Puisi Burung yang Menjahit Langit dan Tinta Menangis di Ujung Rindu Karya Damianus Ose Wotan

Sekumpulan burung terbang melintasi langit senja yang dramatis dengan warna-warna kaya dan awan yang mencolok. Sumber foto: pexels.com / Irina Iriser

Perjalanan Sunyi

 

Aku berjalan di lorong yang tidak mengenal waktu

Langkahku dipungut angin, lalu disembunyikan kabut

Tak ada penunjuk arah selain detak jantung

yang sesekali lupa mengingat mengapa ia masih berdetak

 

Di pundakku, senja menggantung seperti salib

yang dipahat dari kenangan

Setiap luka menjadi burung

terbang tanpa pernah menemukan langitnya

 

Aku bertanya kepada sunyi

“Apakah tujuan selalu lebih penting daripada perjalanan?”

Sunyi hanya tersenyum

lalu menjawab dengan keheningan

 

Di tepi jalan kulihat bayanganku sendiri

menjadi orang asing yang melambaikan tangan

Barangkali selama ini

aku mengejar diriku yang telah lama pergi

 

Malam membuka kitab tanpa huruf

Kubaca dengan mata yang basah

dan kutemukan satu kalimat sederhana:

Manusia lahir bukan untuk menghindari sepi

melainkan belajar berdamai dengannya

 

Maka aku melanjutkan langkah

bukan karena jalan ini mudah

melainkan karena di ujung setiap kesunyian

selalu ada Tuhan

yang diam-diam berjalan lebih dahulu

Lewoleba, 24 Juli 2026

Tinta Menangis di Ujung Rindu

 

Ketika langit menanggalkan warna

aku melihat waktu duduk

di atas batu sunyi

menyulam bayang-bayang

dengan benang yang dipintal dari kerinduan

 

Kupungut setetes tinta

yang jatuh dari mata semesta

Ia bukan hitam

melainkan cahaya

yang kelelahan mencari nama-Mu

 

Kutulis wajahmu

di daun-daun yang gugur

Namun angin adalah filsuf

yang mengajarkan

bahwa setiap nama

akan kembali menjadi debu

setiap pelukan

akan larut menjadi udara

 

Aku pun bertanya kepada senja

“Di manakah cinta berakhir?”

 

Senja tersenyum

lalu menjelma kabut

yang menyelimuti jiwaku

 

Cinta tidak pernah berakhir

Ia hanya berganti pakaian:

kadang menjadi pertemuan

kadang menjadi kehilangan

kadang menjadi doa

yang diam-diam naik

ke hadapan Sang Kekal

 

Sejak itu

aku tak lagi mencari langkahmu

di jalan-jalan dunia

Aku mencarimu

di dalam keheningan

di sela desir napas

di altar hati

tempat Tuhan menyalakan pelita

yang tak pernah padam

 

Kini tinta masih menangis

tetapi air matanya

telah menjadi sungai bening

yang mengalir menuju samudra keabadian

 

Dan aku mengerti

rindu bukanlah jarak

antara aku dan engkau

melainkan ruang suci

tempat jiwa belajar

bahwa setiap cinta yang murni

selalu bermuara

kepada Tuhan

Sang Penulis

yang menorehkan takdir

dengan tinta kasih

yang tak pernah kering

Baopukang, 29 Juli 2026

Burung yang Menjahit Langit

 

Di ujung kelopak malam

seekor burung menjahit langit

dengan benang yang dipintal

dari napas para peziarah sunyi

 

Aku meminum bayanganku sendiri

hingga sungai lupa ke mana laut berdoa

Gunung menumbuhkan akar ke angkasa

sementara bintang-bintang menjadi buah yang jatuh ke dalam dada

 

Waktu adalah cermin tanpa wajah

Ia memanggil namaku

melalui mulut batu

yang sedang bermimpi menjadi manusia

 

Kutatap Tuhan

bukan di puncak cahaya

melainkan di sebutir debu

yang diam-diam memikul semesta

 

Lalu angin membuka pintu yang tak pernah ada

Aku melangkah masuk

ke dalam diriku sendiri

dan menemukan keheningan sedang mengeja namaku

Baopukang, 25 Juli 2026

Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).

Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.

Kini, ia tinggal di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sehari-hari mengajar di SLB Fajar Amanah Prawang, Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.