DAERAH  

Pemkab Ende Apresiasi Pemprov Papua Barat Daya, Jenazah Edwin Dimakamkan Siang Ini di Kampungnya

Bupati Kabupaten Ende Yosef Badeoda, SH, MH (kiri) dan Wakil Bupati Dr drg Dominggus Mere, M.Kes (kanan). Foto: Istimewa

NDUARIA, ODIYAIWUU.com — Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende, Jumat (20/3) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tambrauw beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat yang sudah berusaha maksimal sehingga jenazah Edwin (24) tiba di tengah keluarga besar di Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pemkab Ende juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak di Papua Barat Daya maupun Tambrauw yang dengan caranya masing-masing ambil bagian dalam proses pemulangan jenazah Edwin, tenaga kesehatan asal Ende dari Tambrawu hingga tiba di tengah keluarga besar di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu.

“Bapak Bupati dan Wakil Bupati atas nama pemerintah dan masyarakat Ende serta keluarga Almarhum menyampaikan apresiasi kepada Bapak Gubernur Papua Barat Daya dan Bapak Bupati serta Wakil Bupati Tambrauw beserta jajarannya dan Forkopimda yang sudah memfasilitasi pemulangan jenazah anak Edwin dari Sorong ke Ende,” ujar Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Ende Gabriel Dala di Nduaria, Ende, Flores, NTT, Jumat (20/3).

Gabriel juga menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan dan masyarakat serta pihak-pihak terkait di Tambrauw yang sudah bahu-membahu membantu mengevakuasi jenazah Edwin dari Lokasi kejadian hingga Sorong kemudian diatur proses pemulangan ke Ende. Meski Edwin kembali ke tanah kelahirannya di Nduaria tanpa nyawa namun memberi penghiburan dan kekuatan bagi keluarga besar.

“Jumat (20/3) suang ini jenazah anak kami akan dimakamkan di tanah kelahirannya, Nduaria. Misa pelepasan menurut rencana akan dipimpin seorang imam. Keluarga juga sangat berterima kasih kepada Pemprov Papua Barat dan Pemkab Tambrauw serta semua pihak yang sudah berusaha maksimal segingga jenazah Edwin kembali ke kampung halamannya untuk dimakamkan. Kami semua mendoakan semoga Tuhan membalas kebaikan itu dengan kasih yang berlimpah,” kata Gabriel.

Media ini sebelumnya memberitakan, suasana duka, (19/3) siang sangat terasa saat jenazah Yohanes Edwintus Bido (YEB) alias Edwin (24) tiba dan disambut tangis haru keluarga di Bandara H. Hasan Aroeboesman, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Edwin adalah tenaga kesehatan (nakes) korban penyerangan orang tak dikenal (OTK) di Tambrauw, Papua Barat Daya. Korban merupakan warga Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Ende, Flores

Jenazah Edwin diterbangkan dari Bandara El Tari Kupang, Pulau Timor menggunakan pesawat Wings Air dan tiba siang hari di Bandara Hasan Aroeboesman. Sejak pagi, keluarga, kerabat serta masyarakat telah memadati area bandara untuk menunggu kedatangan jenazah.

Suasana haru juga dialami kerabat saat prosesi penjemputan nakes asal Pulau Bunga (Flores) dihadiri pula Wakil Bupati Ende Dr drg Dominikus Minggu Mere, Kepala Kepolisian Resor Ende AKBP Yudhi Franata serta Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Ende Gabriel Dala.

Saat peti jenazah diturunkan dari pesawat, suasana haru tak terbendung. Tangis keluarga pecah, menggambarkan duka mendalam atas kepergian korban. Prosesi dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang biarawati Katolik.

Setelah itu, jenazah dibawa ke RSUD Ende untuk dilakukan pergantian peti jenazah. Usai proses tersebut, jenazah kemudian diberangkatkan menuju rumah duka di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu. Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat mengantar perjalanan terakhir korban menuju kampung halaman.

Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat Daya, Kamis (19/3) mengamankan dua belas saksi terkait penyerangan terhadap empat tenaga kesehatan (nakes) yang berujung dua korban di antaranya meregang nyawa di Tambrauw.

Polisi juga menyita tujuh senapan angin hingga tombak dan anak panah. Selain itu, turut diamankan beberapa orang saksi atas dugaan keterlibatan dalam kasus pengadangan, pengeroyokan atau pembunuhan.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare mengatakan, 12 saksi tersebut diamankan pada Rabu (18/3) sekitar pukul 03.00 WIT.

“Mereka diamankan tim gabungan TNI dan Polri berdasarkan hasil penyisiran di sejumlah lokasi. Saat penyisiran menemukan serta mengamankan orang-orang yang diduga sebagai saksi,” ujar Jenny Hengkelare di Sorong, kota Provinsi Papua Barat Daya, Kamis (19/3).

Menurut Jenny Hengkelare, para saksi yang diamankan antara lain berinisial TY (28), LY (57), SY (19), AY (44), MY (29), BY, AY, TY, WY (49), dan PY (49), YJ. Dua di antaranya merupakan kepala kampung yakni AY selaku Kepala Kampung atau Kepala Desa Banfoot dan MY Kepala Kampung Bamusbama.

Polisi juga menyita barang bukti berupa 7 senapa angin, 7 parang, 4 noken, 3 tombak, 1 tikar, 11 anak panah, 1 kembang api, 1 senter, dua benda diduga jimat, 1 gembok kecil, 9 bungkus anggur kupu, 1 topi warna hijau.

Selain itu ada sebuah tas warna hitam, 5 handphone, sepasang sepatu, sebuah panah, dua sisir kayu, tiga cas HP, satu pak peluru senjata angin. Selanjutnya ada 3 buah korek api, 1 kalung berwarna emas, 4 kunci rumah dan satu ruas bambu.

“Motif dan peran masih dalam pendalaman dan penyelidikan lebih lanjut pihak kepolisian,” ujar Jenny Hengkelare lebih lanjut.

Sebelumnya, diberitakan, empat orang nakes diserang orang tidak dikenal (OTK) di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Tambrauw, Senin (16/3) sekitar pukul 11.37 WIT. Keempat korban yang mengendarai motor dan saling berboncengan tiba-tiba diadang oleh para pelaku.

“Telah terjadi penghadangan atau dugaan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap empat orang pengendara sepeda motor oleh beberapa OTK,” kata Jenny Hengkelare di Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (17/3).

Penyerangan itu mengakibatkan dua korban tewas berinisial YL dan YEB. Aparat gabungan TNI-Polri telah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi kedua korban tewas.

“Itu mengakibatkan dua korban (tewas) di antara empat orang tersebut, korban yang dua orang sempat melarikan diri untuk mencari perlindungan atau pertolongan atau bantuan, yaitu ke pos satgas TNI,” kata Jenny Hengkelare.

Jenny mengatakan aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut. Dia pun enggan menyebut pelaku penyerangan adalah anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB).

“Jadi saat ini masih dilakukan pendalaman-pendalaman terkait dengan kasus tersebut. Bahwa kita tidak bisa langsung men-judge bahwa itu adalah KKB,” katanya. (*)