Prosa Lirik: Panggilan di Balik Kabut dan Gumpalan Asap Fana Karya Yance Dou

Foto ilustrasi: warga terdampak konflik dari Distrik Mage'abume (Mageabume), Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Sumber doto: Dokumen Tim Investigasi YKKMP

Gelap yang Meniupkan Kesia-siaan

Ada wujud kelam yang merayap tanpa suara di lorong-lorong zaman. Ketika nurani dibubuhkan jelak dan mata jiwa dibutakan oleh bayang-bayang semu, manusia berjalan dalam lingkaran yang linglung. Tanpa penunjuk arah yang abadi, hidup berputar-putar dalam badai yang membingungkan —bekerja tanpa muara, melangkah tanpa pelabuhan keselamatan, menanam benih derita pada insan dan alam pertiwi.

Di sanalah roh-roh kegelapan bekerja dengan begitu tekun. Mereka tidak selalu hadir dalam wujud yang menakutkan; kerap kali mereka menyamar sebagai gelak tawa hedonisme yang tak terkendali, kemewahan yang menindas, atau sorak-sorai pesta di atas air mata sesama. Harta dijadikan takhta, kuasa diangkat menjadi dewa, dan kepuasan fana disembah sebagai kebenaran baru. Namun, di balik semua keindahan palsu itu, tersimpan kerangka kesia-siaan yang dingin. Manusia terkecoh, mengira sedang merayakan kehidupan, padahal mereka tengah memelihara kematian jiwanya sendiri.

 

Terang yang Memecah Maut

Lalu, Sang Sabda itu sudah lama hadir sebagai Terang yang tak terpadamkan. Ia melangkah menembus malam yang pekat, membongkar tipu daya kegelapan yang sekian lama mengurung insan dalam ketakutan. Sang Sabda tidak datang hanya untuk menegur, melainkan untuk membongkar penjara kesia-siaan. Di mana ada kegelapan yang membinasakan, di situ Ia memancarkan fajar harapan.

Dengar: di sepanjang jalan-jalan debu di negeri penjaga hutan, Ia tidak melangkah sendirian. Di belakang-Nya, berbaris para pewarta sabda yang jemarinya pernah gemetar oleh sakit dan jiwanya pernah terkoyak oleh kuasa jahat. Namun kini, langkah mereka ringan; wujud mereka tak lagi dibanyangi ketakutan. Para penjaga keselamatan dipanggil para pahlawan hutan rimba —mereka bukan sekadar pengikut di tepi jalan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang telah diangkat dari kedalaman jurang yang hampa.

Harta, kekayaan, dan kedudukan mereka adalah amanah suci para leluhur, yang dianggap sebagai daya magisnya di hadapan Kasih yang Sejati. Para pewarta itu menyerahkan segalanya—bukan karena terpaksa, melainkan sebagai kidung syukur yang meluap dari hati yang iklas walau tanpa harga yang dibayar para penguasa fana.  Dengan apa yang mereka miliki, mereka melayani; dengan apa yang mereka cintai, mereka menopang peziarahan Sang Terang demi menjaga ekosistem kehidupan sejagat raya.

 

Panggilan di Antara yang Terpinggirkan

Suara itu terus memanggil, menembus batas perbedaan, melampaui sekat-sekat zaman. Panggilan-Nya adalah undangan terbuka bagi setiap jiwa untuk melangkah keluar dari lingkar egoisme. Kemuliaan hidup manusia tidak pernah tertulis pada besarnya lumbung yang menimbun harta bagi diri sendiri atau kelompoknya. Kemuliaan itu justru terpancar jernih ketika tangan terulur tanpa pamrih kepada mereka yang dilupakan dunia.

Di situlah denyut jantung Gereja berdetak paling kencang: pada jemari yang merangkul kaum yang miskin dan tersingkir; pada bahu yang menjadi sandaran bagi tubuh-tubuh yang lelah dan difabel; pada bisikan harapan bagi mereka yang terkurung di balik jeruji besi,

pada suara yang berani menyuarakan keadilan bagi korban ketidakadilan, Dan pada bumi yang menopang setiap insan untuk selalu bernafas lega dengan angin segar.

Memerangi kesia-siaan berarti berani mencintai secara nyata. Setiap perbuatan baik yang ditaburkan tiap hari adalah benih Kerajaan Allah yang sedang berkecambah di atas tanah dunia yang dahaga.

 

Fajar Kebangkitan dan Perlindungan Ilahi

Betapa hampa perjuangan ini jika semuanya berhenti di keliang kubur. Rasul Penjaga kosmos menegaskan dengan suara bagai guruh: Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita. Namun, sorak kemenangan telah bergema! Kristus telah bangkit sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal dunia. Kebangkitan-Nya adalah jaminan bahwa peluh, derita, dan pelayanan kita dalam kasih tidak akan pernah menguap menjadi kesia-siaan. Bahkan raga mereka menyatu kembali pada kesakralan bumi pertiwi.

Di tengah gelombang ziarah yang kadang menghempaskan, pemazmur melantunkan doa yang menjadi tempat perteduhan jiwa: “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.”

Tuhan tidak pernah membiarkan peziarah-Nya berjalan sendirian. Tangan Ilahi-Nya terus membimbing, memeluk, dan menyembunyikan kita di bawah naungan kasih-Nya yang teduh di pundak ibu pertiwi, agar kaki ini tidak goyah untuk terus mengikuti Putra Tunggal, Sang Sabda Abadi.

 

Misi Allah di Dunia

Maka, renungkanlah hikmat suci yang terbentang di hadapan kita, Kristus Telah Bangkit: iman, pelayanan, dan tetesan keringat kita tidak pernah percuma. Kita telah diangkat dari kubur kesia-siaan untuk mengenakan kemuliaan kekal dalam Dia.

Keteladanan para pewarta setia: mereka mengajar kita bahwa jiwa yang telah disembuhkan tidak akan tinggal diam; ia akan bergerak melayani, mematahkan belenggu kefanaan dengan perbuatan kasih.

Mewujudkan missio Dei: Kasih kepada Allah harus menjelma dalam rutin pelayanan sehari-hari —terutama bagi mereka yang terbelenggu fisik dan jiwanya dan alam yang derita dari amukan si jago merah.  Inilah Misi Allah yang kita usung bersama: saling menyapa, saling menopang, dan saling menyelamatkan dari jerat kesia-siaan sepanjang peziarahan ini.

Langkah kaki dari hari ke hari ini adalah bagian dari tarian rahmat-Nya. Selamat beraktivitas di dalam terang tugas dan panggilanmu sebagai pelindung tiap insan dan penjaga bumi pertiwi.  Biarlah kasih-Nya melingkupi setiap usaha dan niat baikmu.

Tuhan memberkati peziarahan hidupmu bagi pewarta kasih Allah yang tanpa lelah menjaga hutang lindung Papua dari amukan api yang dipasang para penjahat bagi firus pernafasan setiap insan dari kebakaran hutan Papua sebagai Paru-paru dunia.

Jayapura, 16 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.