Di Bawah Selimut Doa Maria
Di bawah selimut doa-Mu, Bunda
aku bersembunyi dari riuh dunia
Lelahku Kau peluk tanpa kata
air mataku Kau ubah jadi doa
Malam tak lagi sekadar gelap
sebab namamu berpendar dalam harap
Pada tiap butir rosario yang terurai
kutemukan jalan pulang yang damai
Engkau tak banyak bicara
namun hatimu luas menampung derita
Segala yang tak sanggup kuucapkan
Kau bisikkan lembut di hadapan Tuhan
Di bawah selimut doa-Mu yang sunyi
aku belajar percaya meski tak mengerti
Bahwa dalam diam yang paling dalam
kasih Tuhan bekerja tanpa suara dan tanpa batas zaman
Perawang, 1 Mei 2026
Di Pelukan Sunyi Bunda Maria
Di pelukan sunyi yang tak bersuara
Engkau menyapaku tanpa kata, Bunda
Seperti malam yang setia menjaga rahasia
Tentang terang yang enggan segera lahir
Aku datang dengan retak yang tersisa lirih
Tanya yang terbenam dalam hati
Dan iman yang gemetar di ujung sepi
Di antara percaya dan hampir menyerah
Namun engkau tidak mengusir gelapku
Engkau memeluknya hingga menjadi teduh
Membiarkan lukaku berbicara pada hening
Hingga air mata menemukan wajahnya
Di keheninganmu yang dalam
Perlahan kusadari arah yang tersembunyi
Bahwa luka bukan akhir perjalanan
Melainkan pintu sunyi menuju kembali
Dalam pelukan sunyimu, Bunda
Tak lagi kutakuti wajah kegelapan
Sebab di sana, tanpa suara dan tanda
Kasih Tuhan berakar diam dan kekal
Perawang, 1 Mei 2026
Namamu, Doa yang Tak Pernah Usai
Namamu kusebut di ujung sunyi
Ketika kata tak lagi mampu berdoa
Dan hati hanya bisa bergetar pelan
Di antara rindu dan ketakutan
Bunda hadir tanpa banyak suara
Namun dalam diam yang kau jaga
Aku menemukan arah yang lama hilang
Di dalam teduh yang tak tersentuh riuh
Setiap kali dunia terasa menjauh
Dan langkahku goyah tanpa pegangan
Namamu tumbuh seperti bisikan lembut
Yang menuntun tanpa pernah memaksa
Di dalam sebutan yang sederhana itu
Kutitipkan luka yang tak terucap
Dan harap yang hampir padam
Agar tetap menyala dalam iman
Namamu, Bunda
Bukan sekadar doa yang terulang
Melainkan napas yang tak pernah selesai
Yang menghubungkanku kembali kepada Tuhan
Perawang, 2 Mei 2026
Damianus Ose Wotan lahir di Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Saat ini berdomisili di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Penulis berprofesi sebagai guru dan pendamping masyarakat dalam bidang hukum.
Damianus aktif dalam kegiatan edukasi dan pendampingan hukum kepada masyarakat. Ia juga menyukai sastra, terutama puisi. Sejumlah puisi karyanya bertema religius, hukum, kehidupan, dan refleksi batin menyebar di berbagai media massa.
Karya-karyanya itu dimuat dalam berbagai antologi serta dipublikasikan di media dan komunitas sastra. Salam merawat kata dan rasa.










