Perjalanan Sunyi
Aku berjalan di lorong yang tidak mengenal waktu
Langkahku dipungut angin, lalu disembunyikan kabut
Tak ada penunjuk arah selain detak jantung
yang sesekali lupa mengingat mengapa ia masih berdetak
Di pundakku, senja menggantung seperti salib
yang dipahat dari kenangan
Setiap luka menjadi burung
terbang tanpa pernah menemukan langitnya
Aku bertanya kepada sunyi
“Apakah tujuan selalu lebih penting daripada perjalanan?”
Sunyi hanya tersenyum
lalu menjawab dengan keheningan
Di tepi jalan kulihat bayanganku sendiri
menjadi orang asing yang melambaikan tangan
Barangkali selama ini
aku mengejar diriku yang telah lama pergi
Malam membuka kitab tanpa huruf
Kubaca dengan mata yang basah
dan kutemukan satu kalimat sederhana:
Manusia lahir bukan untuk menghindari sepi
melainkan belajar berdamai dengannya
Maka aku melanjutkan langkah
bukan karena jalan ini mudah
melainkan karena di ujung setiap kesunyian
selalu ada Tuhan
yang diam-diam berjalan lebih dahulu
Lewoleba, 24 Juli 2026
Tinta Menangis di Ujung Rindu
Ketika langit menanggalkan warna
aku melihat waktu duduk
di atas batu sunyi
menyulam bayang-bayang
dengan benang yang dipintal dari kerinduan
Kupungut setetes tinta
yang jatuh dari mata semesta
Ia bukan hitam
melainkan cahaya
yang kelelahan mencari nama-Mu
Kutulis wajahmu
di daun-daun yang gugur
Namun angin adalah filsuf
yang mengajarkan
bahwa setiap nama
akan kembali menjadi debu
setiap pelukan
akan larut menjadi udara
Aku pun bertanya kepada senja
“Di manakah cinta berakhir?”
Senja tersenyum
lalu menjelma kabut
yang menyelimuti jiwaku
Cinta tidak pernah berakhir
Ia hanya berganti pakaian:
kadang menjadi pertemuan
kadang menjadi kehilangan
kadang menjadi doa
yang diam-diam naik
ke hadapan Sang Kekal
Sejak itu
aku tak lagi mencari langkahmu
di jalan-jalan dunia
Aku mencarimu
di dalam keheningan
di sela desir napas
di altar hati
tempat Tuhan menyalakan pelita
yang tak pernah padam
Kini tinta masih menangis
tetapi air matanya
telah menjadi sungai bening
yang mengalir menuju samudra keabadian
Dan aku mengerti
rindu bukanlah jarak
antara aku dan engkau
melainkan ruang suci
tempat jiwa belajar
bahwa setiap cinta yang murni
selalu bermuara
kepada Tuhan
Sang Penulis
yang menorehkan takdir
dengan tinta kasih
yang tak pernah kering
Baopukang, 29 Juli 2026
Burung yang Menjahit Langit
Di ujung kelopak malam
seekor burung menjahit langit
dengan benang yang dipintal
dari napas para peziarah sunyi
Aku meminum bayanganku sendiri
hingga sungai lupa ke mana laut berdoa
Gunung menumbuhkan akar ke angkasa
sementara bintang-bintang menjadi buah yang jatuh ke dalam dada
Waktu adalah cermin tanpa wajah
Ia memanggil namaku
melalui mulut batu
yang sedang bermimpi menjadi manusia
Kutatap Tuhan
bukan di puncak cahaya
melainkan di sebutir debu
yang diam-diam memikul semesta
Lalu angin membuka pintu yang tak pernah ada
Aku melangkah masuk
ke dalam diriku sendiri
dan menemukan keheningan sedang mengeja namaku
Baopukang, 25 Juli 2026
Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).
Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.
Kini, ia tinggal di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sehari-hari mengajar di SLB Fajar Amanah Prawang, Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.










