Esai: Keluhuran dalam Intimasi Tubuh Menyusu Ayah Djenar Melalui Perspektif Sublime Longinus

Denting, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Foto: Istimewa

Oleh Denting

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

CERITA pendek (Cerpen) Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu adalah karya sastra Indonesia kontemporer yang provokatif dan menantang pembaca melampaui batas-batas konvensional. Melalui perspektif sublime (keluhuran) Longinus, cerpen ini mengungkap dimensi estetika yang mendalam.

Sublime bukan sekadar keindahan formal, melainkan pengalaman emosional yang menggetarkan jiwa, menggabungkan ketakutan dan penghormatan dalam paradoks. Esai ini mengeksplorasi bagaimana Djenar menggunakan tubuh sebagai medium artistik untuk menciptakan keluhuran yang melampaui norma sosial.

Saat pertama kali membaca cerpen ini, terbesit sebuah rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang mengganggu, namun sekaligus menarik untuk terus diikuti.

Pengalaman membaca itu memunculkan sebuah tanya dalam benak; mengapa sebuah teks yang secara moral terasa “salah” justru mampu meninggalkan kesan begitu kuat? Kemudian disadari bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan saat membaca bukan sekadar reaksi moral, melainkan respons estetis terhadap sebuah karya yang berani melampaui batas.

Cerpen ini, menurut pemahaman penulis, bukan tentang pembenaran tindakan, melainkan tentang bagaimana seorang pengarang menggunakan bahasa dan narasi untuk menciptakan pengalaman yang melampaui keindahan biasa dan justru di situlah letak keluhurannya.

Longinus dalam Peri Hypsous mendefinisikan sublime sebagai kualitas ekspresi yang menghasilkan dampak emosional luar biasa pada jiwa pembaca. Bukan sekadar keindahan formal, sublime adalah pengalaman yang melampaui keindahan biasa. Longinus mengidentifikasi lima sumber keluhuran: grandeur of thought, strong emotion, effective use of figures, nobility of language, dan elevated word arrangement.

Sublime berbeda dari keindahan. Keindahan membujuk dengan lembut, sedangkan keluhuran mengguncang. Sublime menciptakan pengalaman yang melebihi rasionalitas dan memasuki wilayah emosional mendalam dengan mengombinasikan ketakutan dan penghormatan.

Cerpen ini menghadirkan narasi yang melampaui konvensi sosial dan moral. Dengan judul dan tindakan yang mengganggu pembaca, teks menciptakan “shock” estetika yang kuat.

Ketika membaca, pembaca dihadapkan pada pelanggaran sesuatu yang mengancam tatanan sosial mapan. Inilah manifestasi pertama keluhuran: kemampuan untuk menggetarkan fondasi kepastian pembaca.

Perasaan tidak nyaman dan penolakan adalah bukti bahwa teks telah mencapai sesuatu yang melampaui keindahan sederhana menuju pengalaman kompleks. Djenar mendemonstrasikan pemikiran berani dengan menggunakan tubuh sebagai medium artistik.

Dengan memilih motif menyusu tindakan yang primordial dan intimate, Djenar menciptakan kompleksitas intelektual dengan menggabungkan dimensi maternal, paternal, dan erotis dalam satu narasi. Ia melanggar batasan budaya untuk memikirkan ulang makna intimasi dan hubungan keluarga melalui lensa baru.

Hal ini sesuai dengan teori Longinus bahwa keluhuran muncul dari kemampuan mengekspresikan pemikiran tak terikat konvensi. Djenar tidak menerima definisi yang ada; ia menciptakan ulang makna melalui penyimpangan yang disengaja.

Cerpen ini membangkitkan spektrum emosi luas dalam pembaca: ketidaknyamanan, intrik, keterkejutan, dan refleksi mendalam tentang makna ikatan keluarga. Emosi-emosi ini tidak harmonis; mereka saling bertentangan, menciptakan turbulensi dalam kesadaran pembaca.

Pembaca sekaligus tertarik dan menolak, ingin memahami namun ingin mengabaikan. Tidak ada resolusi emosional yang nyaman; pembaca tersisa dalam ketegangan yang tidak terselesaikan. Inilah bukti kekuatan menghadirkan perturbasi mendalam, bukan kepuasan estetika yang mudah.

Emosi yang dibangkitkan juga terkait dengan vulnerabilitas manusia. Tubuh dalam cerpen dipresentasikan dalam keadaan terbuka untuk kontak intim dan saling bergantung. Ini membangkitkan emosi primal tentang ketergantungan, yang kemudian diperumit oleh konteks sosial dan moral yang melarangnya.

Longinus menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang mulia dalam menciptakan keluhuran. Djenar menggunakan bahasa yang secara bersamaan jelas dan ambigus. Frasa “menyusu ayah” adalah metafora kaya yang terbuka untuk interpretasi merujuk pada tindakan literal atau upaya menemukan sustenance emosional dari figur ayah.

Ketepatan bahasa berpadu dengan kekaburan makna menciptakan elevasi dalam penggunaan bahasa. Pembaca melakukan pekerjaan intelektual dan emosional untuk menginterpretasikan teks, dan upaya ini sendiri menjadi bagian dari pengalaman sublime.

Sublime Longinus fundamentally terkait dengan paradoks ketakutan dan penghormatan. Sesuatu yang sublime menciptakan sense of vastness yang melampaui kontrol seperti menghadapi gunung tinggi atau laut tak terbatas.

Cerpen ini menciptakan vastness dalam dimensi moral dan sosial. Dengan melanggar tabu fundamental dalam budaya Indonesia tentang keluarga sebagai unit yang “bersih,” cerpen menciptakan perasaan being overwhelmed yang mirip dengan sublime natural.

Pembaca menghadapi ketidakpastian moral yang sangat besar, sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dikategorikan. Inilah yang menciptakan ekstase sublime: kehadiran sesuatu yang terlalu besar, terlalu kompleks untuk comprehension penuh.

Pelanggaran tabu ini juga menciptakan penghormatan bukan pada tindakan naratif itu sendiri, melainkan pada keberanian artistik Djenar untuk mengeksplorasi wilayah yang tabu.

Inovasi Djenar adalah merelokasikan keluhuran ke dalam ruang pribadi dan intim. Sublime tradisional sering dikaitkan dengan skala besar, namun Djenar menunjukkan bahwa keluhuran juga dapat ditemukan dalam intimasi skala kecil antara dua individu.

Tubuh menjadi landscape tempat keluhuran terjadi. Kontak fisik menciptakan region of profound significance. Cerpen berbicara tentang vastness dari human intimacy betapa dalam dan melampaui jangkauan wilayah koneksi manusia yang paling mendasar.

Cerpen Menyusu Ayah Djenar mendemonstrasikan bahwa keluhuran tidak harus terkait dengan keindahan formal atau harmoni estetika. Sebaliknya, keluhuran dapat muncul dari perturbasi, pelanggaran norma, dan penghadiran kompleksitas yang tidak dapat dengan mudah direspon.

Djenar menciptakan sublime melalui grandeur of thought yang mengeksplorasi makna intimasi keluarga dengan cara baru, strong emotion yang membangkitkan turbulensi mendalam, dan noble language yang mengundang kontemplasi.

Melalui pelanggaran tabu, ia menciptakan pengalaman being overwhelmed yang mendefinisikan sublime. Cerpen ini bukan sekadar provokasi, melainkan karya yang memperluas boundaries dari apa yang bisa dieksplorasi sastra dan mencapai pengalaman estetika yang truly sublime menggetarkan, mengancam, dan transformatif.