NABIRE, ODIYAIWUU.com — Pegiat literasi Alex Giyai mengingatkan Gubernur Meki Fritz Nawipa beserta jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah agar dalam setiap kebijakan terkait lembaga adat tidak fokus dan berhenti pada pendekatan administratif karena akan berujung sekadar simbol.
“Birokratisasi adat tanpa revitalisasi nilai, fungsi, dan kewibawaan lembaga adat berisiko menjadikan adat sekadar simbol, bukan sebagai kekuatan sosial yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Ketua Forum Pegiat Literasi Papua Tengah Alex Giyai di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Senin (20/7).
Menurut Alex, pihak forum bahwa masyarakat adat Papua memiliki sistem pemilihan kepala suku, sistem pengetahuan, hukum, bahasa, dan tata kelola yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, lanjutnya, setiap upaya penguatan atau revitalisasi adat secara kelembagaan harus diikuti dengan langkah konkrit untuk menghidupkan kembali peran adat dalam kehidupan masyarakat.
“Birokratisasi tanpa revitalisasi hanya melahirkan lembaga di atas kertas. Namun, yang dibutuhkan masyarakat adalah adat yang hidup, dihormati, dan mampu membimbing generasi muda,” kata Alex lebih lanjut.
Alex menambahkan, pihak forum mendorong pemerintah kabupaten dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk menjadikan revitalisasi adat sebagai bagian dari agenda pembangunan kebudayaan. Revitalisasi tersebut diakuinya dapat diwujudkan melalui sistem pemilihan kepala suku berdasarkan nilai adat.
Berikut berpijak pada penguatan bahasa daerah, dokumentasi pengetahuan lokal, pendidikan berbasis budaya, perlindungan wilayah adat, pembinaan generasi muda serta pemberdayaan para tetua adat sebagai sumber pengetahuan karena itu bagian dari literasi budaya dan adat.
“Aspek penting lainnya yaitu melibatkan masyarakat adat dalam setiap penyusunan kebijakan yang menyangkut kehidupan. Adat tidak cukup diposisikan sebagai pelengkap administrasi pemerintahan melainkan mitra strategis dalam membangun Papua Tengah yang berakar pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal,” kata Alex, jurnalis muda dan penulis produktif putra asli Papua.
Menurutnya, pihak Forum Pegiat Literasi Papua Tengah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, stakeholder untuk memastikan bahwa penguatan adat tidak sekadar menghasilkan struktur kelembagaan baru.
Namun, lebih dari itu menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, musyawarah adat, penghormatan kepada nilai-nilai adat-istiadat, pelestarian bahasa daerah serta pewarisan pengetahuan kepada generasi penerus.
“Adat yang hanya dibirokratisasi akan kehilangan ruhnya. Adat yang direvitalisasi akan menjadi fondasi yang kokoh bagi masa depan generasi dari beberapa suku yang ada di Papua Tengah,” ujar Alex. (*)










