Puisi Penyair Indonesia: ‘Aku Tulis Pamplet Ini’ dan ‘Guru Oemar Bakri’ Merayakan Hardiknas 2026

Penyair WS Rendra. Foto: Istimewa

Aku Tulis Pamplet Ini

 

Aku tulis pamplet ini

karena lembaga pendapat umum

ditutupi jaring labah-labah

Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk

dan ungkapan diri ditekan

menjadi peng-iya-an

 

Apa yang terpegang hari ini

bisa luput besok pagi

Ketidakpastian merajalela

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki

menjadi mara-bahaya

menjadi isi kebon binatang

 

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi

maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam

Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan

Tidak mengandung perdebatan

Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

 

Aku tulis pamplet ini

karena pamplet bukan tabu bagi penyair

Aku inginkan merpati pos

Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku

Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian

 

Aku tidak melihat alasan

Kenapa harus diam tertekan dan termangu

Aku ingin secara wajar bertukar kabar

Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju

 

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?

Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan

Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka

 

Matahari menyinari air mata yang berderai menjadi api

Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

Yang teronggok bagai sampah

Kegamangan. Kecurigaan

Ketakutan

Kelesuan

 

Aku tulis pamplet ini

Karena kawan dan lawan adalah saudara

Di dalam alam masih ada cahaya

Matahari tenggelam diganti rembulan

Lalu besok pagi pasti terbit kembali

Dan di dalam air lumpur kehidupan

aku melihat bagai terkaca:

Ternyata kita, toh, manusia!

 

Sajak Anak Muda

 

Kita adalah angkatan gagap

yang diperanakkan oleh pendidikan

tanpa watak

 

Kita adalah angkatan gagap

yang diperanakkan oleh pendidikan

yang tidak mengajarkan kejujuran

yang tidak mengajarkan keberanian

yang tidak mengajarkan kesetiaan

 

Ilmu sekolah tidak memberi kita

pegangan untuk hidup

 

Kita hanya diajari cara mencari makan

tanpa diajari bagaimana menjadi manusia

 

Sajak Seonggok Jagung

 

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

yang kurang sekolahan

 

Memandang jagung itu

sang pemuda melihat ladang

Ia melihat petani

Ia melihat panen

dan suatu hari subuh

para wanita dengan gendongan

pergi ke pasar…

 

Dan ia juga melihat

suatu pagi hari

di dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung

menjadi maisena

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala

Di dalam udara murni

tercium bau kue jagung

 

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

Ia siap menggarap jagung

 

Ia melihat kemungkinan

otak dan tangan

siap bekerja

 

Tetapi ini:

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tamat SLA

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya

 

Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik

etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor

 

Ia melihat nomor-nomor lotre

ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal

Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal

tidak akan menolongnya

 

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku

dan tidak dari kehidupan

Yang tidak terlatih dalam metode

dan hanya penuh hafalan kesimpulan

Yang hanya terlatih sebagai pemakai

tetapi kurang latihan bebas berkarnya

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan

 

Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi

asing di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran

atau apa saja

bila pada akhirnya

ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata

Di sini aku merasa asing dan sepiiiii!

Karya WS Rendra

Guru Oemar Bakri

 

Oemar Bakri, Oemar Bakri

Pegawai negeri

Oemar Bakri, Oemar Bakri

Empat puluh tahun mengabdi

 

Jadi guru jujur berbakti

Memang makan hati

Oemar Bakri, Oemar Bakri

Banyak ciptakan menteri

 

Oemar Bakri, Oemar Bakri

Profesimu sangat berarti

 

Kita Merindukan Anak-Anak Indonesia

 

Kita merindukan anak-anak Indonesia

Berwajah cerah gembira pergi ke sekolah

Kita merindukan berjuta anak Indonesia

Mendapat peluang serupa

Dididik membaca buku, menuliskan fikiran

Merenangi lautan ilmu, mencintai perpustakaan

Kreatif dan sensitif terhadap kehidupan

Mencintai Ayah dan Ibu

Hormat pada Guru penuang ilmu

Solider dan beramal bagi bangsa

Tak canggung dalam pergaulan dunia.

 

Kita merindukan anak-anak Indonesia

Diberi kesempatan mendaki seluruh jenjang pendidikan

Sehingga terpelajarlah wajah bangsa

Mendapat pencerahan pada rohaninya

Menjadi insan yang bekerja keras dalam ketawakkalan

Senantiasa hidup di bawah naungan kejujuran

Sungguh berat ini beban bersama

Ini kerja panjang dan berjangka lama

Karena itu kepada Tuhan kita mohonkan

Semoga kita dianugerahi-Nya kekuatan

Karya Taufiq Ismail