyala, makanan dimasak, dan kebutuhan keluarga dipenuhi. Api yang kecil pun mempunyai arti dan makna yang mendalam. Dari api itulah kehidupan sehari-hari berlangsung.

Akan tetapi, api tidak dapat terus menyala tanpa bahan bakar. Demikian pula kehidupan manusia tidak dapat berlangsung tanpa sumber daya alam yang menopang kita. Hutan menjadi salah satu sumber penting.  Yang selalu dan senantiasa menyediakan berbagai kebutuhan tersebut.

Hutan tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak kayu yang dapat diambil. Hutan harus dilihat dari berapa banyak kehidupan yang dapat dipertahankan. Hutan menyimpan air, menjaga tanah, menyediakan ruang bagi berbagai makhluk hidup. Dan, hutan juga menjadi bagian dari sistem alam yang menopang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ketika, kita jaga hutan. Kita sebenarnya sedang menjaga bersumber kehidupan. Kita menjaga air, tanah, udara, kehidupan satwa, tumbuhan, dan masa depan manusia. Di sanalah hubungan antara hutan dan tungku kehidupan menjadi jelas. Menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan agar api kehidupan tidak padam dan tetap menyala kini dan masa depan.

Merawat Hutan Dimulai dari Kita

Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kehutanan. Menjaga hutan juga bukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan melalui program besar dan anggaran yang besar.

Ia dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus oleh saya, engkau, kami, dan mereka. Yang disimpulkan dengan kata ‘kita’. Tidak membakar sembarangan. Mesti, memastikan api benar-benar padam setelah digunakan. Tdak meninggalkan sumber api di kawasan yang mudah terbakar, menjaga lingkungan sekitar, melindungi sumber air.

Dan, kemudian, segera memberi tahu pihak terkait. Ketika, melihat kebakaran merupakan bentuk tanggung jawab yang dapat dilakukan kapan, dimana, dan siapa saja tanpa terkecuali.

Kesadaran itu harus tumbuh dari diri sendiri, rumah, kampung, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan masyarakat yang lebih luas. Kita tidak perlu menunggu menjadi orang penting untuk mulai menjaga alam. Kita tidak perlu menunggu adanya perintah untuk melakukan sesuatu yang memang menjadi tanggung jawab bersama.

Sebab, hutan yang luas tersusun dari banyak bagian kecil yang saling terhubung antara satu dengan lain. Begitu pula, kepedulian terhadap hutan dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama. Mesti menjadi tanggung jawab moral.

Ketika tindakan sederhana dilakukan oleh banyak orang dan menjadi kebiasaan. Ia dapat menjadi kekuatan besar untuk menjaga lingkungan dan tungku api kehidupan pun terus menerus menyala dalam hidup dan kehidupan kita.

Menjaga Hutan, Menjaga Generasi Berikutnya

Hutan yang kita nikmati hari ini bukan hanya untuk kita. Ada generasi berikutnya. Yang akan hidup di tanah yang sama, menggunakan air yang sama, menghirup udara dari alam yang sama, dan membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertahan hidup.

Kita mempunyai tanggung jawab untuk tidak mewariskan kerusakan kepada mereka. Anak-anak kita membutuhkan hutan yang masih hidup, sungai yang masih mengalir, tanah yang masih subur, dan alam yang tidak hanya tinggal dalam ingat, kenangan atau cerita masa lalu.

Merawat hutan bukan hanya tentang menyelamatkan pohon. Merawat hutan adalah merawat kehidupan. Ia adalah cara kita menjaga air tetap mengalir, tanah tetap hidup, udara tetap bersih, dan berbagai makhluk hidup tetap mempunyai rumah dan kebun. Hutan adalah bagian dari rumah kita bersama. Hutan adalah kebun kehidupan.

Oleh karena itu, tanggung jawab menjaganya juga merupakan tanggung jawab bersama. Yang menjaga dan merawat adalah saya, engkau, kami, dan mereka. Yang disebut sebagai kita.

Kitalah yang menentukan apakah hutan akan tetap berdiri atau perlahan hilang karena kita membakar. Kitalah yang menentukan apakah alam akan tetap menjadi rumah kehidupan atau berubah menjadi ruang yang kehilangan daya dukungannya.

Menjaga hutan tidak boleh hanya menjadi slogan. Ia harus menjadi kesadaran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari kita bersama. Sebab, ketika hutan kita rawat, kehidupan kita jaga. Ketika hutan tetap hidup, air tetap mengalir.

Dan ketika sumber kehidupan tetap tersedia, tungku api akan tetap menyala. Mari kita jaga alam sebagai rumah kita bersama. Kita jaga hutan sebagai kehidupan yang selalu menghidupi kita.