Cerpen: Eli, Eli, Lama Sabakhtani Karya Yoseph Yapi Taum

Foto ilustrasi: Yoseph Yapi Taum

MINGGU Palma selalu ditandai dengan daun-daun palma yang melambai, seolah mengingatkan manusia akan dua wajah iman: sorak-sorai dan penderitaan. Pagi itu, 29 Maret 2026, langit di Yogyakarta masih menyimpan sisa embun ketika saya menggenggam tangan kecil Della, putri bungsu saya, menuju halaman Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Mlati.

Umat telah berkerumun di tempat parkir, titik awal perarakan. Daun palma diberkati dan diangkat tinggi-tinggi, seperti sebuah kenangan yang ingin dirawat: suasana ketika Yesus disambut di gerbang Yerusalem. Perarakan agung dimulai perlahan—langkah demi langkah, diiringi lagu-lagu bernada gembira—menuju gerbang gereja. Saya merasakan sesuatu yang berbeda pagi itu, meski tak tahu apa.

Misa berlangsung khidmat. Bacaan Injil tentang Kisah Sengsara menurut Injil Mateus didaraskan bergantian oleh tiga lektor. Mereka membacakannya dengan baik, penuh penghayatan dan ekspresif. Suara mereka saling berbalas, bagaikan gelombang yang mengantarkan kami ke Yerusalem yang jauh—ke halaman pengadilan, ke jalan salib, ke bukit Golgota.

Lalu tibalah bacaan injil itu pada satu kalimat, “Eli, Eli, lama sabakhthani?”

“Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Suara itu seperti menggantung di udara. Dan di saat yang sama, saya mendengar isak kecil di samping saya.

Della.

Saya menoleh melihatnya. Matanya basah, bibirnya bergetar. Ia tidak sekadar mendengarkan  kisah itu—ia mengalaminya.

“Ibuku… ya Ibuku… mengapa engkau meninggalkan aku…”

Kalimat itu tidak terucap, tetapi saya tahu, ia ada di sana, di relung hatinya, di dasar jiwanya.

Saya tercekat.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak ibunya pergi—lima tahun, tepatnya. Waktu yang bagi orang dewasa terasa cukup panjang untuk belajar menerima, tetapi bagi seorang anak, kehilangan selalu punya cara untuk kembali, diam-diam, pada saat yang paling tak terduga.

Saya menggenggam tangannya lebih erat. Tidak ada kata yang keluar. Tidak ada cara yang cukup mujarab untuk menambal luka yang diam-diam masih terbuka.

Homili dimulai. Romo Marcellinus Roselawanto, Pr berdiri di depan altar, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan yang takut melukai kesunyian. Ia bercerita tentang peristiwa penyiksaan yang dialami Yesus. Tentang cambuk yang berujung pecahan kaca, tentang setiap lecutan yang dapat merobek tubuh. Tentang mahkota duri yang tidak hanya menusuk kulit, tetapi menekan hingga ke tulang kepala.

Kata-kata itu tidak sekadar terdengar—mereka menghantam nurani.

Romo berhenti sejenak.

Sekali.

Dua kali.

Bahkan lebih.

Seolah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya harus melewati genangan air mata terlebih dahulu.

“Mengapa Allah Bapa tidak meringankan sedikit saja penderitaan itu?” tanyanya, suaranya luluh.

Ia terdiam lama.

Pertanyaan itu menggantung, seperti salib yang tak sempat diturunkan.

Ia mencoba melanjutkan, tetapi kembali terhenti. Sampai tiga kali.

Gereja menjadi sunyi. Bukan sunyi yang kosong, melainkan penuh—oleh luka, oleh cinta, oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Akhirnya, dengan suara yang hampir menyerah, ia berkata, “Inilah rahasia cinta Tuhan.”

Saya merasakan sesuatu runtuh di dalam diri saya.

Bukan hanya karena kisah sengsara itu. Bukan hanya karena air mata seorang imam. Atau sedu seorang gadis. Tetapi karena saya tiba-tiba mengerti —atau setidaknya mulai mengerti— bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan.

Kadang ia hadir sebagai sebuah kehilangan.

Kadang sebagai luka yang tidak sembuh-sembuh.

Kadang sebagai pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab.

Misa berakhir. Umat perlahan meninggalkan gereja. Daun-daun palma masih di tangan, tetapi wajah-wajah tampak lebih hening daripada saat mereka datang.

Saya berjalan keluar bersama Della.

Ia sudah tidak menangis, tetapi matanya masih menyimpan sisa hujan.

“Papa…” katanya pelan.

Saya menoleh.

“Kalau Yesus saja merasa ditinggalkan… apakah kita juga boleh merasa kehilangan?”

Saya tidak langsung menjawab. Saya menarik nafas panjang.

Kami berjalan perlahan, melewati halaman gereja yang kini mulai sepi, menuju tempat parkir.

“Boleh,” kata saya akhirnya. “Tapi jangan berhenti di situ.”

Ia menatap saya.

“Karena Yesus tidak benar-benar ditinggalkan. Dan kita juga tidak.”

Della terdiam. Lalu perlahan, ia menggenggam tangan saya lebih erat.

Di atas kami, langit mulai terang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, saya merasa bahwa luka —betapapun dalamnya— bisa menjadi jalan bagi iman. Bukan untuk melupakan, tetapi untuk memahami. Bahwa di balik setiap tanya, “mengapa Engkau meninggalkan aku,” selalu ada jawaban yang tidak terdengar, tetapi nyata: “Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu!”

Yogyakarta, 29 Maret 2026