Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi: Papua Bukan Halaman Belakang Namun Wajah Indonesia dari Timur

Anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng (paling kanan) usai tampil sebagai narasumber pada acara talkshow dialog kebangsaan di World Harvest Center Dome Karawaci, Jalan Gunung Rinjani, Taman Himalaya, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (29/8). Foto: Istimewa

KARAWACI, ODIYAIWUU.com — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng, Sabtu (29/8) tampil sebagai narasumber pada acara talkshow dialog kebangsaan di World Harvest Center Dome Karawaci, Jalan Gunung Rinjani, Taman Himalaya, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Dalam talkshow dialog kebangsaan bertajuk Indonesia yang Kita Yakini: Suara Indonesia dari Timur dalam rangkaian Nation Building Conference 2026, Johni Numberi, Guru Besar Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, menegaskan posisi Papua sangat penting dan strategis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, Papua bukan halaman belakang namun Papua adalah wajah Indonesia dari timur. Papua memiliki peran strategis dalam masa depan energi nasional. Potensi energi baru terbarukan (EBT) Papua 382 gigawatt (GW) harus jadi fondasi kesejahteraan, pendidikan, dan perdamaian.

“Papua memiliki peran strategis dalam masa depan energi nasional. Tuhan telah memberikan Papua kekayaan alam yang luar biasa,” ujar Prof Johni Jonatan Numberi di hadapan peserta talkshow dialog kebangsaan dari berbagai kalangan.

Johni menjelaskan, berdasarkan data, potensi energi baru terbarukan Papua dan Papua Barat mencapai sekitar 382 GW dengan potensi surya sekitar 318 GW dan tenaga air sekitar 35,9 GW. Kemudian, ditambah cadangan minyak 109 juta barel dan gas 10.258 billion standard cubic feet (BSCF).

Namun, lanjut Johni, pertanyaan hari ini bukan lagi apa yang Papua miliki tetapi bagaimana kekayaan itu diubah menjadi energi, industri, lapangan kerja, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat.

“Energi adalah fondasi pembangunan. Tidak ada pendidikan modern tanpa listrik. Tidak ada rumah sakit yang kuat tanpa energi. Tidak ada industri tanpa energi dan tidak ada transformasi ekonomi tanpa energi yang cukup dan terjangkau,” kata Johni, tokoh muda Indonesia Timur dan doktor jebolan Universitas Indonesia.

Johni juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, stakeholder. Pembangunan Papua diakuinya harus dilakukan bersama melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, PLN, Pertamina, perguruan tinggi, masyarakat adat, gereja, pemuda, dan seluruh masyarakat.

“Kita juga harus menekankan teknologi bersih, penelitian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, SDM. Saya percaya, Papua mempunyai hari depan. Karena itu, kemiskinan dan konflik tidak boleh menjadi warisan bagi generasi Papua. Kita harus mewariskan pendidikan, keterampilan, pekerjaan, perdamaian, dan harapan,” katanya.

Johni juga menambahkan, dalam suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ia mengajak semua pihak mewujudkan kemerdekaan yang benar-benar dirasakan rakyat Papua. Tanah Papua harus merdeka dari kemiskinan, merdeka dari keterbelakangan, merdeka dari ketakutan, dan merdeka untuk membangun masa depan.

“Mari kita jadikan energi sebagai jalan menuju kesejahteraan, pendidikan sebagai jalan menuju kemandirian, industri sebagai jalan menuju pekerjaan, dan perdamaian sebagai jalan menuju masa depan,” ujar Johni.

Johni juga mengakhiri pemaparan dengan pantun. Dari Sabang menuju Merauke, Merah Putih berkibar sepanjang masa. 81 tahun Indonesia merdeka, Papua bangkit, Indonesia jaya! Papua Terang! Papua Damai! Papua Sejahtera! Indonesia Jaya! (*)