Jangan Takut Pada Retakanmu
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa seperti tempayan retak
Kita melihat orang lain yang tampaknya lebih berhasil
Lebih kuat
Lebih pintar
Lebih percaya diri
Lebih mampu
Lebih sempurna
Sementara kita melihat diri sendiri dan berkata,
“Aku hanya memiliki sedikit.”
“Aku banyak kekurangan.”
“Aku pernah gagal.”
“Aku pernah jatuh.”
“Aku mempunyai luka.”
“Aku tidak sebaik orang lain.”
Lalu tanpa sadar kita mulai mengukur nilai diri
Berpijak apa yang tidak kita miliki
Kita menghitung air yang bocor dari tempayan kita
Kita menghitung kegagalan
Kita menghitung kelemahan
Kita menghitung kesalahan masa lalu
Sampai kita lupa melihat bunga-bunga yang Tuhan tumbuhkan melalui hidup kita
Padahal, bisa jadi—
ada seseorang yang tetap bertahan karena kata-kata sederhana yang pernah kita ucapkan
Ada seseorang yang kembali berharap karena kita pernah memberinya perhatian
Ada hati yang disembuhkan karena kita bersedia mendengarkan
Ada anak yang belajar percaya diri karena kita pernah mengatakan,
“Kamu pasti bisa.”
Ada keluarga yang tetap bertahan karena kita memilih mengampuni
Ada seseorang yang kembali kepada Tuhan karena kesaksian kecil dari hidup kita
Kita mungkin tidak melihat semuanya
Seperti tempayan retak yang tidak pernah melihat
benih-benih bunga yang disiraminya
Kita hanya melihat air yang hilang
Tetapi Tuhan melihat bunga yang tumbuh
Mungkin itulah cara Tuhan bekerja
Tuhan tidak selalu menunggu kita menjadi sempurna untuk memakai hidup kita
Ia dapat memakai kelemahan kita
Ia dapat memakai pengalaman pahit kita
Ia dapat memakai luka kita
Ia dapat memakai kegagalan kita
Bahkan Ia dapat memakai retakan-retakan dalam hidup kita
untuk mengalirkan rahmat-Nya kepada orang lain
Sebab di tangan Tuhan, tidak ada hidup yang benar-benar sia-sia
Jangan membandingkan tempayanmu
Tempayan yang utuh tidak perlu menjadi tempayan retak
Dan tempayan retak tidak perlu memaksakan diri menjadi tempayan utuh
Masing-masing memiliki perjalanan
Masing-masing memiliki tugas
Masing-masing memiliki cara untuk memberi kehidupan
Demikian pula kita
Jangan habiskan hidup dengan terus-menerus
membandingkan diri dengan orang lain
Bukan tugas kita untuk menjadi seperti orang lain
Tugas kita adalah menjadi pribadi yang Tuhan ciptakan
Dan memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki
Mungkin kita tidak memiliki banyak
Tetapi sedikit yang kita berikan dengan kasih
Dapat menjadi besar di tangan Tuhan
Retakanmu bukan identitasmu
Kita sering berkata
“Aku adalah orang yang gagal.”
“Aku adalah orang yang lemah.”
“Aku adalah orang yang tidak berguna.”
Tidak
Kegagalanmu bukan seluruh dirimu
Kelemahanmu bukan seluruh dirimu
Lukamu bukan seluruh dirimu
Masa lalumu bukan seluruh dirimu
Engkau jauh lebih besar daripada retakanmu
Dan jangan lupa:
Tuhan tidak hanya melihat tempayanmu
Tuhan melihat apa yang dapat mengalir melaluinya
Pertanyaan untuk hati
Mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apa retakan dalam hidupku yang selama ini paling membuatku malu?
Mengapa aku begitu takut menerima kelemahanku?
Siapa yang mungkin telah menerima berkat melalui kelemahanku?
Bunga-bunga apa yang sebenarnya sedang Tuhan tumbuhkan melalui hidupku?
