Ratapan di Batas Kota
Ia datang membawa kabar gembira
Kabar suka cita bagi kaum tertindas dan tersingkir
Kabar keselamatan bagi para pelacur dan pendosa
Damai sejahtera bagi seluruh bangsa yang jauh
Seruan tiga tahun mengharumkan namanya:
“Kita perlu membangun sebuah kerajaan baru
Di mana tidak ada lagi tangisan dan air mata
Kerajaan damai tempat orang saling mengasihi!”
Penguasa kerajaan dan raja-raja panik
Pemimpin agama dan imam-imam kecut
“Orang ini melawan kaisar dan imam agung!
Dia harus dibunuh, disiksa, disingkirkan!”
Ancaman tak membuatnya surut
Didatanginya markas musuh menunggang keledai
Rakyat memujanya sebagai raja baru
“Hosana Putera Daud, terpujilah nama-Nya!”
Daun-daun zaitun merunduk ke bumi
Bukit-bukit bermadah memuji keagungannya
Seluruh kota gegap gempita dan bersuka cita
Pawai berarak perlahan memasuki gerbang
Dengan iringan seratus pasukan berkuda
para serdadu mengintai penyebar kabar gembira itu
Mata-mata di luar kota mengabarkan:
“Dia melakukan sebuah ritual yang mencurigakan!”
Di batas kota, ia turun dari keledai betinanya
lalu rebah dan tersungkur menciumi bumi
Air matanya meleleh, bumi bergetar
“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi
dan melempari orang-orang yang diutus kepadamu!
Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu
Bagai induk ayam mengumpulkan anak-anaknya
di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau!”⁴
Perayaan cinta ditorehkan-Nya di hari putih itu.
Cinta tak boleh hanya diserukan tapi harus dilakukan:
Dibasuhnya kaki semua pengikutnya,
Satu per satu kaki-kaki penat itu diciumnya,
termasuk kaki Yudas yang bakal menjualnya.
Seusai perayaan cinta itu adalah sebuah malam:
malam terpanjang dalam hidupnya di bumi ini.
Ia menyepi ke kebun zaitun untuk berdoa.
Penderitaan, sengsara, air mata, dan darah
bakal terjadi dan semua terlihat begitu ngeri.
Air matanya meleleh, air mata darah.
Keringatnya mengucur, keringat berdarah.
“Ya, Bapa, jika boleh, biarlah piala ini berlalu dariku,
Tetapi bukan kehendakku,
melainkan kehendak-Mulah yang terjadi!”⁵
Air mata-Nya meleleh, air mata darah
Keringat-Nya mengucur, keringat berdarah
Ia yang datang membawa kabar gembira
membayarnya tunai dengan peluh dan darah-Nya
Air mata-Nya meleleh, air mata darah
Keringatnya mengucur, keringat berdarah
“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi
dan melempari orang-orang yang diutus kepadamu!”
Bumi jalang yang menanti penghakiman
ditebus-Nya tunai dengan peluh dan darah-Nya
Yogyakarta, 13 April 2014
Hari Minggu Palma
⁴ Lukas 13:34
⁵ Lukas 22:42
Perjamuan Darah
Ia berlutut dengan rosario di tangan
Dari katub tangannya menitik
tetes demi tetes batu hitam jiwanya
Sesekali matanya yang sembab menatap palang tiang
Dengan sisa-sisa daya, diraihnya tiang itu
ditegakkan, dan ditajamkan ujungnya menjadi tombak
“Akan kutikam jantungku
dan kulebur dalam tuwung kencana!”
Darahnya pun menyatu dalam tuwung kencana
dengan darah-darah martir, malaikat, dan orang kudus
Sebuah perjamuan darah dimulai:
darah-darah yang marah
darah-darah yang menangis
darah-darah yang kecewa
darah-darah yang tersingkir
darah-darah yang resah
darah-darah yang suci
di atas darah paling darah
Ia berlutut dengan rosario
di tangan dalam lautan darah
Dari katub tangannya
digenggamnya tuwung kencana darah
“Karena aku percaya darah paling darah
memutihkan aku, maka jadilah!”
