Sebuah Doa
Doa, kau hanya satu kata
Tiga huruf yang tersusun ringkas
Mudah diucap, pendek didengar
Namun tak boleh diabaikan begitu saja
Doa, kau singkat namun padat
Padat isi, padat makna
Padat guna, padat rahasia
Doa, siapa namamu sebetulnya?
Aku ingin mengenalmu lebih dalam
Ingin menjadi sahabatmu
Ingin menjadi kekasih jiwamu
Doa, kini aku paham
Namamu adalah dengar sabda Allah
Bukan sekadar kata yang pendek
Melainkan benteng dan kekuatan jiwa
Bagi setiap insan yang mendahaga
Doa, kudengar suaramu
Kudengar ajakan dan harapanmu
Kudengar rintihan lembut hatimu
Kau adalah kekasih jiwa yang sejati
Doa, kau bertanya lembut:
“Benarkah aku kekasihmu?”
Dengar, dengarlah bisikan itu!
Siapa yang harus kudengar?
Suara siapa, wahai jiwa?
Allah, Allah, Sang Mahacinta!
Doa, kini aku mengerti sepenuhnya
Bahwa Engkau bukan sekadar kata
Engkau adalah Sang Kata
Milik Sang Pemilik Firman Abadi
Doa, ampuni aku seribu kali
Sejuta maaf kupinta
Sebab dulu aku melupakanmu
Merendahkanmu, bahkan memusuhimu
Doa, aku telah melangkah salah
Kuanggap engkau beban yang mengganggu
Kuinjak keheninganmu
Aku telah berdosa
Pada engkau, sang kekasih jiwaku
Doa, kini rasa malu memenuhi dada
Kusangka engkau lawan, padahal engkau teman
Saat kau hadir, aku berpaling
Saat kau mencintai, aku membenci
Betapa malunya diri ini
Di hadapan kekasih jiwa
Doa, kau penuntun dalam kehidupan
Kau kerinduan sukmaku
Kau denyut nadiku
Kau nafas ragaku
Kau segalanya bagiku
Doa, kini aku bersimpuh
Di hadapanmu, sang kekasih
Masukilah ruang jiwaku yang sunyi
Gerakkanlah ragaku yang ringkih
Sebab engkaulah pedang penumpas musuh jiwa
Doa, jangan biarkan jiwaku merana
Jangan lepaskan ragaku yang layu
Segarkan jiwaku yang dahaga
Kuatkan ragaku yang lemah
Doa, engkau telah terikat janji abadi
Menyatu dengan jiwaku yang rapuh
Tak pernah meninggalkanku
Tak pernah menyangkal ataupun membiarkanku
Doa, kau menjadi kekasihku
Tanpa menuntut harga
Tanpa meminta balas jasa
Tanpa beban dan syarat
Hanya keikhlasan yang murni dan luhur
Doa, kuusahakan tak lupa menyapamu
Saat hendak tidur dan terjaga
Saat hendak melangkah dan tiba
Dalam setiap hela napas
Dalam setiap gerak jemari
Sebab engkaulah pelita kepalaku
Doa, tak terbilang kasihmu
Sejuta kebaikan dan jasa-jasamu
Tak terbalas oleh fana
Engkau kekasih yang ikhlas dalam hening
Doa, hanya syukur yang sanggup kuucap
Hanya terima kasih yang mampu kukata
Sebab engkau sahabat dalam senyap
Setia menyertai hingga akhir masa
Doa, padamu aku berserah dan bersyukur:
Kala sakit, engkau memulihkan
Kala perang, engkau menundukkan musuh
Kala jatuh, engkau mengagungkan
Kala susah, engkau melapangkan
Kala bimbang, engkau memberi kepastian
Terimalah persembahanku
Wahai Sang Doa, Kekasih Jiwaku
Jayapura, 30 Agustus 2026
Karya: RD Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Tance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










