Esai: Memandang Gadis Tionghoa dalam Payudara Nai-Nai Djenar Maesa Ayu ala Longinus

Henry Wasini, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Foto: Istimewa

Oleh Henry Wasini

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

CERITA pendek (Cerpen) Payudara Nai-Nai adalah salah satu judul cerpen yang menghuni antologi karya Djenar Maesa Ayu dalam Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Payudara Nai-Nai menyoroti isu gender dan seksualitas perempuan.

Cerita ini mengangkat kisah Nai-Nai, tokoh dalam Payudara Nai-Nai karya Djenar. Nai-Nai adalah gadis Tionghoa. Djenar melukiskan, gadis itu merasa minder karena kerap diejek rekan-rekannya terkait bentuk tubuhnya yang dianggap melawan standar kecantikan masyarakat.

Bila ditelaah dari perspektif keluhuran (sublimity atau hypsos) ala Longinu, yang sering dirujuk sebagai Pseudo-Longinus dalam risalah klasik, On the Sublime alias Peri Hypsous, Payudara Nai-Nai Djenar menggambarkan perasaan batin seorang gadis yang menghadapi stereotip sosial terhadap tubuh perempuan di tengah masyarakat.

Dalam masyarakat patriarki, perempuan sering dipandang sebagai objek yang harus memenuhi standar kecantikan tertentu. Tekanan sosial ini menyebabkan rasa cemas, konflik identitas, dan rasa rendah diri pada Nai-Nai, tokoh utama Payudara Nai-Nai yang menghuni Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) Djenar.

Jika dilihat dari sudut pandang keluhuran, menurut Longinus, cerpen ini tidak sekadar menyuguhkan konflik sosial. Ia juga menunjukkan kekuatan ekspresi, kedalaman emosi, dan gagasan besar yang mampu menggugah pembaca, terutama penikmat karya sastra khususnya cerpen. Menurut Longinus, ada lima sumber keluhuran, yaitu gagasan besar, emosi yang kuat, penggunaan majas atau gaya bahasa, diksi yang mulia, dan susunan kalimat yang agung.

Analisis keluhuran dalam Payudara Nai-Nai dapat dilihat lebih dalam berikut ini. Pertama, gagasan besar (great idea). Gagasan  utama dalam cerpen ini adalah kritik terhadap konstruksi sosial yang menganggap perempuan sebagai objek penilaian laki- laki. Gadis Tionghoa, Nai-Nai, tokoh utama Payudara Nai-Nai mengalami tekanan.

Mengapa? Tubuh Nai-Nai dipandang tidak sesuai standar kecantikan ideal yang berlaku dalam masyarakat. Kritik ini bukan hanya menceritakan pengalaman individu, tetapi juga merepresentasikan isu sosial terkait ketidakadilan gender dan stereotip terhadap perempuan. Dengan gagasan ini, kisah gadis Tionghoa Nai-Nai dalam Payudara Nai-Nai memberikan makna yang dalam dan refleksi sosial yang kuat.

Kritik terhadap konstruksi sosial yang menempatkan tubuh perempuan sebagai objek penilaian, memperlihatkan bagaimana masyarakat patriarki sering kali menilai perempuan berdasarkan penampilan fisik, bukan pada kemampuan, karakter, atau kepribadian mereka. Karena itu, tubuh perempuan sering kali menjadi objek penilaian sosial sehingga identitas perempuan terbatas oleh standar kecantikan yang sempit.

Kedua, emosi yang kuat (vehement emotion). Cerpen ini secara baik menggambarkan emosi yang kuat melalui pengalaman psikologis seorang Nai-Nai.  Ia merasa malu, rendah diri, dan cemas akibat penilaian yang didapat dari masyarakat sekitarnya.

Pembaca pun dapat merasakan penderitaan batin tokoh sehingga emosi yang kuat ini menjadi sumber keluhuran yang mampu memicu perasaan pembaca dengan menggambarkan emosi ini. Pembaca tidak hanya memahami situasi yang dialami sang tokoh, Nai-Nai, tetapi juga secara emosional mengalami penderitaannya.

Dengan demikian, emosi dalam alur cerpen ini menjadi unsur penting yang memberikan kedalaman makna karena mampu menggugah empati dan menunjukkan dampak manusiawi dari stereotip dan penilaian sosial terhadap seseorang.

Ketiga, penggunaan gaya majas. Djenar menggunakan berbagai bentuk ekspresi yang menggambarkan tekanan sosial yang dirasakan oleh perempuan. Bahasa yang digunakan bersifat simbolik dan metaforis, memperkuat kritik terhadap budaya patriarki. Penggunaan majas ini meningkatkan daya retoris cerita, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih menggugah dan menarik.

