Oleh Prof Robert A Simanjuntak, Ph.D
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
MENJELANG dan saat berlangsungnya Piala Dunia sepakbola 2026 ini, pembicaraan publik hampir selalu berputar pada pertanyaan yang sama: siapa yang akan menjadi juara? Ada yang menjagokan Argentina karena pengalaman dan mental juaranya.
Ada yang memilih Prancis karena kedalaman skuad. Brasil selalu diperhitungkan karena sejarah besarnya. Inggris dianggap memiliki generasi pemain yang sangat berbakat. Sementara itu, Spanyol disebut sebagai salah satu tim paling lengkap dan konsisten.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa negara yang dijagokan karena punya peluang juara terbesar acap kali justru tidak keluar sebagai juara. Belanda di tahun 1974 dan Brasil pada tahun 1982, contohnya.
Sejumlah model matematika dan simulasi menempatkan Spanyol sebagai kandidat terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2026. Dari berbagai model yang digunakan, peluang kemenangan Spanyol diperkirakan sekitar 20 persen.
Di bawahnya terdapat Prancis dan Argentina, masing-masing dengan peluang sekitar 14 persen. Belanda berada di kisaran 10 persen, Inggris 9 persen, Brasil 7 persen, sedangkan Portugal dan Jerman sekitar 5 persen.
Angka 20 persen memang paling tinggi dibandingkan peluang negara lain. Akan tetapi, angka tersebut juga berarti bahwa ada kemungkinan sekitar 80 persen Spanyol tidak menjadi juara.
Dengan kata lain, apabila seseorang harus memilih satu negara, Spanyol mungkin merupakan pilihan paling masuk akal. Namun, apabila pertanyaannya adalah apakah Spanyol akan menjadi juara atau tidak, jawaban yang lebih masuk akal justru: kemungkinan besar tidak.
Probabilitas Sering Disalahpahami
Di sinilah probabilitas sering disalahpahami. Kita terbiasa menganggap tim dengan peluang tertinggi sebagai tim yang “diramalkan akan menang”. Padahal sebuah model tidak selalu berkata demikian.
Model hanya mengatakan bahwa dibandingkan setiap tim lain secara terpisah, Spanyol memiliki peluang paling besar. Gabungan peluang seluruh negara selain Spanyol tetap jauh lebih besar. Untuk mendapatkan perkiraan tersebut, turnamen dapat disimulasikan ratusan ribu, bahkan hingga satu juta kali.
Dalam setiap simulasi, hasil pertandingan ditentukan berdasarkan kekuatan tim, performa terbaru, jumlah gol yang mungkin tercipta, kualitas pemain, dan berbagai faktor lain. Setelah seluruh simulasi selesai, dapat dihitung berapa kali setiap negara keluar sebagai juara.
Misalnya, apabila Spanyol menjadi juara dalam 200.000 dari satu juta simulasi, peluangnya diperkirakan sebesar 20 persen. Argentina dan Prancis dalam simulasi tersebut mungkin menjadi juara sekitar 140.000 kali, sementara Inggris sekitar 90.000 kali.
Simulasi semacam ini tidak dimaksudkan untuk melihat masa depan secara pasti. Tujuannya adalah menggambarkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sepak bola terlalu rumit untuk dipadatkan menjadi satu ramalan mutlak.
Bahkan para peneliti dapat menggunakan model yang berbeda dan menghasilkan jawaban yang berbeda pula. Ada model yang lebih menekankan performa dalam setahun terakhir.
Ada yang mengukur jumlah dan kualitas peluang. Ada yang mencoba memperkirakan selisih gol. Model lainnya memasukkan ranking internasional, pengalaman turnamen, usia pemain, atau kekuatan kompetisi liga tempat mereka bermain.
Masing-masing model memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Model yang terlalu mengandalkan hasil terbaru dapat memberikan penilaian berlebihan kepada tim yang sedang berada dalam performa bagus. Sebaliknya, model yang terlalu bergantung pada sejarah dapat terlambat menyadari bahwa kekuatan sebuah tim telah berubah.
Karena itu, menggunakan beberapa model sekaligus sering kali lebih masuk akal daripada mempercayai satu model saja. Bukan karena gabungan tersebut akan selalu benar, melainkan karena kesalahan dari satu model dapat dikurangi oleh sudut pandang model lainnya.
Pembuktian Kualitas
Masalahnya, Piala Dunia bukan kompetisi liga yang berlangsung sepanjang musim. Dalam sebuah liga, tim yang paling kuat biasanya memiliki cukup banyak pertandingan untuk membuktikan kualitasnya. Satu kekalahan masih dapat dievaluasi dan diperbaiki pada pekan berikutnya.
