Sebelum Malam Mengingatkan Kita
Senja tidak pernah mati
Ia hanya berpindah
ke mata orang
yang kehilangan harapan
Burung-burung pulang
membawa sepotong langit
di ujung paruhnya
sedangkan manusia
pulang
membawa luka
yang tak sempat dinamai
Waktu bukan sungai
Waktu adalah cermin
yang diam-diam
menghapus wajah kita
agar jiwa belajar
mengenali dirinya sendiri
Dan ketika malam
menutup kitab semesta
aku tahu:
keabadian
bukan hidup tanpa akhir
melainkan kasih
yang tetap menyala
setelah nama kita
tak lagi disebut
Baopukang, 19 Juli 2026
Di Antara Nafas dan Gelisah
Ayah
tak sanggup mataku memikul pemandangan ini
engkau terbaring
namun bukan tidur yang memelukmu
melainkan gelisah yang mengikat napasmu pelan-pelan
Di kelopak matamu yang tertutup
aku tahu ada perang yang tak pernah usai
antara tubuh yang ingin pulang
dan jiwa yang masih bertahan demi kami
Ayah
sunyi di ruang ini bukan lagi sunyi
ia berisik oleh detak yang terseret
oleh doa-doa yang patah di ujung bibirku
oleh takut yang kupeluk diam-diam
agar tak jatuh di hadapanmu
Aku ingin menjadi malam yang lembut
menyelimuti gelisahmu tanpa sisa
menarik seluruh sakitmu ke dalam diriku
lalu membiarkanmu tidur
dalam damai yang lama kita rindukan
Namun aku hanya anakmu, Ayah
yang belajar tegar dari retak wajahmu
yang mencoba percaya di tengah runtuh
yang menggenggam harap
meski ia tinggal sehelai napas
Jika esok masih membuka mata untukmu
biarlah itu jadi cahaya yang memulihkan
Jika tidak
ajarkan aku merelakan
seperti engkau dahulu mengajarkanku
cara berjalan tanpa takut jatuh
Ayah
di antara gelisahmu yang panjang ini
aku tak berhenti memanggil Tuhan
meski suaraku sering tenggelam
dalam air mata yang tak sempat jatuh
Pekanbaru, 5 Mei 2026
Sebelum Tuhan Menamai Cahaya
Sebelum cahaya menemukan namanya,
gelap telah lebih dahulu menghafal wajah manusia.
Kita lahir
bukan dari rahim waktu
melainkan dari luka
yang ingin menjadi harapan
Di dadaku
sebuah jam memakan jarumnya sendiri
Setiap detik
adalah darah yang belajar
menjadi doa
Aku bertanya kepada langit
namun langit menggantung sunyi
sebagai jawaban
Barangkali
Tuhan tidak menciptakan jalan
Kitalah
yang menciptakan arah
dengan keberanian berjalan
Baopukang, 15 Juli 2026
Batu yang Bermimpi
Ada batu
yang bermimpi menjadi burung
Ia menumbuhkan sayap
di dalam kesunyian
sementara manusia
mematahkan langit
dengan kesombongan
Laut menyimpan api
di dasar ombak
Pohon menulis kitab
dengan akar yang tak terlihat
Aku pun mengerti:
yang paling berat
bukan tubuh
melainkan ego
yang menolak menjadi debu
Sebab debu tahu
ke mana pun angin pergi
ia tetap pulang
ke tanah asalnya
Baopukang, 16 Juli 2026
Saat Doa Menggantikan Peluk
Ayah
hanya doa yang mampu kupanjatkan untuk sakitmu
sebab seluruh jalan pulang telah berubah
menjadi jarak yang tak bisa kupatahkan
Namamu kusebut dalam gelap
bukan lagi sebagai panggilan
melainkan sebagai pegangan
agar aku tidak runtuh sepenuhnya
Di sini, di rantau yang asing dan dingin
aku belajar bahwa ketidakmampuan
adalah luka paling sunyi
melihatmu menderita
tanpa pernah bisa hadir sebagai anakmu seutuhnya
Ayah
doaku bukan lagi kata-kata
ia adalah air mata yang tak sempat jatuh
ia adalah napas yang tersendat di antara takut dan pasrah
ia adalah jeritan yang kupendam
agar tidak mengganggu sepinya malam
Jika Tuhan berkenan mendengar
aku tak meminta mukjizat yang besar—
cukup sentuhan kecil di tubuhmu
cukup satu damai yang singgah di dadamu
cukup satu malam tanpa gelisah
Dan jika sakit itu harus tetap tinggal
ajarkan aku, Ayah
untuk kuat menanggung jarak ini
sebab yang paling menyakitkan bukan lukamu
melainkan ketidakmampuanku
untuk ada di sisimu
Baopukang, 6 Mei 2026
Kepergian Ayah di Perantauan
Di tanah rantau aku berdiri
ketika kabar itu jatuh tanpa suara—
ayah telah pulang
dan aku tak sempat menggenggam waktunya
Jarak menjadi luka yang paling sunyi
tak ada pelukan terakhir
tak ada bisikan lirih di telinga
hanya gemetar doa yang kupaksakan kuat
Ayah
maafkan anakmu yang jauh ini
yang tak mampu menjaga di ujung napasmu
yang hanya bisa menangis dalam diam
di kota yang tak mengenal duka kita
Langit di sini terasa lebih rendah
seakan ikut menunduk bersamaku
mengantar rindu yang tak sempat terucap
menuju rumahmu yang kini abadi
Ayah
jika langkahku tak sampai ke pusaramu hari ini
biarlah doaku yang tiba lebih dulu—
memelukmu dalam terang Tuhan
dan berbisik:
anakmu akan tetap berjalan
membawa namamu dalam setiap perjuangan
Pekanbaru, 7 Mei 2026
Aku Sedang Pulang, Ayah
Kaki ini ingin berlari pulang
mengejar waktu yang telah lebih dulu tiba
di rumah yang kini penuh doa
dan air mata yang tak sempat kubagi
Ayah, tunggulah sebentar
meski kutahu kau tak lagi di ambang pintu
aku ingin datang
meski hanya untuk memeluk tanah
yang menyimpan namamu
Di rantau ini aku tak lagi utuh
sebagian hatiku telah lebih dulu pulang
mengiringi kepergianmu
dalam diam yang panjang
Tuhan
kuatkan langkahku menuju rumah
biar setiap jalan yang kutempuh
menjadi doa yang sampai lebih dahulu
Ayah
anakmu ini sedang pulang
membawa rindu yang pecah
dan cinta yang tak sempat diucapkan
Jakarta, 7 Mei 2026
Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).
Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.
Kini, ia tinggal di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sehari-hari mengajar di SLB Fajar Amanah Prawang, Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.