Dan mungkin pertanyaan yang paling penting:
“Tuhan, apa yang ingin Engkau lakukan melalui retakan dalam diriku?”
Jangan buru-buru meminta Tuhan menghilangkan semua retakan
Mungkin sebelum menutup retakan itu, Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bunga-bunga yang tumbuh karenanya
Bunga di Sepanjang Jalan
Tempayan itu akhirnya mengerti
Ia tidak pernah benar-benar gagal
Ia hanya terlalu lama melihat dirinya dari sisi yang salah
Ia mengira tugasnya adalah membawa air sampai penuh
Ternyata tugasnya jauh lebih indah:
menghidupkan bunga-bunga di sepanjang jalan
Demikian pula hidup kita
Mungkin kita merasa hanya membawa “setengah tempayan”
Mungkin ada banyak hal yang tidak mampu kita lakukan
Mungkin ada retakan yang tidak dapat kita sembunyikan
Tetapi jangan berhenti berjalan
Tetaplah membawa apa yang dipercayakan Tuhan kepadamu
Tetaplah mengasihi
Tetaplah melayani
Tetaplah berbuat baik
Tetaplah menjadi berkat
Sebab bisa jadi, tanpa kita sadari, setiap tetes yang keluar dari retakan hidup kita sedang menyirami benih kehidupan seseorang
Dan suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita akan menyadari:
ternyata sepanjang jalan yang kita kira penuh dengan kegagalan, Tuhan telah menumbuhkan bunga-bunga yang indah
“Aku tidak sempurna, tetapi aku tetap berharga
Aku tidak utuh, tetapi aku masih dapat menjadi berkat.
Aku memiliki retakan, tetapi melalui retakan itu
kasih Tuhan dapat mengalir kepada sesama.”
Karena di tangan Tuhan
bahkan sebuah tempayan yang retak
dapat membuat sepanjang jalan menjadi taman
Tempayan yang Retak
Ketika Tuhan menjadikan retakan sebagai jalan bagi kehidupan
Pagi selalu datang dengan cara yang sederhana
Matahari perlahan menyibakkan kabut. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun.
Dari sebuah mata air di kaki bukit, terdengar gemericik air
yang seolah sedang menyanyikan lagu kehidupan
Setiap pagi, seorang tukang air datang ke tempat itu
Di bahunya tergantung sebuah pikulan kayu.
Pada kedua ujungnya terdapat dua tempayan besar Keduanya telah lama menjadi teman seperjalanannya.
Tempayan yang satu begitu utuh
Tubuhnya kuat. Dindingnya kokoh. Tak ada retakan sedikit pun.
Setiap kali diisi air, ia mampu membawanya penuh sampai ke rumah majikan
Tempayan yang satunya berbeda
Pada tubuhnya terdapat sebuah retakan
Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat air
perlahan-lahan merembes keluar
Setiap kali mereka berjalan pulang,
setetes demi setetes air meninggalkan tubuhnya
Setengah perjalanan—
air berkurang.
Menjelang rumah—
air semakin sedikit.
Dan ketika akhirnya tiba, tempayan itu hanya mampu
membawa setengah dari air yang tadi diambil dari mata air
Hari berganti hari
Minggu berganti minggu
Bulan berganti bulan
Bahkan dua tahun berlalu dalam perjalanan yang sama.
Setiap pagi mereka pergi ke mata air
Setiap sore mereka kembali
Tempayan yang utuh selalu merasa bangga
Ia tahu dirinya mampu memenuhi tugas
Ia merasa berguna
Ia tidak pernah mengecewakan siapa pun
Tetapi tempayan yang retak semakin lama semakin tenggelam dalam kesedihan
Ia melihat dirinya sebagai tempayan yang gagal
Ia membandingkan dirinya dengan yang utuh
“Mengapa aku tidak bisa seperti dia?”
“Mengapa aku selalu kehilangan sesuatu?”
“Mengapa tubuhku tidak sempurna?”
“Apa gunanya aku jika aku tidak mampu membawa air sepenuhnya?”