Keempat, diksi mulia (noble diction). Pilihan kata (diksi) dalam cerpen ini cendrung tajam dan ekspresif menunjukkan keberanian pengarang dalam mengangkat tema yang sensitif. Diksi yang kuat ini memberikan kekuatan emosional dan estetika, memperkuat pesan tentang ketidakadilan gender serta memberikan dampak mendalam kepada pembaca.

Kelima, komposisi yang agung (staid composition). Struktur cerpen disusun secara sederhana, tetapi memiliki kekuatan dramatis. Penyajian konflik batin dalam tokoh Nai-Nai dilakukan secara bertahap, memungkinkan pembaca mengikuti perkembangan emosi dari awal hingga akhir. Komposisi naratif ini membuat pesan kritik sosial terasa jelas dan berdampak.

Secara keseluruhan, Payudara Nai-Nai menunjukkan keluhuran tidak hanya melalui keindahan bahasa. Di sana bersemayam pula keberanian pengarang dalam menghadirkan isu sosial yang sensitif. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan namun sekaligus sebagai refleksi kritis terhadap realitas sosial.

Melalui pengalaman Nai-Nai, pembaca diingatkan akan perlunya melihat perempuan sebagai subjek yang memiliki kebebasan dan martabat, bukan sekadar objek penilaian sosial.

Jika dilihat secara keseluruhan, keluhuran dalam cerpen ini tidak hanya terletak pada keindahan bahasa, tetapi juga pada keberanian pengarang dalam mengangkat isu sosial yang sensitif. Payudara Nai-Nai mengajak pembaca mempertanyakan kembali standar kecantikan yang dibentuk oleh masyarakat patriarki.

Dengan demikian, cerpen ini memiliki fungsi kritis sekaligus reflektif. Pembaca tidak sekadar menikmati cerita sebagai karya sastra. Ia malah lebuh dalam lagi: pembaca diajak merenungkan dan merefleksikan realitas sosial yang tersaji di sekitarnya.

Selain itu, keluhuran dalam Payudara Nai-Nai Djenar ini juga terlihat dari kemampuan teks untuk membangkitkan kesadaran pembaca mengenai pengalaman perempuan.  Longinus menekankan: karya yang luhur mampu “mengangkat jiwa” pembacanya.

Dalam konteks cerpen ini, pembaca diajak untuk melihat dan memahami realitas perempuan dari sudut pandang yang lebih empatik dan humanis. Pengalaman Nai-Nai menggambarkan bagaimana stereotip sosial dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Melalui pengalaman tersebut, pembaca dapat memahami pula bahwa standar kecantikan yang dibangun masyarakat sering kali bersifat tidak adil dan menekan. Dengan demikian, Payudara Nai-Nai dapat dikatakan memiliki unsur keluhuran dalam perspektif Longinus karena memenuhi beberapa kriteria utama dari teori tersebut.

Cerita ini mengandung gagasan besar tentang kritik terhadap patriarki, menghadirkan emosi yang kuat melalui konflik batin tokoh, menggunakan gaya bahasa simbolik, memiliki diksi yang tegas serta menyusun narasi secara efektif sehingga mampu menggugah pembaca.

Kelima unsur tersebut menjadikan Payudara Nai-Nai tidak sekadar karya sastra yang menarik dan estetis, tetapi juga karya yang mengandung kekuatan moral dan pesan sosial yang kuat.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis menggunakan perspektif keluhuran sublimitas dari Longinus, Payudara Nai-Nai Djenar menunjukkan unsur keluhuran yang kuat melalui beberapa aspek utama. Cerpen ini menghadirkan gagasan besar berupa kritik terhadap konstruksi sosial patriarki yang menilai perempuan berdasarkan standar kecantikan tertentu.

Selain itu, cerita ini menampilkan emosi yang intens melalui konflik batin Nai-Nai, tokoh yang mengalami rasa malu, kecemasan, dan tekanan sosial. Penggunaan gaya bahasa simbolik, diksi yang tajam dan ekspresif serta komposisi naratif yang tersusun efektif kian memperkuat daya estetika dan retorika karya Djenar.

Dengan demikian, Payudara Nai-Nai tidak hanya memiliki nilai keindahan sastra, tetapi juga memuat kekuatan reflektif yang mampu menggugah kesadaran pembaca terhadap persoalan ketidakadilan gender dan stereotip terhadap perempuan.

Oleh karena itu, karya ini dapat dikatakan memenuhi kriteria keluhuran menurut teori Longinus. Ia mampu mengangkat emosi, pikiran, dan kesadaran pembaca melalui perpaduan gagasan, ekspresi, dan bentuk bahasa yang kuat.