Puisi: Sabana, Doa, dan Di Sebuah Gereja Gunung Karya Umbu Landu Paranggi

Penyair Umbu Landu Paranggi. Sumber foto: sekolahtimur.com, 11 April 2022

Apa Ada Angin di Jakarta

 

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

 

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh ke sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kota raya

 

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Sumber: Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya, oleh Emha Ainun Nadjib, 1983

 

Di Sebuah Gereja Gunung

 

lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya

di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah

mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala

dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah

bukit dan padang-padang sepi

hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan, telah terpanggil

dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia

dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa

panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu

— berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan

— bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketentraman

— di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini

— pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka

keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu

juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi

jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto

tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi

tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang sama

mentari dan bulan yang bersinar di mana pun —

dan tuhan mendengar seru doa mereka

Sumber: Suara Pancaran Sastra: Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Jakarta, 1984

 

Doa

 

sunyi

bekerjalah

kau

bagi

nyawaku

risau

sunyi bekerjalah

kau bagi

nyawaku risau

sunyi bekerjalah kau

bagi nyawaku risau

sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku

risau

risau nyawaku bagi kau bekerjalah

sunyi

risau nyawaku bagi

kau bekerjalah sunyi

risau nyawaku

bagi kau

bekerjalah sunyi

risau

nyawaku

bagi

kau

bekerjalah

sunyi

Kauku

Sumber: Dunia Puisi Umbu Landu Paranggi dalam Semangat, 1978

 

Ibunda Tercinta

 

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

duka derita dan senyum yang abadi

tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi

dari ujung rambut sampai telapak kakinya

 

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

korban, terima kasih, restu dan ampunan

dengan tulus setia telah melahirkan

berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

 

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

cinta kasih sayang, tiga patah kata purba

di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri

menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

1965

Sumber: Tonggak 3, Gramedia, Jakarta, 1987

 

Sabana

 

memburu fajar

yang mengusir bayang-bayangku

menghadang senja

yang memanggil petualang

 

sabana sunyi

di sini hidupku

sebuah gitar tua

seorang lelaki berkuda

 

sabana tandus

mainkan laguku

harum napas bunda

seorang gembala berpacu

 

lapar dan dahaga

kemarau yang kurindu

dibakar matahari

hela jiwaku risau

karena kumau lebih cinta

hunjam aku ke bibir cakrawala

Sumber: Suara Pancaran Sastra, Yayasan Arus, 1984

Umbu Landu Paranggi lahir 10 Agustus 1943 di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Masuk Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sumba lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta. Umum lalu kuliah di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta hingga tahun 1965.

Umbu mulai menulis saat duduk di bangku SMP di Sumba. Tahun 1960 karya perdananya dimuat dalam Rubrik ‘Fajar Menyingsing’ Majalah Mimbar Indonesia. Ia setia meningkatkan diri sehingga puisinya akhirnya diterbitkan dalam “Ruang Budaya” tahun 1962.

Sajak-sajaknya dimuat dalam Mimbar Indonesia, Gajah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Gelanggang, dan Pelopor, Yogya. Kumpulan sajaknya yang pertama adalah Melodia kurun waktu tahun 1962-1967 namun belum terbit.

Tahun 1968 bersama Darmanto Jt dan Abdul Hadi WM, puisi Umbu terbut Paranggi hadir dalam antologi Manifes yang diterbitkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia.

Setelah dari Fisip UGM tahun 1965, Umbu menganggur total. Tak lama ia menjadi redaktur mingguan Pelopor Yogya. Tiras media membengkak karena Umbu menampilkan pawai puisi satu halaman setiap kali terbit.

Umbu dijuluki “Presiden Malioboro” karena aktivitasnya dalam berkesenian, khususnya sastra. Di Malioboro ia bersama penyair dan penulis sering bertemu, berkumpul, dan berbincang-bincang soal kebudayaan.

Selain julukan “Presiden Malioboro” Umbu juga mengasuh “Persada Studi Klub (PSK)” yang didirikan pada 5 Maret 1969. Tujuan PSK menyalurkan bakat dan minat kalangan muda yang tertarik pada kesenian, khususnya sastra.

Melalui PSK ia berperan membesarkan beberapa sastrawan yang juga “murid”-nya seperti Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Suwarna Pragolapati, Joko S. Passandaran, dan Arwan Tuti Artha.

Tahun 1975 Umbu tinggalkan Yogyakarta lalu bermukim di Denpasar, Bali. Di Denpasar ia menjadi redaktur Bali Post dengan mengasuh ruang remaja “Pos Remaja” dan ruang kebudayaan “Pos Budaya”. Ia juga membimbing generasi muda penulis seperti Wayan Jengki Sunarta, Warih Wiratsana, Putu Fajar Arcana, Cokorda Sawitri, Oka Rusmini, dan lain-lain.

Umbu meninggal 6 April 2021 di Sanur, Bali akibat Covid-19. Sebelum dimakamkan secara permanen di tanah kelahirannya, Sumba, jenazahnya dimakamkan sementara di Taman Pemakaman Kristen Mumbul, Kabupaten Badung pada Senin, 12 April 2021, setelah diantarkan ke ruang sunyi melalui liturgi peribadatan Kristiani dan upacara kurukudu, sebuah ritual adat khas Sumba.