Retakan kecil di tubuhnya perlahan menjadi luka besar di dalam hatinya
Ia mulai malu kepada dirinya sendiri
Ia merasa tidak layak
Ia merasa menjadi beban
Sampai suatu pagi, ketika perjalanan pulang terasa begitu panjang
tempayan itu akhirnya berkata kepada tukang air
“Maafkan aku.”
Tukang air terdiam
“Untuk apa?”
Tempayan itu menundukkan dirinya
“Aku malu.”
“Mengapa?”
“Karena selama dua tahun aku tidak pernah mampu melakukan tugasku dengan sempurna. Engkau mengambil air penuh dari mata air, tetapi aku hanya membawa setengahnya sampai ke rumah. Air yang lain hilang di sepanjang perjalanan karena tubuhku retak.”
Suaranya bergetar
“Aku telah mengecewakanmu.”
“Aku telah membuatmu bekerja lebih keras.”
“Aku adalah tempayan yang cacat.”
Untuk beberapa saat, hanya suara langkah kaki dan gemericik air yang terdengar
Kemudian tukang air tersenyum
Ia berkata:
“Besok, dalam perjalanan pulang, lihatlah baik-baik jalan di sisimu.”
Tempayan itu tidak mengerti
Namun ia menurut
Keesokan paginya mereka kembali ke mata air
Tukang air mengisi kedua tempayan
Lalu perjalanan dimulai
Matahari pagi menyentuh jalan
Angin bergerak perlahan di antara pepohonan
Dan untuk pertama kalinya, tempayan retak memperhatikan jalan di sisinya
Ia tertegun
Di sepanjang jalan tumbuh bunga-bunga
Ada yang kecil
Ada yang besar
Ada yang berwarna putih
Ada yang kuning
Ada yang merah
Ada pula yang berwarna ungu
Bunga-bunga itu bermekaran dengan indah, seakan-akan jalan yang mereka
lalui setiap hari telah berubah menjadi sebuah taman
Tempayan retak terdiam
“Lihatlah,” kata tukang air
“Bunga-bunga itu tumbuh di sepanjang jalanmu.”
Tempayan itu masih belum memahami
Kemudian tukang air berkata
“Selama dua tahun ini, aku telah mengetahui bahwa tubuhmu retak.”
“Aku tahu engkau kehilangan air sepanjang perjalanan.”
“Tetapi aku tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia.”
Tempayan itu mendengarkan
“Setiap pagi aku menanam benih bunga di sepanjang sisi jalan
tempat engkau tergantung.”
“Dan setiap hari, ketika kita berjalan pulang dari mata air,
air yang merembes dari tubuhmu menyirami benih-benih itu.”
Tukang air tersenyum
“Engkau tidak pernah menyadarinya.”
“Engkau terlalu sibuk menghitung air yang hilang.”
“Engkau tidak melihat kehidupan yang tumbuh dari air yang engkau berikan.”
Tempayan retak itu seperti kehilangan kata-kata
Ia memandang bunga-bunga di sepanjang jalan
Bunga-bunga itu bukan tumbuh meskipun ia retak
Bunga-bunga itu justru tumbuh melalui retakannya
Air yang selama ini ia anggap sebagai kehilangan ternyata menjadi kehidupan
Sesuatu yang selama ini ia sesali ternyata telah menjadi berkat
Sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan
ternyata telah memberikan warna kepada dunia di sekitarnya
Tukang air kemudian berkata:
“Engkau memang tidak mampu melakukan
apa yang dilakukan tempayan yang utuh.”
“Tetapi tempayan yang utuh juga tidak mampu
melakukan apa yang engkau lakukan.”
Tempayan retak itu terdiam
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang retakannya dengan rasa malu
Ia memandangnya dengan cara yang baru
Retakan itu tetap ada
Tetapi kini ia tahu:
retakan bukan selalu akhir dari sesuatu
Kadang-kadang, retakan adalah tempat dari mana kehidupan mengalir
Jayapura, 14 September 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










