Puisi: Sebelum Tuhan Menamai Cahaya dan Batu yang Bermimpi Karya Damianus Ose Wotan

Damianus Ose Wotan. Foto: Istimew

Sebelum Malam Mengingatkan Kita

 

Senja tidak pernah mati

Ia hanya berpindah

ke mata orang

yang kehilangan harapan

 

Burung-burung pulang

membawa sepotong langit

di ujung paruhnya

sedangkan manusia

pulang

membawa luka

yang tak sempat dinamai

 

Waktu bukan sungai

Waktu adalah cermin

yang diam-diam

menghapus wajah kita

agar jiwa belajar

mengenali dirinya sendiri

 

Dan ketika malam

menutup kitab semesta

aku tahu:

keabadian

bukan hidup tanpa akhir

melainkan kasih

yang tetap menyala

setelah nama kita

tak lagi disebut

Baopukang, 19 Juli 2026

 

Di Antara Nafas dan Gelisah

 

Ayah

tak sanggup mataku memikul pemandangan ini

engkau terbaring

namun bukan tidur yang memelukmu

melainkan gelisah yang mengikat napasmu pelan-pelan

 

Di kelopak matamu yang tertutup

aku tahu ada perang yang tak pernah usai

antara tubuh yang ingin pulang

dan jiwa yang masih bertahan demi kami

 

Ayah

sunyi di ruang ini bukan lagi sunyi

ia berisik oleh detak yang terseret

oleh doa-doa yang patah di ujung bibirku

oleh takut yang kupeluk diam-diam

agar tak jatuh di hadapanmu

 

Aku ingin menjadi malam yang lembut

menyelimuti gelisahmu tanpa sisa

menarik seluruh sakitmu ke dalam diriku

lalu membiarkanmu tidur

dalam damai yang lama kita rindukan

 

Namun aku hanya anakmu, Ayah

yang belajar tegar dari retak wajahmu

yang mencoba percaya di tengah runtuh

yang menggenggam harap

meski ia tinggal sehelai napas

 

Jika esok masih membuka mata untukmu

biarlah itu jadi cahaya yang memulihkan

Jika tidak

ajarkan aku merelakan

seperti engkau dahulu mengajarkanku

cara berjalan tanpa takut jatuh

 

Ayah

di antara gelisahmu yang panjang ini

aku tak berhenti memanggil Tuhan

meski suaraku sering tenggelam

dalam air mata yang tak sempat jatuh

Pekanbaru, 5 Mei 2026

Sebelum Tuhan Menamai Cahaya

 

Sebelum cahaya menemukan namanya,

gelap telah lebih dahulu menghafal wajah manusia.

 

Kita lahir

bukan dari rahim waktu

melainkan dari luka

yang ingin menjadi harapan

 

Di dadaku

sebuah jam memakan jarumnya sendiri

Setiap detik

adalah darah yang belajar

menjadi doa

 

Aku bertanya kepada langit

namun langit menggantung sunyi

sebagai jawaban

 

Barangkali

Tuhan tidak menciptakan jalan

Kitalah

yang menciptakan arah

dengan keberanian berjalan

Baopukang, 15 Juli 2026

Batu yang Bermimpi

 

Ada batu

yang bermimpi menjadi burung

Ia menumbuhkan sayap

di dalam kesunyian

sementara manusia

mematahkan langit

dengan kesombongan

 

Laut menyimpan api

di dasar ombak

Pohon menulis kitab

dengan akar yang tak terlihat

 

Aku pun mengerti:

yang paling berat

bukan tubuh

melainkan ego

yang menolak menjadi debu

 

Sebab debu tahu

ke mana pun angin pergi

ia tetap pulang

ke tanah asalnya

Baopukang, 16 Juli 2026

Saat Doa Menggantikan Peluk

 

Ayah

hanya doa yang mampu kupanjatkan untuk sakitmu

sebab seluruh jalan pulang telah berubah

menjadi jarak yang tak bisa kupatahkan

 

Namamu kusebut dalam gelap

bukan lagi sebagai panggilan

melainkan sebagai pegangan

agar aku tidak runtuh sepenuhnya

 

Di sini, di rantau yang asing dan dingin

aku belajar bahwa ketidakmampuan

adalah luka paling sunyi

melihatmu menderita

tanpa pernah bisa hadir sebagai anakmu seutuhnya

 

Ayah

doaku bukan lagi kata-kata

ia adalah air mata yang tak sempat jatuh

ia adalah napas yang tersendat di antara takut dan pasrah

ia adalah jeritan yang kupendam

agar tidak mengganggu sepinya malam

 

Jika Tuhan berkenan mendengar

aku tak meminta mukjizat yang besar—

cukup sentuhan kecil di tubuhmu

cukup satu damai yang singgah di dadamu

cukup satu malam tanpa gelisah

 

Dan jika sakit itu harus tetap tinggal

ajarkan aku, Ayah

untuk kuat menanggung jarak ini

sebab yang paling menyakitkan bukan lukamu

melainkan ketidakmampuanku

untuk ada di sisimu

Baopukang, 6 Mei 2026

Kepergian Ayah di Perantauan

 

Di tanah rantau aku berdiri

ketika kabar itu jatuh tanpa suara—

ayah telah pulang

dan aku tak sempat menggenggam waktunya

 

Jarak menjadi luka yang paling sunyi

tak ada pelukan terakhir

tak ada bisikan lirih di telinga

hanya gemetar doa yang kupaksakan kuat

 

Ayah

maafkan anakmu yang jauh ini

yang tak mampu menjaga di ujung napasmu

yang hanya bisa menangis dalam diam

di kota yang tak mengenal duka kita

 

Langit di sini terasa lebih rendah

seakan ikut menunduk bersamaku

mengantar rindu yang tak sempat terucap

menuju rumahmu yang kini abadi

 

Ayah

jika langkahku tak sampai ke pusaramu hari ini

biarlah doaku yang tiba lebih dulu—

memelukmu dalam terang Tuhan

dan berbisik:

anakmu akan tetap berjalan

membawa namamu dalam setiap perjuangan

Pekanbaru, 7 Mei 2026

Aku Sedang Pulang, Ayah

 

Kaki ini ingin berlari pulang

mengejar waktu yang telah lebih dulu tiba

di rumah yang kini penuh doa

dan air mata yang tak sempat kubagi

 

Ayah, tunggulah sebentar

meski kutahu kau tak lagi di ambang pintu

aku ingin datang

meski hanya untuk memeluk tanah

yang menyimpan namamu

 

Di rantau ini aku tak lagi utuh

sebagian hatiku telah lebih dulu pulang

mengiringi kepergianmu

dalam diam yang panjang

 

Tuhan

kuatkan langkahku menuju rumah

biar setiap jalan yang kutempuh

menjadi doa yang sampai lebih dahulu

 

Ayah

anakmu ini sedang pulang

membawa rindu yang pecah

dan cinta yang tak sempat diucapkan

Jakarta, 7 Mei 2026

Damianus Ose Wotan, S.Ag, SH adalah seorang penulis dan pemerhati isu hukum, sosial serta pembangunan masyarakat pesisir. Lahir di Desa Baopukang, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT).

Aktif menulis puisi, opini, dan artikel yang mengangkat tema kemanusiaan, keadilan, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Selain berkarya di bidang literasi, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pelayanan Gereja Katolik.

Kini, ia tinggal di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sehari-hari mengajar di SLB Fajar Amanah Prawang, Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.