Dini Hari Kaka Tua Roby di Bukit 66
DIA disapa kaka tua
Pater Roby nama panggilannya
Mendaki terjalnya gunung kehidupan
Tanpa kenal lelah, tanpa ragu melangkah
Dari lembah hijau aku memandang jauh
Menatap jejaknya yang kokoh di atas batu
Saat jemariku tertegun menatah angka di layar komputer
Sebuah bisikan lembut menyapa kalbu:
“Hentikan sejenak jemarimu, adikku
Kemarilah, rehatlah bersamaku
Kaka tuamu sedang disapa angin sejuk di bukit kehidupan”
Maka berbondonglah para kolega menelusuri lorong waktu
Aku pun bergegas menepis ragu
Di semak-semak hijau bumi Papua kita duduk melingkar
Mencicipi hidangan alam yang hangat dan jujur:
Buah matoa jatuh membasahi dahaga
Nasi buras berbalut daun pisang memberi tenaga
Daging babi menyatu dengan restu nusantara
Namun bukit 66 ini bukanlah garis akhir
Ia baru perhentian awal menuju tingginya Himalaya
Belasan bahkan puluhan bukit masih terhampar
Dan Kaka Tua berpesan dengan senyum tenang:
“Kita berjalan bersama, namun melangkah masing-masing,
Kita ‘kan bertemu saat tiap diri menyentuh puncaknya.
Jauh di mata, namun dekat di jejak kaki.”
Ia memimpin bukan dengan titah, melainkan kerja menunduk
Mengajar bahwa kewaspadaan adalah guru kebijaksanaan
Kebersamaan adalah amanah para leluhur
Dan tawa ria adalah penawar cucuran keringat
Pater Roby, tak ada kado megah yang kami bawa
Selain rasa syukur dan doa di Kaki Salib Yesus
Teruslah mendaki melintasi bukit 66, 77, hingga 88
Eratkan tongkat Firman di tanganmu
Pakailah ikat pinggang keadilan
Dan sandanglah noken kebenaran di pundakmu
Sebab kita adalah peziarah harapan
Pewarta kata kebenaran yang tak boleh padam
Di kala lelah menyapa, kami adik-adikmu siap mendengar aba-aba
Setia mendampingi bagai prajurit pada letnannya
Selamat Ulang Tahun ke-66, Pater Roby
Biarlah cahaya Ilahi terus menyinari
Dan kasih Ibu Pertiwi selalu menopang tiap langkahmu!
Tersenyum di Bukit 66
DI BAWAH remang dini hari yang tenang, tatkala kabut tipis masih membelai lelembah, kaka tua Roby telah berdiri tegak di atas Puncak Bukit 66. Sosoknya bagaikan karang yang tak tergoyahkan oleh zaman, menatap jauh ke depan dalam diam yang sarat akan makna.
Dari lembah Hijau, aku mengamati setiap jengkal perjalanannya —sebuah riwayat tentang keberanian— menapak gunung kehidupan tanpa kenal lelah, melangkahi terjalnya tebing dan tajamnya batu demi sebuah panggilan jiwa.
Seketika, di tengah kesibukanku menyusun deretan angka di layar dingin komputer, sebuah bisikan angin seolah menegur jemariku yang lelah. “Hentikan sejenak menganyam butir-butir angka itu, marilah kemari. Lihatlah! Kaka tuamu sedang beristirahat, disapa angin sejuk di atas bukit kehidupan.”
Di sana, ia tak pernah benar-benar sendiri. Para kolega dan kerabat berbondong-bondong menyusuri lorong waktu, bergegas melangkah untuk merayakan kebersamaan yang hangat. Namun, Bukit 66 ini bukanlah garis akhir; ini barulah pijakan awal menuju puncak Himalaya yang agung.
Di bawah naungan pohon matoa yang dermawan merontokkan buahnya dan di atas hijau tanah Papua yang tulus, hidangan sederhana seperti nasi buras dan sajian keakraban menjadi penyambung tenaga, penguat dada yang sesak oleh tempaan perjalanan.
Dari kerendahan hatinya, kaka tua Roby mengajarkan bahwa kewaspadaan adalah guru kebijaksanaan. Pun kebersamaan adalah amanah luhur. Langkahnya tidak dibimbing oleh nyaringnya perintah, melainkan oleh senyum simpul dan kerja keras yang menunduk.
Ia mengingatkan: walau kita berjalan bersama, setiap jiwa harus tetap menapak jalannya masing-masing hingga kelak bertemu di puncak panggilannya.
Tak ada kado yang lebih indah selain rasa syukur yang melambung ke langit. Lalua doa terucap tulus di kaki Salib. Dengarlah dawai nasihatnya: eratkan tongkat Firman di tanganmu, kenakan ikat pinggang keadilan, dan sandarkan noken kebenaran di pundakmu. Sebab perjalanan belum usai, dan garis kehidupan yang dibentangkan Sang Khalik masih terbentang luas mendaki Bukit 77, Bukit 88 hingga tak bertepi.
Selamat merayakan Hari Ulang Tahun ke-66, Pater Roby. Teruslah berjalan sebagai peziarah harapan dan pembawa warta kebenaran. Di kala lelah menyapa, ingatlah bahwa kami, adik-adikmu, akan selalu siap mendengarkan aba-abamu dan melangkah bersamamu di bawah naungan cahaya Ilahi, Tuhan sang Sabda.
Jayapura, 14 September 2026
Oleh Yance Dou
(Doa kepada sang Sabda untuk rekan imam Pastor Roby yang merayakan ulang tahun)
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