Piala Dunia berbeda. Di fase gugur, satu pertandingan buruk dapat langsung mengakhiri perjalanan sebuah tim. Sebuah kartu merah, cedera pemain penting, keputusan wasit, tendangan penalti, atau bola yang membentur tiang dapat menentukan nasib di seluruh turnamen.
Tim yang secara keseluruhan lebih baik belum tentu menang dalam satu pertandingan. Mereka mungkin akan menang enam kali jika pertandingan yang sama dimainkan sepuluh kali. Namun, Piala Dunia hanya memberikan satu kesempatan bermain melawan satu tim.
Contoh ekstremnya terlihat ketika Jerman mengalahkan Brasil 7–1 pada semifinal Piala Dunia 2014. Hasil tersebut tidak berarti bahwa Jerman tujuh kali lebih kuat daripada Brasil. Skor itu muncul dari rangkaian kejadian yang saling memperbesar dampaknya.
Setelah kebobolan, Brasil kehilangan organisasi permainan. Ketika gol kedua masuk, tekanan psikologis meningkat. Para pemain mulai membuat keputusan dengan terburu-buru. Jerman memanfaatkan ruang yang semakin terbuka, kemudian mencetak gol lagi. Setiap gol mengubah keadaan mental dan taktis pertandingan, sehingga gol berikutnya menjadi lebih mudah terjadi.
Sebelum pertandingan dimulai, skor 7–1 mungkin memiliki kemungkinan yang sangat kecil. Akan tetapi, kemungkinan kecil bukan berarti mustahil. Ketika turnamen melibatkan banyak pertandingan, peluang terjadinya satu hasil mengejutkan menjadi semakin besar.
Hal serupa berlaku pada calon juara. Sebuah tim mungkin mempunyai peluang 80 persen untuk memenangkan setiap pertandingan terhadap lawannya. Angka itu terdengar sangat meyakinkan. Namun, untuk menjadi juara, tim tersebut harus memenangi beberapa pertandingan berturut-turut.
Peluang Kemenangan
Jika harus memenangi empat pertandingan fase gugur dan peluang menangnya selalu 80 persen, peluang untuk memenangi semuanya hanya sekitar 41 persen. Jika peluang per pertandingannya 70 persen, kemungkinan memenangkan empat laga beruntun turun menjadi sekitar 24 persen.
Artinya, bahkan tim yang selalu lebih unggul dalam setiap pertandingan masih memiliki kemungkinan besar untuk tersingkir sebelum menjadi juara. Selain kekuatan tim, jalur pertandingan juga sangat menentukan.
Negara kuat bisa saja harus menghadapi beberapa favorit secara berurutan. Negara lain mungkin memperoleh jalur yang lebih ringan karena hasil undian atau karena tim unggulan yang ada di jalurnya tersingkir lebih dahulu.
Kemudian ada faktor yang sulit diterjemahkan secara sempurna ke dalam angka-angka: kondisi fisik pemain, perubahan taktik, tekanan publik, cuaca, perjalanan antarkota, kekompakan di ruang ganti, hingga keberanian seorang pemain mengambil keputusan pada detik yang menentukan.
Karena itu, prediksi Piala Dunia sebaiknya tidak dibaca sebagai ramalan pasti. Ketika sebuah model menempatkan Spanyol di posisi pertama, maknanya bukan bahwa Spanyol pasti menjadi juara. Maknanya hanya bahwa dari seluruh kandidat yang ada, Spanyol paling sering muncul sebagai pemenang dalam berbagai skenario perkiraan.
Juara sesungguhnya tetap bisa berasal dari negara yang peluang awalnya hanya 10, 7, atau bahkan 5 persen. Jika tim tersebut mampu bertahan dari momen-momen sulit, memperoleh jalur yang menguntungkan, dan tampil baik pada pertandingan yang tepat dan di saat yang krusial, peluang kecil itu dapat berubah menjadi kenyataan.
Pada akhirnya, daya tarik Piala Dunia memang terletak pada ketidakpastian tersebut. Jika tim terkuat selalu menang, kita tidak membutuhkan pertandingan. Cukup di atas kertas kita hitung kualitas pemain, nilai skuad, dan ranking dunia, lalu serahkan pialanya.
Namun sepak bola tidak bekerja seperti itu. Statistik dapat membantu kita memahami kemungkinan, tetapi tidak dapat menghapus kejutan. Tim yang di atas kertas paling mungkin menjadi juara tetap sangat mungkin untuk gagal.
Dan negara yang akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia 2026 bisa saja bukan negara yang paling kita kira. Karenanya, mari kita nikmati saja final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina tanggal 20 Juli 2026 mendatang.