Darah-Nya pun menetes ke bumi yang merah
Mengalir menjadi sumber mata air paling bening
Di kejauhan, terdengar senandung lirih
dari dua tangan terkatub:
“Sayang, sungguh ajaib darah-Mu!”
Kledung, 29 Maret 2014
Dismas di Puncak Kalvari
Pesona bumi memudar seketika
Keangkuhan luruh, kepongahan runtuh
Keagungan di Puncak Kalvari adalah cahaya
Yang menghapus segala nista dan hasrat
Apalah aku yang berjejer di kayu salib
bersama musafir Galilea yang teduh
bunda-Nya yang termangu
dan pengikut-Nya yang terdiam?
Oh, ular, dosa, dan nista yang mempesona
Betapa agungnya bujukan ular
Betapa indahnya dosa yang kubuat
Betapa terpujilah nista yang kuikat
Karena mereka mendatangkan pesona
yang membukakan pintu langit bagiku
Ketika tirai Kenisah dirobek
Dismas di Puncak Kalvari menoleh ke kanan
dua butir air mata jatuh di pipinya
waktu mata mereka bertemu
Musafir Galilea itu menatap langit
Dilihatnya Dismas di sana
Bersimpuh di bawah kaki ayah-Nya
Dadanya masih berbuih racun ular
Di Puncak Kalvari
tongkat awan membimbing Dismas
“Saat ini juga, Dismas
engkau akan bersamaku di Firdaus!”
Pesona bumi memudar seketika
Keangkuhan luruh, kepongahan runtuh
Keagungan di Puncak Kalvari adalah cahaya
yang menghapus segala nista dan hasrat
Yogyakarta, 1 April 2013
Malam Pantai Karang
Bibir-bibir Pantai Karang alangkah legam
Laut gelisah saja, melirik, naik dan turun lagi
Beberapa kali kita ke sana kala purnama memucat
Menyatu dengan lenguh ombak yang congkak
Tuhan pun sering menangis di sana: penat dan renta
Beberapa kali Tuhan mendengar cerita kita
Ia hanya mengangguk sambil menelan ludah-Nya
yang sering tersedak di tenggorokan-Nya
Di kegelapan malam di Pantai Karang ini
tidak seperti biasanya
Ia tiba-tiba teringat Sodom dan Gomorah
dan tangis-Nya membayang kehancuran Yerusalem
: malam Pantai Karang menyisakan ciuman terakhir
sebelum gelap menelan bumi ini.
Yogyakarta, 11 Oktober 2012
Perjalanan 3
Apa arti tubuh bagi luka yang berdarah
Di kaki langit Yerusalem, terik itu menyengat
Bunda yang berduka terisak dari kejauhan
Setiap tetes darah membasuh luka demi luka
Tak ada luka yang terlalu berat untuk disembuhkan
Apa arti dosa bagi cinta yang membakar
Betlehem penuh bintang di masa Ponsius Pilatus
Kini punya tanda:
orang Galilea itu menuju Golgota
dan matahari pukul tiga siang seperti kerbau yang rikuh
yang tak tahu jalan pulang ke kandangnya
Apa arti irama bagi ratapan yang paling merdu
Yoseph dari Arimatea mendapatkan yang paling bernilai
Di luar, duka nestapa merapat ke tembok ratapan
Memalingkan muka, berpaling dan memanggul salib
melewati remang-remang taman kota
Apa arti tubuh bagi luka yang berdarah
Di Taman Zaitun, ketakutanku berubah menjadi darah
Bunda yang berduka terisak dari kejauhan
Yogyakarta, 13 Januari 2014
Prof Dr Yoseph Yapi Taum, M.Hum lahir di Ataili, Pulau Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Telah menerbitkan tiga antologi puisi tunggal, yakni (1) Ballada Arakian: Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Penerbit Lamalera (2015); (2) Ballada Orang-Orang Arfak, Antologi Puisi, Yogyakarta: Sanata Dharma University Press (2019); dan (3) Kabar dari Kampung: Sebuah Antologi Puisi (2023), Yogyakarta: Sanata Dharma University Press










